19 August 2016

Ayo Kerja! Kerja Nyata!

Sejak menjadi presiden, Jokowi bikin banyak gebrakan bagus. Salah satu yang paling saya suka, di bidang bahasa Indonesia, adalah menghadirkan tema hari kemerdekaan yang sangat khas. Pendek, enak, jauh dari kalimat ala birokrat era Orde Baru.

Tema Hari Kemerdekaan tahun lalu AYO KERJA. Tahun ini KERJA NYATA. Cocok dengan moto Jokowi, yang meniru Dahlan Iskan, KERJA KERJA KERJA... Kabinet Jokowi pun disebut Kabinet Kerja.

Sebagai generasi produk Orde Baru, selama tiga dekade kita disuguhi tema hari proklamasi yang sama. Pola kalimatnya selalu identik. Dari tahun ke tahun. Seperti ada template-nya. Tema klise itu begini :

DENGAN SEMANGAT PROKLMASI, KITA... UNTUK MENCIPTAKAN... MASYARAKAT YANG ADIL MAKMUR DAN BERKEADABAN.

Susunan kalimat ini juga dipakai untuk hari pahlawan, hari guru, hari pendidikan, hari guru, hari ibu, hari anak, sumpah pemuda, dsb. Juga ditiru pemerintah-pemerintah daerah di seluruh Indonesia. "Dengan semangat blablabla, kita tingkatkan blablabla...."

Begitu membudayanya tema ala orba, banyak PNS di daerah sempat bingung. Aneh. Kok temanya Ayo Kerja. Kerja Nyata. Saya kemudian mencoba menjawab sebisa mungkin. Saya justru memuji gaya khas Jokowi yang sangat swasta. Presiden yang aslinya swasta, pengusaha di Solo, ini rupanya melakukan debirokratisasi di bidang bahasa protokoler.

Gaya pidato Jokowi pun makin informal. Jauh dari bahasa khas birokrasi yang doyan pakai kalimat-kalimat majemuk yang panjang beranak cucu. Jokowi memang menyiapkan teks pidato, tapi biasanya dia tidak tunduk 100 persen. Beliau lebih senang ngomong lisan. Spontan. Dan itu sangat bagus untuk dikutip wartawan.

Sayang sekali, di daerah-daerah para pegawai humas pemkab pemkot dan pemprov gagal membaca perubahan gaya ini. Tulisan-tulisan orang humas, siaran pers, buletin... masih sama dengan gaya bahasa Orde Baru. Kalimat-kalimatnya ruwet. Poin yang ingin disampaikan malah kabur.

"Naskah dari humas itu jangan diubah lho," begitu pesan orang humas pemda kepada editor surat kabar.

Serba salah kita orang. Dibiarkan apa adanya, jelimet, kasihan pembaca. Dirombak total bisa mutung. Sebab naskah itu pesanan alias advertorial. Apa boleh buat, kita perlu kompromi untuk urusan beginian.

Ayo kerja!
Kerja nyata!

No comments:

Post a Comment