20 September 2016

Maestro Rudi Isbandi Kembali ke Pangkuan-Nya



Berita pendek ini membuat saya kaget. "Maestro seni rupa Pak Rudi Isbandi meninggal dunia hari Sabtu, 17 September 2016. Mohon dimaafkan segala kesalahannya."

Ciutan kecil dari Radio Suara Surabaya ini kemudian di-share ke para seniman, budayawan, wartawan, dan berbagai komunitas Surabaya. Selamat jalan Pak Rudi! Saya pun diam, berdoa sejenak. Sendiri. Sang pelukis senior Surabaya ini bertekun dalam dunianya, seni rupa, hingga buku hidupnya tamat.

"Seniman rupa itu tidak kenal pensiun. Saya harus berkarya sampai selesai. Saya bahkan sudah punya rencana untuk 20 tahun ke depan," kata Rudi Isbandi kepada saya di rumah sekaligus museumnya di Karangwismo I Surabaya sekitar lima tahun lalu.

Eyang Rudi ini bukan seniman atau pelukis biasa. Sejak 1970an dia dikenal sebagai kritikus seni papan atas di Surabaya. Tulisan-tulisannya tajam, enak dibaca, tapi juga bisa nyelekit. Bisa membuat seniman yang karyanya dikritik sakit hati.

"Kalau pelukis yang itu sih perlu belajar lagi. Pelukis X itu lukisannya masih kelas anak-anak. Pelukis Y sudah tua tapi gak aa kemajuan. Pelukis-pelukis kita kebanyakan masih asyik dengan dua dimensi..," begitu antara lain komentar Pak Rudi Isbandi sambil tersenyum.

Di atas meja ada pisang kepok goreng yang enak banget. Buatan sang istri, Sunarti, yang lebih dulu meninggal dunia. Yang kemudian mengubah hidup sekaligus Museum Seni Rupa Rudi Isbandi di Karangwismo itu. Pasangan suami-istri itu begitu mesra kayak remaja yang lagi mabuk cinta. Saling pangku, cium, lalu saya jepret.

"Saya tidak akan tahan kalau sehari saya jauh dari Ibu (Sunarti). Ibu ini hadiah istimewa Tuhan untuk saya," katanya dengan kalimat yang enak, mirip artikel-artikelnya di koran atau buku.

Begitulah. Diskusi atau kritik yang seru tentang seni rupa (juga kesenian umumnya) sering diselingi obrolan ringan seputar kemesraan Rudi Isbandi-Sunarti. Sang istri mengajar di IKIP Surabaya (sekarang Unesa), sementara Rudi Isbandi taat menjalani laku kesenian. "Silakan ditulis omongan saya. Tapi tolong dipilah agar tidak membuat teman-teman tersinggung," katanya.

Biasanya kritikan tajam mengenai seniman tertentu saya simpan saja di kepala. Sekadar referensi belaka. Tapi kadang Rudi Isbandi bicara langsung di seminar-seminar. Dengan bahasa dan gaya yang lebih halus. Karena itulah, beliau sengaja membangun museum seni rupa dengan biaya ratusan juta (mungkin miliaran) hasil melukisnya sejak 1950an. Untuk menunjukkan perkembangan gayanya mulai awal melukis hingga jadi begawan sepuh.

"Siapa saja silakan datang ke museum saya," kata Rudi Isbandi saat peresmian museum yang sangat ramai pengunjung.

Sayang, museum bagus ini tidak bisa bertahan lama. Kepergian Bu Sunarti memuat Pak Rudi goyah. Energinya yang meluap-luap sepertinya layu seketika. Pak Rudi pun ikut anaknya ke Jakarta. Museum di Surabaya mangkrak. Beberapa kali saya mampir ke museum plus rumah itu yang tak lagi berpenghuni. Kliping-kliping koran masih terpampang di dinding teras.

"Rumah itu mau dijual," kata seorang warga Karangwismo.

Sejak itu saya tak lagi bertemu dengan sang begawan seni rupa itu. Kangen rasanya mendengar uraian seni rupa, budaya Jawa, hingga seni instalasi yang jadi kegandrungannya di masa senja. Juga kegemarannya jalan kaki tanpa tujuan, tanpa rencana, blusukan ke mana saja.

"Saya sering menghirup bau sampah di kampung-kampung pemulung. Itu jadi inspirasi sendiri bagi saya," katanya.

Sang begawan itu telah kembali!
Selamat jalan Pak Rudi!

No comments:

Post a Comment