09 August 2016

Khotbah kebersihan tidak mempan

Orang beriman tidak mungkin buang sampah di sini!

Begitu tulisan di pinggir jalan raya Pondok Candra Waru Sidoarjo. Tepat di bawah jalan tol di perbatasan Sidoarjo-Surabaya itu.

Saya hanya tersenyum pahit saat melintas dengan sepeda tua pagi ini. Kok sampah masih berserakan di tanah kosong Desa Tambaksumur Kecamatan Waru itu. Di kompleks ruko kiri kanannya pun tidak bersih.

Hem... padahal baru saja Piala Adipura Kirana diarak keliling Sidoarjo. Tiap tahun Sidoarjo menang Adipura karena dianggap kota yang paling bersih di tanah air. Pejabat pemkab juga bangga karena Sidoarjo jadi tempat studi banding kabupaten/kota lain untuk tempat pengolahan sampah terpadu.

Kok masih banyak sampah berserakan ya? Di mana petugas kebersihan kampung, desa, kecamatan DKP kabupaten? Dan ini bukan saja di Kecamatan Waru. Di kawasan lain pun sama saja. Bahkan lebih parah ketimbang di Pondok Candra Waru yang mepet Surabaya ini. Lah, yang mepet Surabaya aja kayak gini, apalagi yang jauh dari pantauan orang banyak.

Kebersihan adalah bagian dari iman! Slogan yang artinya sama dengan spanduk di atas. Orang beriman pasti tidak buang sampah sembarangan. Yang buang sampah pasti orang yang tidak beriman!

Hehe... bagus juga sih untuk mengajak warga hidup sehat dan bersih. Bahasa agama dibawa-bawa biar lebih mempan. Tapi kenyataannya ya tidak juga. Persoalannya bukan beriman atau tidak beriman. Ini bukan masalah agama Bung! Ini masalah manajemen pengelolaan sampah.

Begitu banyak spanduk imbauan dilarang buang sampah di seluruh Kabupaten Sidoarjo. Lengkap dengan ancaman denda minimal Rp 500 ribu. Ada juga ancaman ditangkap ke kantor desa. KTP ditahan dan sebagainya. Tapi juga tidak mempan. Bahkan biasanya desa-desa yang suka menebar ancaman justru banyak sampahnya.

Yang masih jadi masalah besar adalah ini: belum disediakan tempat-tempat sampah di pinggir jalan. Orang tentu kesulitan membuang bungkus-bungkus makanan, kulit buah, dsb. Apa boleh buat, lahan-lahan kosong terpaksa jadi tempat penampungan sampah tidak resmi.

Petugas kebersihan dari desa sampai kabupaten mestinya tanggap. Harus ada solusi yang nyata. Memasang imbauan dengan bahasa iman, ayat suci, dsb terbukti tidak efektif di lapangan.

Singapura yang bersih niscaya bukan karena penduduknya sangat beriman. Tiongkok yang komunis tentu tidak paham ayat suci. Negara-negara Barat yang kotanya bersih dan teratur pun jelas sangat sekuler. Gereja sudah lama kosong di Barat.

Mengapa kota-kota mereka yang tidak beriman itu sangat bersih? Itu yang perlu kita pelajari dan contohi. Sebab kebersihan tidak akan bisa diwujudkan dengan khotbah.

7 comments:

  1. Penyebab masalah sampah telah Bung Hurek uraikan secara gamblang dengan tulisan Anda diatas.
    Ergo; Kesalahan utama terletak di pemerintah dan para pejabatnya. Kedua barulah kesalahan terletak pada rakyat.
    Seorang anak perempuan saya, ketika itu berusia 12 tahun, memelihara seekor anjing herder. Anjing itu tidak mau berak atau kencing didalam rumah atau dikebun kita sendiri. Jadi anjing itu setiap hari 3X minta keluar untuk membuang hajat.
    Anak saya selalu membawa sekop plastik kecil, kantongan plastik dan kertas koran gunanya untuk mengumpulkan dan membungkus taek-asu, jika dia keluar dengan anjingnya.
    Suatu malam saya menemani dia keluar bersama si-asu. Ketika anjingnya selesai berak dijalan, biasalah anak-saya membungkuk untuk mengumpulkan taek-asu-nya. Saya bilang ke-dia : Sudahlah biarin saja taeknya dijalan, toh sudah gelap dan tidak ada orang lain yang lihat.
    Anak saya agak marah dan berkata; Papa kenapa engkau mengucapkan kalimat begitu ! Bagaimana kalau ada orang lewat tidak sengaja menginjak taek itu, khan kasian dianya. Engkau maukah dibegitukan orang lain ?
    Lha wong bapaknya bekas Bonek, ya jawabannya seperti Suroboyoan.
    Jawabku : Ya salahnya dia sendiri tho ! Dhuwe moto opo neker !
    Anakku mangkel dan geleng2 kepala, menggerutu:
    Jika semua orang pikirannya seperti engkau, akan hancurlah dunia ini !
    Perlu saya tekankan, anak perempuan itu tidak beragama !!! Ergo tidak beriman !!! Sedangkan bapaknya bolak-balik masuk Klenteng, Pura-Hindu,
    Langgar dan pernah disekap diasrama Katholik tahunan !
    Betapa pentingnya pendidikan Etika dan Moral atau Budipekerti disekolah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe... komentare menggelitik bikin ketawa sendiri. Begitulah yg terjadi di indonesia. Terlalu banyak retorika dan khotbah bagus2 tapi sulit dilaksanakan dalam kehidupan nyata. Mulai soal kebersihan, lalu lintas, hingga pengelolaan negara. Makanya jangan heran kalau pejabat kita banyak yg korupsi. Bahkan katanya kementerian agama itu justru paling banyak korupsinya. Lah wong menteri agama yg dulu masuk penjara krn korupsi...

      Delete
  2. Di Indonesia pendidikan budi pekerti digantikan dengan pendidikan moral pancasila dan agama. Ternyata tidak mempan. Katanya demokrasi Pancasila itu lebih tidak indivualistis. Ternyata bagi saya yang pernah tinggal di Indonesia selama 20+ tahun di sana dan 20+ tahun di negara yg disebut paling kapitalis dan individualistis, di sini masyarakatnya jauh lebih peduli kpd ruang publik, kenyamanan dan keselamatan orang lain dibandingkan di Indonesia. Maaf, ini hanya pengamatan saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengamatan sampean gak salah. Dan itu sudah beberapa kali saya bahas di sini. Gak usah jauh2. Sekarang ini kita sangat sulit menyeberang di jalan raya di surabaya atau sidoarjo karena pengendara motor dan mobil tidak akan melambatkan laju kendaraan. Bahkan menyeberang di zebra cross juga sulit. Pengendara sama sekali tidak mau menghormati manusia... kecuali kucing. Kualat kalo nabrak kucing.

      Minggu lalu ada mahasiswi ditabrak di Jakarta saat menyeberang jalan. Mati! Pokoknya lalu lintas kita 90 persen penuh kendaraan pribadi tapi minus tata krama.

      Kebersihan lebih parah lagi. Kakus atau toilet umum pasti jorok. Petugas cuma mau nampung uangnya tapi gak mau bersihkan wc di terminal dsb.

      Toilet yg bersih itu pasti di hotel berbintang. Kenapa? Karena dikelola pakai sistem amerika dan eropa. Gak pake ayat2 suci, imbauan moral dsb dsb. Cukup dipajang foto dan nama karyawan yg bertanggung jawab... dan dibayar secara layak tentu. Kebersihan WC ya tanggung jawab petugas yg fotonya dipasang itu. Bukan tanggungjawab kita bersama. Kalau tanggung jawab kita bersama pasti jorok karena tidak akan ada yg mau bersihkan.

      WC hotel jorok! Ya karyawan itu yg dipecat. Cari karyawan baru...

      Delete
    2. Sebenarnya budaya barat yang terlalu kapitalis pun tidak bagus. Alam menjadi rusak; dan bila sumber alam di negerinya sendiri sudah habis, alam di negera lain yang masih berkembang yang ganti dieksploitasi habis-habisan (contohnya Freeport, pemangkasan hutan-hutan di Sumatra dan Kalimantan). Dan berakibat pada pemanasan global yg mungkin menjadi sebab berakhirnya peradaban manusia. Mungkin lebih bagus jika kita kembali hidup seperti orang desa, bertani, bercocok tanam saja dan hidup tanpa kemewahan dunia modern. Alternatif lainnya jika ingin terus mengembangkan ekonomi tanpa emisi karbon dioksida hanyalah dengan mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Wah, ini merambat ke mana2.

      Delete
    3. Memang merambat ke mana2 karena selalu ada kaitan erat. Hilangnya tata krama di jalan.. kendaraan pribadi yg eksesif.. kebersihan.. peduli sesama.. penyakit jiwa.. stres dsb. Orang desa di pelosok terpencil pun sudah berubah dibandingkan era 90an. Karakter masyarakat sudah makin kota.. uang jadi orientasi.

      Dulu ketika saya SD di kampung, pengendara motor pasti mengajak orang yg jalan kaki untuk dibonceng di belakang. Antar sampai rumahnya. Gratis. Sekarang tidak ada lagi yg ngajak kecuali tukang ojek. Nebeng sepeda motor ya bayar...

      Delete
    4. Ya ya ya. Bung Hurek, sekarang anak-anak kecil di desa pada lihat bokep di telepon seluler tanpa pengawasan orang tua; bahkan yang SMP dan SMP ada yang bikin bokep pribadi. Di satu pihak mereka menyerap teknologi. Di lain pihak agama diterapkan sebatas normatif saja: ngaji, sholat Jumat, puasa; tetapi secara moral pribadi pendidikan budi pekerti tidak kuat untuk membendung imbas samping dari serbuan teknologi dan media dari barat.

      Delete