02 August 2016

Kangen Warung Bu Sumi di Prigen

Warung Bu Sumiati di pertigaan Prigen dan Trawas itu sudah rata dengan tanah. Betapa kagetnya saya ketika hendak mampir ngombe sebelum ke Jolotundo Trawas. Sejak dulu saya dan almarhum Pak Bambang Thelo, pelukis senior yang juga penasihat Dewan Kesenian Sidoarjo, selalu mampir di situ. Beliau lah yang mengenalkan Bu Sumi ke saya.

"Bu Sumi sudah pulang ke desanya. Minggu lalu," kata bapak tukang parkir di samping toko Tionghoa dekat warung bu Sumi.

Oh, kembali ke Solo rupanya. Beberapa kali ibu gemuk nan ramah itu mengatakan akan kembali ke Karanganyar Jawa Tengah. Apalagi setelah suaminya meninggal dunia. Cari duit di Prigen, tempat wisata yang selalu ramai, memang mudah. Tapi ada sesuatu yang hilang selama bertahun meninggalkan kampung halamannya.

"Aku mau istirahat di Solo. Kerja buka warung itu capek lho. Harus belanja, masak, nunggu pembeli... ribet deh," katanya.

"Enakan gak kerjo tapi duite wuakeeeh....," pancing saya.

"Ora iso. Ora ono wong nganggur iso sugih," kata Bu Sumi disusul tawa berderai.

Hubungan saya dan Bu Sumi memang cukup akrab. Dia selalu pesan koran bekas kalau saya mau naik ke Jolotundo tempat wisata alam dan heritage favorit saya. Maka saya pun sering membawa koran bekas dalam jumlah yang buanyaaak sekali. "Kamu makan gak usah bayar. Bayar pake koran aja," katanya.

Sebaliknya, saya pun kerap meminta bantuan Bu Sumi untuk menggoreng pisang. Soalnya Prigen Trawas Tretes ini penghasil pisang di Jawa Timur. Tapi anehnya sulit mencari pisang goreng di sana. Kalaupun ada hampir tidak ada pisang kepok.

Maka saya membeli pisang kepok untuk digoreng Bu Sumi. Kita cukup menyediakan minyak goreng dan tepung. Beli di toko sebelah. Lalu mama yang baik hati dengan asyiknya menggoreng pisang kepok. Enak banget.

Kenapa sampean nggak jual pisang goreng kepok? "Gak laku. Pisang kepok iku larang," ucapnya. Ooohh...

Cukup lama saya tidak naik ke Jolotundo, khususnya setelah Pak Bambang meninggal dunia. Lagi pula suasana di kawasan petirtaan Jolotundo tidak lagi sealami dulu. Terlalu banyak warung kopi dan hiruk pikuk dangdut koplo.

Tapi lama-lama kangen juga. Minggu lalu saya mencoba naik lewat Pandaan, mampir ke Finna Golf, dan ingin silaturahmi dengan Bu Sumi di warungnya. Mumpung masih suasana Idul Fitri.

Eh, warung lesehan tak jauh dari vila milik pemilik (lama) Sampoerna itu sudah rata dengan tanah. Selamat mudik Bu Sumiati. Semoga lebih bahagia di kampung halaman. Jauh dari hiruk pikuk industri wisata yang sering menawarkan kebahagiaan semu.

No comments:

Post a Comment