24 September 2016

Ahok anak Tuhan! Yang lain anaknya siapa?

Kantor pusatku di pecinan Surabaya. Persis di muka gapura Kya Kya Kembang Jepun yang terkenal itu. Pecinan, kota tua ini terlihat ramai dan semrawut. Begitu banyak bangunan tua yang dibiarkan berlumut. Bahkan ditumbuhi tanaman-tanaman liar macam beringin.

Aroma hio, dupa Tionghoa, menjadi bumbu penyedap obrolan di warung kopi atau depot makanan. Sesekali saya ngopi di depot milik orang Tionghoa di salah satu sudut pusat Chinatown itu. "Ahok itu anak Tuhan lho," ujar seorang pria Tionghoa 60an tahun.

Kaget juga mendengar pancingan baba ini. Anak Tuhan! Istilah yang biasa dipakai di kalangan kristiani, khususnya jemaat lahir baru.

"Kok bisa disebut anak Tuhan? Ahok anak Tuhan, kita semua anak Tuhan. Semua manusia juga anak Tuhan. Sebab manusia itu ciptaan Tuhan. Bukan Ahok thok yang anak Tuhan," ujar saya sekenanya. Serius dan setengah guyon.

Saya tidak menyangka kalau Tionghoa berkacamata ini jemaat gereja reborn alias Haleluya. Selama beberapa bulan saya pikir dia tipe Tionghoa khas pecinan yang dekat dengan Kwan Im, Kwan Kong, kue bulan, kue keranjang, sincia, kelenteng dsb. Ternyata saya keliru.

"Anda kan Kristen. Masa nggak ngerti anak Tuhan," ujarnya sengit. Kelihatannya dia agak marah karena pernyataan awalnya saya redam. Dia pikir aku ini serani yang satu aliran dengan dia.

Saya pun diam. Lalu bapak ini membeberkan beberapa omongan dan aksi Ahok gubernur Jakarta. Untuk membuktikan bahwa Ahok itu benar-benar orang Kristen yang salah. Cocok dengan julukan anak Tuhan itu tadi.

"Persoalan Jakarta itu ruwet. Sistemnya harus ditata. Penduduknya sudah jauh melebihi ambang batas," kata saya memancing.

"Tapi saya yakin Ahok bisa. Dia itu anak Tuhan... Kalau anak Tuhan yang pimpin... maka Tuhan juga yang akan kasih jalan," katanya.

Lalu beliau memamerkan kebolehannya mengutip ayat-ayat Alkitab. Tentang pentingnya seorang pemimpin yang memeritah dengan kebijaksanaan dsb dsb. Obrolan pun berubah jadi ceramah kayak di persekutuan doa. Bapak ini cocok jadi tukang khotbah... kalau jualan makanannya seret.

Saya pun minta diri. Sejak itu saya tak lagi mampir ngombe kopi di depot itu. Takut diceramahi soal anak Tuhan, hukum tabur tuai, hujan berkat, memenangkan jiwa-jiwa dsb. Tema obrolan yang sangat berbeda jauh dengan di warkop-warkop lain yang kebanyakan bahas sepak bola atau Bu Wali Kota.

Minggu ini Ahok, Djarot, Anies, Sandiaga, Agus Yudhoyono, Sylviana mendaftarkan diri ke KPU sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Semuanya anak Tuhan. Semuanya ciptaan Tuhan. Siapa yang bakal menang itulah suara Tuhan.

Suara rakyat suara Tuhan!

2 comments:

  1. Bung Hurek, Anda seorang yang santun dan berbudipekerti.
    Ketika anak2 saya masih kecil, biasalah anak kecil bertengkar. Tetapi cara bertengkar mereka lain dengan cara pertengkaran kita di Indonesia. Mereka berdebat saling mengajukan argument. Jika salah satu ngotot mau menang sendiri, maka yang lainnya akan diam dan ngacir,
    sambil mengguman: Yo wis, sing pinter dan waras mengalah !, seperti halnya Bung Hurek yang tidak sudi meladeni encek edan kuwi.
    Saya sungguh heran, koq Tionghoa zaman sekarang beraninya minta ampun terhadap kaum pribumi.
    Di-Era tahun 5O-an, post era kolonial, kita anak2 Tionghoa masih berani cekcok melawan anak2 pribumi.
    Di-Era tahun 6O-an, situasi sudah berubah, cekcok sedikit, langsung ancaman dan makian sara terlontar. Jadi saya pribadi sebagai cino-kafir lebih baik mengalah, sebab memahami diri saya sebagai WNI-Kelas 4.
    Lha koq Bung Hurek bersikap sebaliknya ! Salut kepada Anda yang pinter dan waras !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. iki cuma curhat aja. Ahok ini fenomenal.. terlepas dari plus minusnya. Sering dibahas di luar Jakarta yg gak ada kaitan dengan pemilihan gubernur Jakarta.

      Delete