07 August 2016

Stasi Krian Juara Lomba Kor Paroki Mojokerto



Stasi Krian, Sidoarjo, menjadi juara pertama lomba paduan suara antarlingkungan dan stasi di Paroki Santo Yosef Mojokerto. Menarik! Karena sejak dulu hampir tidak ada stasi yang menang dalam lomba paduan suara di lingkungan Gereja Katolik.

Biasanya kor-kor di perkotaan yang juara. Stasi itu identik dengan wilayah gereja perdesaan. Umatnya sedikit. Bangunan gereja sering tidak ada. Perayaan ekaristi lazimnya diadakan di salah satu rumah jemaat atau nunut di sekolah Katolik (kalau ada). Jangankan bikin kor campur sopran alto tenor bas (SATB), sekadar menyanyi bersama, unisono, saja stasi-stasi ini selalu kesulitan.

Stasi Krian misalnya. Misa mingguan masih nunut di sekolahan Katolik. Bedanya dengan stasi-stasi lain, umat Katolik di Stasi Krian sudah mendekati 2000 jiwa. Sudah bisa jadi sebuah paroki kecil. Paduan suaranya pun sudah setingkat paroki di kota.

Meskipun berada di Kabupaten Sidoarjo, Stasi Krian masuk Paroki Mojokerto karena lebih dekat. Bukan Paroki Sidoarjo. Selain Krian, Paroki Mojokerto ini punya Stasi Mojoagung, Stasi Pacet, dan Stasi Randegan.

Kembali ke lomba paduan suara. Ada 17 peserta yang mengikuti festival musik liturgi itu. Termasuk empat stasi itu. Lagu wajib dan lagu pilihan sangat sederhana. Alias partitus level A versi Pusat Musik Liturgi (PML). Komposisi kelas A adalah partitur yang paling mudah sehingga bisa dibawakan hampir semua orang dengan sedikit latihan.

Sebagai perbandingan, Halellujah Handel itu masuk level C atau D. Cukup sulit kalau bukan kor berintikan penyanyi-penyanyi profesional. Himne Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa masuk kelas A. Lagu Bumiku Indonesia yang biasa jadi lagu wajib lomba paduan suara mahasiswa di Jawa Timur (dulu) kelas D.

Nah, Stasi Krian ini memilih lagu Terimalah Ya Bapa Terimalah... sebagai lagu pilihan. Lagu persembahan ciptaan Frans Sega dari Flores yang sangat terkenal di kalangan umat Katolik di Indonesia. Dirilis bersama buku Madah Bakti pada 1980 dan masih dipertahankan di Puji Syukur sampai sekarang.

Begitu sederhana, begitu sering dibawakan di gereja-gereja. Sehingga kita kadang bosan dan kehilangan kepekaan untuk menikmati keenakannya. Mendengar kor Stasi Krian membawakan lagu ini: "Terimalah roti anggur.. persembahan diri kami"... bulu kuduk serasa merinding.

Komposisi sederhana itu dinyanyikan dengan hati. Menyanyi untuk memuji Tuhan, yang konon sama dengan berdoa dua kali. Bukan semata-mata menyanyi untuk dapat nomor. Kalaupun akhirnya menang, juara satu, itu cuma bonus. Kebetulan dewan juri (Agapitus Sismadi, PM Dominico Odjan, Indro Cahyono)menentukan begitu.

Dalam 10 tahun terakhir ada kecenderungan lomba atau festival paduan suara mengutamakan lagu-lagu sulit, level D bahkan F. Kor-kor mahasiswa dan SMA, juga anak, sering tampil di luar negeri. Sayang, mereka cuma bagus ketika ikut lomba. Ketika kembali ke gereja, mereka melempem lagi. Tidak asyik ketika membawakan lagu-lagu liturgi di Puji Syukur, Madah Bakti, dan sebagainya.

Saya sendiri sejak dulu menganjurkan kor-kor di lingkungan Katolik untuk lebih serius menggarap komposisi umum di buku liturgi. Ketimbang menghabiskan waktu berhari-hari untuk melatih satu dua partitur sulit level C/D tapi mengabaikan tujuh atau delapan lagu biasa.

Kesederhanaan, simplicity, itu kadang lebih indah daripada keruwetan!

1 comment:

  1. Semoga stasi Krian tetap guyub apalagi saat ini kami sedang membangun gereja yang baru setelah penantian yang lama, akhirnya terkabul doa kami.. bantu doa ya bro, thanks

    ReplyDelete