06 July 2016

Tionghoa Makin Melebur di Flores Timur

Tulisan Laurens Molan di situs Katolik UCA membeberkan data terbaru komposisi umat beragama di Kabupaten Flores Timur, NTT. Dari 280.862 penduduk, umat Katolik berjumlah 217.944 jiwa (77 persen). Umat Islam 60.146 jiwa (21 persen).

Cukup signifikan memang populasi umat muslim di Flores Timur. Sebab ada banyak kampung muslim di sana. Sebut saja Lohayong, Lamakera, Lamahala, Waiwerang, Terong, Sagu, dan beberapa lagi. Laurens Molan menceritakan kehidupan etnis Lamaholot di Flotim (Flores Timur) yang sangat guyub dan rukun, khususnya Islam dan Katolik. (Kristen Protestan hanya 2.500 yang hampir semuanya pendatang alias bukan etnis Lamaholot.)

Karena barusan mengunjungi kelenteng, ngobrol di kantin dengan rombongan Tionghoa Surabaya, ingatan saya langsung tertuju ke masyarakat Tionghoa di Larantuka, ibukota Flores Timur. Saya menghabiskan masa remaja SMP/SMA di Larantuka sehingga sedikit banyak saya tahu kehidupan para baba dan nona di Flores Timur.

Oh ya, kami orang Lamaholot selalu memanggil orang Tionghoa dengan embel-embel BABA (laki-laki) dan NONA (perempuan). Wanita Tionghoa yang tua pun dipanggil nona meski sudah punya cucu. Anak-anak kampung biasa main dengan anak baba-baba ini tanpa batasan psikologis, SARA, tingkat ekonomi dsb. Anak-anak Tionghoa pun membaur 100 persen di sekolah swasta Katolik atau negeri.

Nah, yang menarik bagi saya, data statistik terbaru yang dikutip Laurens menyebutkan bahwa umat Buddha di Flores Timur hanya 14 jiwa. Konghucu hanya 3 orang.

Bukankah warga keturunan Tionghoa di Flotim sangat banyak? Di Larantuka, kawasan pertokoan Jalan Niaga jelas ada ratusan keluarga. Belum lagi di Pantai Besar, Lebao, Kota Baru dan ibukota kecamatan.

Di Pulau Adonara pun ada sentra niaga semacam pecinan. Kok Buddha dan Konghucu hanya 17 orang?

Begitulah. Data ini semakin memperkuat cerita saya di beberapa tulisan sebelumnya di blog ini. Bahwa Tionghoa di Flores Timur, bahkan di 22 kabupaten yang ada di NTT, karakternya peranakan. Tidak lagi memelihara adat istiadat leluhur secara ketat layaknya Tionghoa totok.

Boleh dikata, hampir semua Tionghoa di Flores beragama Katolik. Agama mayoritas penduduk setempat. Bahkan sejak dulu saya perhatikan orang-orang Tionghoa ini termasuk paling rajin misa karena gereja katedral Larantuka peninggalan Portugis itu berada di Postoh, sekitar pecinan. Orang-orang Tionghoa juga biasanya masuk gereja lebih awal setengah jam sebelum ekaristi dimulai.

Mengapa konversi orang Tionghoa ke katolisme di Flores sangat mulus? Saya kira ada kaitan dengan karakter Gereja Katolik di Indonesia, khususnya NTT, yang sangat menekankan inkulturasi. Adat, budaya, tradisi Lamaholot atau Tionghoa tidak dinegasikan tapi dirangkul dan diberi muatan kristiani.

Teologi inkulturasi inilah yang membuat warga Tionghoa tetap bisa melaksanakan tradisi leluhurnya tanpa khawatir dianggap bertentangan dengan kitab suci dsb.

Maka orang Tionghoa di Flores Timur sejak dulu tetap bikin ritual adat Tionghoa tapi juga tetap rajin ke ekaristi. Sama dengan orang Lamaholot yang rajin misa, tapi tidak pernah lupa mengadakan ritual adat Lamaholot untuk menjaga keseimbangan lera wulan tanah ekan (matahari bulan bumi angkasa).

Agama dan adat bisa berjalan seiring... praktik yang biasa dikecam kalangan Kristen fundamentalis.

1 comment:

  1. om hurek, mengapa etnis Tionghoa di NTT, atau beberapa daerah lain termasuk di Jawa, lebih memilih melebur??? rasa-rasanya ini terkait motivasi leluhur mereka dulu ketika merantau...

    jika tujuan mereka untuk berdagang, maka ya mau tidak mau mereka harus berinteraksi dgn penduduk lokal... interaksi seperti ini menghasilkan hibridisasi yg disebut dgn "Peranakan"... budaya Peranakan dominan di kota2 seperti Surabaya dan Semarang, begitu juga dgn di Tangerang dgn komunitas Cina Benteng-nya... begitu juga dgn di Singapura dan Melaka, Malaysia...

    tetapi jika tujuan leluhur mereka datang karena dibawa oleh pemerintah kolonial untuk bekerja di perkebunan karet, pertambangan timah, dll, maka mereka tentu lebih eksklusif... ini yg terjadi di Kalimantan Barat, Bangka Belitung, dan di Sumatera Utara...

    maaf om hurek, di provinsi kami (Sumut) hubungan antara etnis Tionghoa dgn etnis lain sedikit kurang harmonis... mereka cenderung lebih eksklusif dan membentuk komunitasnya sendiri... sekolah2 Kristen di pusat kota Medan didominasi oleh etnis Tionghoa, dan justru orang2 Batak, Jawa, Nias, dll yg masuk ke sekolah itu yg akhirnya belajar bahasa Hokkien... apalagi orang2 tua Tionghoa di Medan pun banyak yg tidak bisa bahasa Indonesia... secara agama pun mayoritas mereka masih menganut Buddha dan ajaran tradisional... hanya sedikit yg menjadi Kristen, terutama Gereja Methodist Indonesia (GMI)...

    jika orang Tionghoa di Flores akhirnya menjadi Katolik, ya itu mungkin akibat peleburan dgn orang2 Katolik di sekelilingnya, tetapi memang gereja Katolik masih menghargai tradisi lokal... di Korea pun, orang2 Katolik masih melakukan ritual penghormatan terhadap leluhur (jesa), sementara orang2 Protestan sudah meninggalkannya... dan di Filipina, lebih dari 90% orang Tionghoa di sana pun sudah menjadi Katolik, tetapi masih menggunakan bahasa Hokkien di rumah...

    ReplyDelete