10 September 2016

Misa Tahbisan Uskup Malang Mgr Pidyarto Gunawan


Monsinyur Henricus Pidyarto Gunawan OCarm baru saja ditabiskan sebagai Uskup Malang pada 3 September 2016. Stadion Gajayana Malang dipenuhi sekitar 20 ribu umat Katolik dari berbagai paroki di wilayah Keuskupan Malang yang meliputi sebagian kabupaten/kota di Jawa Timur.

Sebagai penahbis utama Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, yang juga ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno penahbis pertama dan Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin penahbis kedua. Misa pontifikal yang dihadiri 38 uskup se-Indonesia ini disupervisi langsung oleh Dubes Vatikan Mgr Antonio Guido Filipazzi.

Sejak pagi buta Stadion Gajayana sudah disterilkan. Akibatnya terjadi kemacetan parah di beberapa ruas jalan dekat stadion meskipun hari Sabtu. Apalagi jalan raya di Kota Malang ini masih sempit seperti yang dulu, sementara kendaraan bermotor begitu ramainya.

Saya pun jadi korban macet ini. Harus berurusan dengan panitia yang sangat ketat. "Mohon maaf Anda terlambat registrasi. Sudah tutup dari tadi," kata panitia di dekat lapangan tenis.

"Tapi misanya kan mulai jam 8.00. Masih satu setengah jam lagi," kata saya mencoba berargumentasi. "Maaf, aturannya memang begitu."

Omong punya omong, akhirnya ada solusi agar bisa masuk ikut misa tahbisan di Stadion Gajayana. Semua persyaratan harus dilengapi, ID card, pasfoto, surat keterangan dsb harus diserahkan ke panitia. "Tapi Anda hanya boleh berada di tribun. Tidak boleh turun atau mondar-mandir selama misa berlagsung," kata panitia.

Hehehe... asem! Gak apa-apa. Pokoke melu misa. Masak jauh-jauh dari Surabaya, harus pulang tanpa merasakan suasana misa pontifikal tahbisan uskup yang belum tentu diikuti umat Katolik seumur hidup itu.

Sejak SD di kampung kecil di Flores Timur saya sering diceritai betapa agung dan luar biasanya tahbisan Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa SVD di Stadion Ile Mandiri Larantuka. Saya hanya bisa membayangkan cerita para bapak di kampung itu.

Singkat cerita, Tasya, mahasiswi Universitas Widya Karya Malang, menemani saya masuk lokasi misa di stadion. Pemeriksaan ketat oleh polisi dan tentara. "Aturannya memang begitu," ujar Tasya.

Gadis ini kemudian membacakan tata tertib untuk saya. Ada 13 butir aturan yang wajib dipatuhi awak media. Di antaranya, duduk di tempat yang sudah ditunjuk, meminimalkan pergerakan, mematikan alat komunikasi, dilarang makan minum merokok (panitianya kok banyak yang minum dan makan roti?), harus pakai stiker gelang.

Puji Tuhan, saya akhirnya bisa mengikuti misa tabisan dari bagian depan tribun. Di sini kita justru bisa menyaksikan pemandangan yang lebih luas. Mulai ratusan pastor masuk, disusul 38 uskup, petugas keamanan, hingga ratusan pelajar yang bertugas membawa persembahan. Juga puluhan orang yang antre di depan toilet karena kebelet pipis.

"Seandainya saya tidak terlambat, saya tidak mungkin berkenalan sama kamu," ujar saya mencoba menggoda Tasya yang kelihatan terlalu serius. Nona manis yang galak ini pun tersenyum dan mulai cair... Teman-temannya Tasya juga punya tugas (LO) mengawal para pekerja media yang masuk terlambat.

Pukul 08.00 misa pontifikal dimulai. Paduan suara gabungan beberapa paroki di Kota Malang menunjukkan kelasnya meskipun lagu-lagu yang dipilih tidak ada yang sulit. Ordinarium Misa Kita IV karya Romo Antonius Soetanta SJ yang belakangan ini hampir selalu dibawakan tiap Minggu di Surabaya dan Sidoarjo. Lagu misa yang satu ini tergolong punya tingkat kesulitan tinggi di buku Puji Syukur dan Madah Bakti.

Upacara tahbisan uskup memang sangat megah. Tiga puluhan uskup itu secara bergantian menumpangkan tangan di atas kepala calon uskup baru dan mendoakan Romo Pidyarto yang dikenal sebagai profesor kitab suci di STFT Widya Sasana Malang itu. Kemudian penyerahan Alkitab, cincin sebagai lambang kesetiaan dan kesatuan umat Katolik, tongkat lambang tugas kegembalaan.

Penabis utama Mgr Suharyo lalu berdiri di samping kanan uskup baru, menghadap ribuan umat:

"Saudara-saudari terkasih. Keuskupan Malang kini mempunyai seorang uskup baru yang akan memimpin serta mempersatukan umat pada Kristus, memperhatikan keselamatan, hidup bersatu sehati sejiwa dalam suka dan duka dengan umat...."

Tepuk tangan panjang umat menyambut uskup baru, Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm, yang lahir di Malang, 13 Juli 1955. Para uskup se-Indonesia kemudian memberikat selamat kepada kolega terbaru mereka. Suasana makin haru ketika Mgr HJS Pandojoputero, Uskup Malang emeritus, sangat lama memeluk erat penggantinya.

Kondisi fisik Mgr Pandojo sangat lemah tapi kelihatannya "memaksakan diri" mengikuti tahbisan uskup penggantinya. Andaikan sehat, biasanya uskup lama (Mgr Pandojo) yang jadi penahbis utama. Uskup lama yang dulu bertugas di Paroki Jember ini (saya kenal baik) mengundurkan diri setelah menggembala umat Katolik di Keuskupan Malang selama 27 tahun.

Suasana pun makin cair. Penjagaan yang tadinya sangat ketat kian longgar. Meskipun Wakil Gubernur Jawa Timur Gus Ipul (Saifullah Yusuf), Wali Kota Malang Muhammad Anton, dan pejabat-pejabat lain masuk ke stadion. Duduk di deretan kursi orang sangat penting (VIP) tak jauh dari altar. Sekaligus mendengar kata sambutan Uskup Malang yang baru ditahbiskan.

Sementara itu, Tasya mahasiswi yang bertugas mengawasi wartawan-wartawan di tribun, memberi kode agar saya tidak merangsek ke bawah. Tunggu beberapa menit lagi. Saya pun memberi kode oke dengan mengacungkan jempol kiri.

Saya tidak mencatat atau merekam pidato Mgr Pidyarto. Tapi kira-kira beliau bilang begini. "Saya tidak pernah bermimpi jadi uskup. Tidak pernah memimpikan jabatan ini... Saya tahu jabatan penilik jemaat itu sangat berat," kata bapa uskup yang sudah menulis sedikitnya 15 buku itu.

Pria keturunan Tionghoa yang kakaknya juga seorang pastor, almarhum Romo Anton Gunawan (keduanya ditahbiskan sebagai pastor bersamaan pada 7 Februari 1982), merasa bahwa panggilannya sebagai pengajar. Tugas sebagai dosen kitab suci untuk para calon romo itu ia emban selama 30 tahun lebih. "Saya sebetulnya ingin lebih banyak menulis buku," katanya.

Tapi, mengutip Nabi Yesaya, rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, Romo Pidyarto mendapat tugas baru dari Takhta Suci Vatikan. Sebagai penilik jemaat alias uskup. Tanggal 23 Juni 2016 Romo Pid dipanggil ke Jakarta. Menghadap Dubes Vatikan untuk Indonesia Mgr Guido Filipazzi. Saat itu sang Nuntius secara resmi menyampaikan surat keputusan dari Paus Fransiskus di Vatikan.

"Saya bersedia," tutur Romo Pidyarto disambut tepuk tangan umat.

Ada tiga alasan yang membuatnya bersedia menerima tugas yang tidak pernah diimpikan itu. Pertama, "sebagai biarawan, saya takut menolak keputusan Paus. Sebab Tuhan sendiri yang memberi tugas."

Kedua, "Saya ingin meneladani Bunda Maria yang menjawab panggilan Tuhan dengan mengatakan, 'Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataanmu.'

Ketiga, "Saya tahu ada banyak orang yang akan mendukung dan mendampingi saya lewat doa dan sebagainya."

Uskup Malang yang baru ini kemudian secara khusus menyampaikan terima kasih kepada orangtuanya, Ibu Maria Magdalena Sri Wahyuni Prasetya dan Bapak Laurentius Hadijono Gunawan (almarhum), serta kedua kakaknya yang sudah dipanggil Tuhan. Mereka-mereka inilah yang telah menanamkan benih iman dan imamat hingga akhirnya menjadi seperti sekarang ini.

Selamat bertugas Mgr. Pidyarto!
Fideliter Praedicare Evangelium Cristi!

No comments:

Post a Comment