30 August 2016

Umat Katolik Krian bangun gereja baru

Di lingkungan Katolik, Stasi Krian ini tergolong unik. Pertama, meski berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, gerejanya masuk Paroki St Yosef Mojokerto. Stasi atau wilayah gereja di luar paroki induk ini bahkan meliputi beberapa kecamatan di Kabupaten Gresik. Sebab, Krian dan Gresik itu hanya dipisahkan Sungai Brantas yang terkenal itu.

Kedua, meski cuma berstatus stasi (semacam gereja desa di NTT), Stasi Krian ini punya banyak prestasi. Paduan suaranya justru sering mengungguli kor-kor di wilayah pusat kota. Muda-mudi, misdinar, Legio Maria, dsb pun sangat maju. Tak beda jauh dengan paroki besar di Kota Surabaya. Baru-baru Stasi Krian jadi juara pertama lomba paduan suara antarwilayah dan stasi di Paroki Mojokerto.

Ketiga, meski cuma stasi, tidak punya gereja permanen, panggilan hidup membiara di Stasi Krian tergolong subur. Sudah banyak pastor dan suster yang berasal dari Stasi Krian. Umat Katolik yang awam pun sangat aktif dalam kegiatan liturgi dan kemasyarakatan.

Keempat, untuk ukuran stasi, umat Katolik di Krian ini sangat banyak. Sekitar 2000 jiwa. Padahal biasanya stas di Jawa Timur itu umatnya kurang dari 200 jiwa atau 100an jiwa. Bahkan banyak stasi yang umat Katoliknya tidak sampai 50 orang.

Kelima, umat Katolik di Krian cukup heterogen layaknya di perkotaan. Ada Tionghoa, Jawa, Batak, Flores dsb. Khas perkotaan. Mungkin karena banyak industri dan perumahan di sekitar situ. Sejak dulu orang Tionghoa sudah ada. Ini terlihat dari kelenteng tua TITD Teng Swie Bio di pinggir sungai kecil. Anehnya, Krian tidak punya gereja katolik yang permanen.

Bandingkan dengan Porong yang umatnya sedikit, makin sedikit gara-gara musibah lumpur Lapindo, tapi gereja stasinya bagus dan cukup luas. Atau beberapa kecamatan di Jember yang juga punya gereja stasi bagus. Nah, umat Katolik di Krian terpaksa mengikuti misa mingguan di gereja semipermanen berkapasitas 200an orang saja.

Mengapa tidak membangun gedung gereja yang memadai? Cukup luas untuk mengakomodasi 2000an umat Katolik itu?

Ceritanya agak panjang. Dan gak enak. Akhir 1990an sempat mencoba bangun gereja yang bagus. Lahan pun cukup luas. Tapi di tengah jalan terhenti karena diprotes masyarakat setempat. Selain itu, ada masalah internal dan eksternal lain yang membuat bangunan ini hanya selesai 80 persen. Mangkrak sampai sekarang.

Umat Katolik di Krian dan sekitarnya kemudian rajin berdoa, novena, dsb agar diberi jalan mendirikan gereja. Beberapa romo dari Paroki Mojokerto dan pengurus stasi mengusahakan
Izin mendirikan bangunan (IMB). Tapi ya tidak mudah. Tunggu punya tunggu, di era Romo Agustinus Eko Wiyono selaku Pastor Paroki Santo Yosef Mojokerto, izin super penting itu akhirnya turun.

Theresia Alfa Suryanti, umat Stasi Krian, menulis:

"Tidak terkira rasa syukur dan bahagia kami semua. Tuhan mengabulkan doa kami. Dalam setiap perayaan ekaristi, para imam yang saat ini berkarya di Paroki Mojokerto (Romo Eko dan Romo Teddy selaku pastor rekan) dengan kompaknya selalu mengajak umat untuk terus berdoa mohon belas kasih dan kemurahan Tuhan demi sebuah perubahan. Banyak yang berdoa ada pula yang berusaha, semua bekerja sama bahu-membahu. Umat terpacu dengan melihat kegigihan pastor parokinya yang energik dalam berjuang tidak mengenal lelah."

Setelah berbagai urusan beres, Minggu 26 Juni 2016 dimulai kegiatan pembongkaran bangunan lama yang bertahun-tahun jadi gereja stasi. Sekaligus awal pembangunan gereja baru: Gereja Stasi Kebangkitan Kristus Krian, Kabupaten Mojokerto. Selama masa pembangunan, perayaan ekaristi diadakan di aula SDK St. Yustinus de Yacobis Krian. Kebetulan lokasinya berdempetan dengan gereja lama yang sudah dibongkar itu.

Minggu, 31 Juli 2016, malam hari, diadakanlah selamatan, tumpengan, pembangunan gereja bersama masyarakat sekitar. Hadir pula pejabat-pejabat penting Kecamatan Krian dan para wong cilik seperti tukang becak dsb. Ini penting karena proses pembangunan gereja ini masih sangat panjang. Restu dan permisi dari warga sekitar yang bukan Katolik atau Protestan jadi kunci sukses keberhasilan mendirikan gereja di wilayah barat Kabupaten Sidoarjo. Kasus dulu itu menjadi bahan pelajaran yang terlalu mahal nilainya.

Senin, 1 Agustus 2016, peletakan batu pertama diawali ibadat sabda dipimpin oleh Romo Eko selaku pastor paroki, didampingi Romo Endro dan Romo Teddy selaku pastor rekan. Tujuh batu pun diletakkan di acara ground breaking itu.

Kapan peletakan batu terakhir alias peresmian? Masih lama banget. Tidak ada yang bisa memastikan... kecuali Tuhan.

No comments:

Post a Comment