20 August 2016

Soe Tjen Marching mudik ke Surabaya

Betapa sibuknya teman lama yang satu ini. Mudik ke kampung halaman Surabaya, daerah Putroagung dekat Kenjeran, jadwal Soe Tjen Marching PhD sangat padat. Diskusi di Malang, Surabaya, Jakarta, dan entah di mana lagi.

Topik diskusinya pun sudah pasti berat-berat. Masalah 1965, hak asasi manusia, LGBT, pendidikan, hingga majalah Bhinneka yang isinya unik dan cenderung anti-mainstream itu. Saya pun mampir menemui Soe Tjen di rumahnya yang juga kompleks Sekolah Mandala.

Alumnus Sinlui Surabaya yang mengajar di London Inggris ini senyum merekah. Kelihatan segar meski belum mandi. Tubuhnya lebih gemuk setelah berhasil berjuang melawan kanker. Perutnya pun agak buncit. Beda banget dengan potongannya selama ini.

"Ada makanan Manado... enak lho. Kamu coba ya?" katanya ramah.

Bu Juliana Soesilo, ibunda Soe Tjen, sastrawan dan guru bahasa Mandarin lulusan Fujian Tiongkok, ikut sibuk di dapur. Agar saya bisa mencicipi masakan khas Manado buatan Surabaya itu. Tapi saya sudah kenyang. Habis sarapan di pujasera dekat lapangan bola itu.

"Saya senang banget masakan Manado... tapi dibungkus aja. Soale aku kekenyangan," kata saya. Soe Tjen kaget. Dia sibuk cari wadah untuk masakan Manado yang pancen maknyuss itu.

Soe Tjen dan mamanya plus saya sudah saling mengenal. Karena itu, obrolan di ruang keluarga itu berlangsung gayeng. Topiknya ringan saja. Mulai soal penanganan sampah di Inggris, ongkos orang bule memotong pohon... begitu-begitulah. Tidak ada tema serius seperti tulisan-tulisan Soe Tjen di The Jakarta Post, Tempo, atau media sosial yang berat dan sangat kritis.

Soe Tjen yang terkesan sangar di media massa, pernah diteror ormas radikal, kali ini terasa lembut si rumah. Sibuk ria di dapur dan melayani tamu (saya) layaknya ibu rumah tangga biasa aja. Dia ini tipe orang yang biasa mengerjakan sendiri apa saja yang bisa dikerjakan. Tidak mengandalkan pembantu.

Bagaimana dengan Bhinneka? Soe Tjen bilang waktunya banyak dihabiskan untuk mengurus majalah itu. "Kondisinya agak berat. Gak bisa lagi dibagikan gratis," katanya.

Dulu memang ada donatur alias penyandang dana. Rupanya kerja samanya sudah selesai. Soe Tjen yang harus jalan sendiri bersama kawan-kawannya. "Tapi Bhinneka saya usahakan tetap terbit," tegasnya.

Di era internet ini sebetulnya Bhinneka bisa terbit dengan edisi online. Selama ini juga sudah ada. Tapi berdasar pengalaman, Soe Tjen menganggap edisi cetak masih sangat penting di Indonesia. Meskipun ongkos cetak itulah yang banyak menguras kas Bhinneka.

Asyik memang ngobrol Soe Tjen. Walaupun lebih banyak menghabiskan umur di Australia dan Inggris, gaya khas arek Surabaya tetap kental. Bahasa Indonesianya pun tidak berlumur kata-kata English yang tidak perlu. Beda banget dengan kita-kita-kita di tanah air yang doyan nginggris.

"Saya mau kasih seminar untuk guru-guru di sini bagaimana mengajar bahasa Inggris secara efektif," kata Soe Tjen.

Sebetulnya saya ingin lebih banyak ngobrol dengan kawan lama ini. Tapi saya tahu agendanya sangat padat. Sementara masa cutinya di Indonesia tinggal beberapa hari lagi. Maka saya pun pamit.

Terima kasih atas masakan Manadonya! Selamat berjuang untuk kebaikan bangsa Indonesia!

No comments:

Post a Comment