25 July 2016

Wabah Sakit Gila Update Status



Cukup banyak temanku yang hobinya update status BBM. Sehari bisa lima kali, enam atau tujuh kali. Bahkan ada seorang bekas reporter, baru lulus universitas swasta di Surabaya, yang update status sampai 15 kali sehari. Wuedan tenan!

Update status di media sosial itu sudah kayak kebutuhan. Nona manis itu rajin ganti foto selfie, gambar wallpaper, ayat suci.. ikut seminar ini itu, wisata di sana sini, nonton film XYZ dsb dsb. Saya yang rada gaptek pun otomatis dinotifikasi. Awalnya sih masih sempat baca. Tapi lama-lama bosan dan malas. Kita seakan dipaksa menikmati kegilaan teman-teman di media sosial.

Ada lagi bekas reporter juga yang baru lulus. Sempat jadi pekerja media selama tiga bulan, kemudian lengser. Jadi karyawan kantoran. Cewek ini juga doyan banget update status. Apa saja yang remeh-temeh ditulis. Selalu dibagikan di media sosial itu. Kemarin dia ganti status lima kali.

Saya sebaliknya. Tidak pernah update status. Satu-satunya perubahan status: "BBM ini segera berakhir masa tugasnya. Harap maklum!"

Status itu saya buat bulan lalu. Sebab ponsel khusus BBM memang sudah saatnya ditinggalkan karena tidak efisien dan ketinggalan zaman. Harus beli paket BBM plus push email dan internet. Pun tak bisa untuk aplikasi lain.

Sebetulnya saya ingin menghapus nama-nama kontak yang gila update status. Tapi gak enak karena mereka teman-teman yang penting. Banyak informasi bagus sering saya dapat dari mereka. Maka cara terbaik adalah menyembunyikan atau nonaktifkan notifikasi.

Caranya? Tiga kenalan muda, 20an tahun, yang saya tanya ternyata tidak tahu. Saya coba utak atik sendiri pun sulit. Oh... mbah Google pasti tahu. Benar saja. Ada beberapa blogger yang bahas persoalan ini. Persis seperti yang aku alami. Bosan dinotifikasi update status teman-teman yang gak karuan itu.

Salah satu blogger menyajikan petunjuk yang sederhana. Aha, langsung saya coba saat menerima notif dari teman muda yang gila update status itu. Sederhana sekali. Umpannya ditekan lalu tinggal cawang "semua". Beres!

Saya ketawa sendiri. Hanya untuk menghentikan banjir notifikasi saya butuh waktu hampir satu bulan. Malu bertanya sesat di jalan. Google jadi tempat bertanya terbaik.

Setiap orang memang punya hobi dan karakter yang berbeda. Ada orang yang gila update status dan ada yang tidak. Suka-suka. Bebas. Yang jadi masalah adalah perubahan status itu selalu dilaporkan oleh mesin bernama media sosial.

Seakan-akan si Fulan berkata, "Wahai teman-teman, lihatlah statusku sekarang. Aku sekarang di Shanghai. Besok Beijing. Besoknya lagi Hongkong...." Lengkap dengan foto selfie mejeng di objek wisata. Kayak pamer kepada dunia bahwa duitnya buanyaaak sehingga bisa ngelencer keliling bumi.

Setelah saya dalami, penyakit gila update status ini lebih banyak menimpa pengguna medsos yang berusia 20an tahun. Sehari minimal lima kali update status. Bisa jadi karena merekalah netizen sejati. Warga negara internet. Beda dengan 30an ke atas yang baru belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi.

Tapi memang banyak juga orang 40an tahun, bahkan 60an, kayak Pak JB di Sidoarjo, yang juga doyan update status. Gak papa!

Silakan mau update status 10 kali, 100 kaki.. sehari! Sebab aku sudah menyembunyikan umpan-umpan itu. Silakan engkau baca sendiri.

1 comment:

  1. Pak Lambertus, untuk memahami fenomena ini, boleh lah bertanya Oom Google tentang "behavioral economics" apalagi kalau ditambahi kata-kata kunci "social media". Khusus orang yang suka merasa superior dengan pasang status ke luar negeri, mungkin bisa dijelaskan dengan "Social Comparison" theory.

    ReplyDelete