25 August 2016

Saatnya bulutangkis Indonesia berjaya lagi

Hegemoni Tiongkok di jagat bulutangkis dunia seperti sudah berakhir. Hasil Olimpiade Rio 2016 kemarin dengan gamblang memperlihatkan perubahan peta badminton dunia. Tiongkok cuma dapat dua medali emas. Tidak lagi memborong 5 emas.

Siapa yang menyangka kalau medali emas tunggal putri direbut Spanyol? Saya bahkan belum pernah melihat wajah Carlina Marin di televisi. Di final si Marin mengalahkan Pusaria Sindhu dari India. Wajahnya seperti apa? Aku juga belum tahu.

Selama bertahun-tahun saya mengira Tiongkok sulit, bahkan hampir mustahil, dikalahkan di tunggal putra dan putri. Pemainnya berlapis-lapis. Semuanya ciamso, ciamik soro, kata orang Tionghoa Surabaya. Permainan Li Xuerui enak ditonton. Tapi di Rio 2016 Nona Li tidak berkutik karena cedera lutut.
Di tunggal putra Tiongkok masih berjaya. Chen Long dapat emas. Tapi Lin Dan sudah pasti pensiun karena usia. Begitu pula Chong Wei jagoan Malaysia saatnya gantung raket karena fisiknya tak sebagus 10 tahun lalu.

Di sisi lain Malaysia mulai muncul bakat-bakat bagus di olahraga kebanggaan orang Indonesia dan Malaysia ini. Bayangkan, Malaysia menempatkan tiga wakil (dari total lima) di partai final olimpiade Rio 2016. Meskipun tak satu pun berbuah emas, kekuatan Malaysia tak bisa diremehkan. Kalau dibina dengan baik, Malaysia akan jadi kekuatan baru.

Indonesia lumayan dapat satu emas dari Tontowi/Liliyana di ganda campuran. Tapi kita belum bisa disebut luar biasa. Pemain-pemain muda sangat banyak. Akhir-akhir ini gairah bermain bulutangkis daerah mulai tumbuh meskipun tidak seheboh era 80an dan 90an. Di Sidoarjo muncul beberapa klub badminton baru yang punya gedung olahraga sendiri.

"Kita investasi untuk mencetak atlet-atlet dunia di masa depan. Insya Allah, beberapa tahun mendatang ada pemain Sidoarjo yang jadi andalan Indonesia," kata HM Thorieq pemilik dan ketua Fifa Badminton Club Sidoarjo kepada saya.

Saya sering diskusi soal bulutangkis dengan Pak Thorieq yang memang gila bulutangkis. Saat ini pemain Fifa Sidoarjo jadi andalan Jawa Timur untuk tunggal putri PON 2016 di Jawa Barat. Ada juga beberapa pemain Sidoarjo yang melejit di sirkuit nasional meskipun belum juara. Syukurlah, Fifa Sidoarjo ini didukung legenda badminton kita, Haryanto Arbi, Icuk Sugiarto, dan Rexy Mainaky.

Saya kira inilah saat terbaik bagi Indonesia untuk mengembalikan kejayaan di cabang bulutangkis. Mumpung Tiongkok lagi goyang. Mumpung Li Yongbo, pelatih nasional Tiongkok, sedang dikecam rakyat negeri panda itu karena dinilai gagal di Rio 2016.

Li Yongbo mengatakan situasi yang dihadapi Tiongkok saat ini sebagai siklus biasa dalam dunia olahraga. "Indonesia dan Denmark juga pernah mengalaminya," kata Li Yongbo seperti dikutip South China Morning Post.

Mudah-mudahan segera muncul bintang-bintang bulutangkis Indonesia yang berjaya dalam lima tahun ke depan. Sebelum pemain-pemain Tiongkok kembali merajalela seperti era Li Yongbo, Yang Yang, Han Aiping... hingga Lin Dan.

No comments:

Post a Comment