26 August 2016

Cak Markeso maestro ludruk garingan



Lawakan tunggal atau stand-up comedy yang ramai di televisi akhir-akhir ini sebetulnya bukan barang baru. Jauh sebelumnya sudah ada. Jawa Timur yang terkenal dengan tradisi ludruk punya banyak pelawak yang jago mengocok perut penonton dengan melawak seorang diri. Salah satu pelawak tunggal yang paling kondang di Surabaya adalah Cak Markeso.

Begitu fenomenal Cak So, asli Semampir, lahir 1924, untuk urusan lawakan tunggal. Almarhum dianggap sebagai legenda ludruk garingan yang belum ada tandingannya. Jauhlah sama stand-up comedy yang sering gak lucu itu.

Cak Markeso ngamen keliling, masuk keluar kampung, menghibur warga dengan kidungan, parikan, lawakan ala ludruk. "Cak Markeso itu seniman rakyat sejati. Beliau leluhur kita yang perlu kita hargai dan teruskan karyanya. Tentu saja dengan memanfaatkan teknologi sekarang," kata Cak Priyo, pelawak grup Galajapo.

PNS plus seniman plus presenter di beberapa stasiun TV lokal itu kemarin mengunggah lawakan tunggal ala Markeso di internet. Isinya antara lain apresiasi untuk almarhum Markeso yang sudah berjasa membawa ludruk dari kampung ke kampung itu. Seorang seniman besar yang terus berkarya tanpa menuntut imbalan. Dibayar ya syukur, tidak dibayar ya alhamdulillah.

Saya sendiri belum pernah melihat penampilan Cak Markeso. Juga belum pernah mendengar rekaman kasetnya. Tapi saya bisa membayangkan betapa dahsyatnya peludruk jalanan ini. Sampai-sampai Prof Dr Hotman Siahaan (dulu) punya kolom khusus di Surabaya Post yang memakai nama Markeso. Ternyata Pak Hotman ini bersahabat dengan Cak Markeso.

Saya kemudian mencari informasi tentang Cak Markeso di internet. Wow, rupanya cukup banyak. Warga Surabaya tempo doeloe sangat kagum sekaligus kehilangan seniman macam beliau. Apalagi tidak ada penggantinya. Sayang, informasi di internet itu itu sejati tak lebih hasil copy paste satu atau dua artikel. Rekaman suara Cak Markeso tidak ada.

Siang tadi saya mampir ke perpustakaan milik Oei Hiem Hwie di kawasan Medayu Agung, Rungkut, Surabaya. Perpustakaan ini menyimpan banyak majalah dan koran sejak era 1930an sampai sekarang. Siapa tahu ada cerita tentang Cak Markeso.

Wow, rupanya koran Surabaya Post edisi 1986 memuat satu berita kecil berjudul Cak Markeso Tampil di Yogya. Lead berita yang nyelempit di iklan film di bioskop Surabaya:

"Cak Markeso arek Surabaya asli Sabtu malam di gedung Bentara Budaya Yogyakarta menampilkan ludruk garingan seorang diri dan mendapat perhatian masyarakat, khususnya para seniman dan seniwati pecinta ludruk.

"Menurut Cak Markeso, ludruk tidak harus selalu dimainkan di panggung, namun bisa dipentaskan di jalan-jalan, di warung-warung, dengan pemain seorang saja. Ludruk semacam inilah oleh arek-arek Surabaya disebut sebagai ludruk garingan atau ludruk tunggal.

"Markeso di Surabaya terkenal dengan panggilan Cak So. Ia tak ubahnya seperti seorang pengamen saja. Pagi hari meninggalkan pondoknya dan dengan tongkatnya ia berjalan ke mana saja kakinya membimbing. Malam hari ia pulang ke rumah. Hampir seluruh pelosok Kota Surabaya dijelajahinya.

"Tiap harinya ia mendapat nafkah tidak lebih dari Rp 2000. Namun tidak jarang pula ia pulang tanpa membawa sepeser uang pun biar badan telah loyo, begitu ceritanya. "Daripada punya kelompok yang besar tetapi tiba-tiba bubar hanya karena pembagian rejeki saja, lebih baik cari rejeki dengan diri saya sendiri."

"Satu hal yang patut dibanggakan, Cak Markeso dalam membawakan ludruk garingannya, dirinya mempunyai vokal dan improvisasi kuat sehingga setiap kali pentas penonton dibuat terkesima olehnya.

"Demikian pula saat pentasnya di Bentara Budaya Yogyakarta. Ia bisa mengajak dan membawa penonton secara komunikatif sekali. Penonton bisa dibuat tidak jemu karena dengan humor-humornya ia mengajak penonton mengikuti jalan cerita yang dibawakannya.

"Markeso dalam kesempatan itu membawakan beberapa buah lagu yang diaransemen ke dalam bahasa ludruk dan dibawakannya dengan gerak dan mimik pembawaan lagu namun bisa memikat para penonton."

Klipingan berita di Surabaya Post yang bersumber dari kantor berita Antara ini sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa hebatnya seniman ludruk garingan itu. Cak Markeso memang maestro!

Mudah-mudahan nama Cak Markeso ini bisa diabadikan sebagai nama gedung kesenian di Surabaya. Seperti Cak Durasim yang jadi nama gedung pertunjukan di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali Surabaya. Tapi yang jauh lebih penting semangat dan dedikasi dalam berkesenian ala Cak Markeso itu bisa menginspirasi seniman-seniman muda di Jawa Timur.

Bahwa berkesenian itu ibadah. Biarpun pulang ngamen tidak membawa sepeser pun uang, Cak Markeso tetap semangat menghidupkan ludruk di kotanya. Matur nuwun Cak Markeso!

No comments:

Post a Comment