12 July 2016

Tiga Orang Flores Timur Disandera Abu Sayyaf



Tiga orang Flores Timur, Nusatenggara Timur, disandera kelompok Abu Sayyaf. Mereka dicokok di perairan Lahad Dato, Malaysia Timur. Dari 7 anak buah kapal, penyandera sengaja memilih 3 orang Indonesia untuk ditahan.

Lha, kok kali ini yang disandera orang Flores Timur, warga etnis Lamaholot, kampung halaman saya. Ketiga nelayan yang apes itu Lorensius Koten, Theodorus Kopong, dan Emanuel. Sangat menkhawatirkan!

Kita tahu bagaimana rekam jejak Abu Sayyaf selama ini. Biasanya sandera-sandera dilepas setelah membayar tebusan miliaran rupiah. Biasanya pemerintah Indonesia membantah membayar tebusan kepada penculik. Tapi kita tahulah ada pihak ketiga, khususnya pengusaha kapal, yang merogoh kocek demi keselamatan ABK-nya.

Lahad Dato, Malaysia Timur, Flores Timur dan Lembata! Betapa terkenalnya nama-nama ini di kampung saya, bumi Lamaholot, di Provinsi NTT. Tepatnya Kabupaten Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, dan Alor. Anak-anak yang belum bisa baca tulis pun hafal nama-nama tempat di Malaysia Timur itu: Lahad Dato, Tawau, Keningau, Kota Kinabalu, Kuching, dan seterusnya.

Maklum, sejak dulu, jauh sebelum Malaysia merdeka, warga Flores Timur sudah merantau ke Malaysia Timur, khususnya Sabah. "Tahun 60an Sabah itu macam kampung, hutan belukar dengan pohon-pohon besar. Kami-kami ini yang membuka hutan itu," tutur Om Kornelis kepada saya suatu ketika.

Om asal Lembata ini begitu paham seluk-beluk Sabah, salah satu negara bagian di Malaysia Timur, selain Serawak. Ia juga punya semacam kartu sakti yang membuatnya bebas masuk ke Sabah kapan saja. "Soalnya kami dianggap ikut berjasa membangun Sabah," katanya.

Sebagian besar teman-teman masa kecil saya pun sudah jadi penduduk Sabah. Lulus SD atau SMP langsung kabur ke Sabah. Pulang kampung satu dua bulan, paling lama enam bulan, balik lagi ke Sabah. Kerja berat tapi ringgitnya banyak. "Kalau tinggal di kampung terus, dapat uang dari manan" ujar teman akrabku.

Karena itu, ketika mendengar berita penculikan warga NTT oleh Abu Sayyah di perairan Sabah, saya langsung ketar-ketir. Besar kemungkinan orang Lamaholot (Flores Timur). Setelah memantau internet, nama-nama ketiga orang itu sudah menunjukkan nama khas Lamaholot: Koten, Kopong.

Syukurlah, pemerintah mulai gregetan dengan ulah Abu Sayyaf yang sengaja memilih orang Indonesia sebagai sandera. ABK asal Malaysia dibiarkan bebas. "Ada apa sebenarnya Abu Sayyaf dengan Indonesia?" kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kemarin.

Rakyat, politisi, pun saya rasa merasa terhina dengan aksi Abu Sayyaf yang terus berulang ini. Sulit dimengerti negara sebesar Indonesia dipandang sebelah mata oleh gerombolan bajak laut Abu Sayyaf.

Pemerintah Malaysia pun tidak boleh berdiam diri. Sebab, tiga orang Flores itu, dan ribuan bahkan jutaan orang Indonesia di Malaysia Timur sejatinya sejak dulu bekerja keras banting tulang demi kemajuan Malaysia. Ikut membuat Kota Kinabalu dan kota-kota lain di Malaysia berkilau cahaya seperti sekarang.

1 comment:

  1. Jalesveva Jayamahe4:52 AM, July 13, 2016

    Mungkin krn pengalaman bhw pengusaha Indonesia bayar tebusan, akibatnya diculik lagi, diculik lagi.

    Belajar dari pengalaman di Somalia dan Selat Malaka, di mana kapal-kapal dagang harus dikawal oleh angkatan laut yang berkepentingan sampai pembajakan berkurang.

    Selain itu belajar dari sejarah Angkatan Laut dan Marinir USA. Ketika bajak laut Arab berulang kali menawan kapal-kapal dagang USA di 1800an, Angkatan Laut Amerika yang baru dibentuk menyerbu sarang mereka di Tripoli (sekarang Libya), Tunisia, Aljazair, Maroko (disebut sebagai Perang Pantai Berber) dan mengakhiri ketololan dan kerakusan para bajak laut yang didukung para sultan lokal di sana.

    Ayo, mana Angkatan Laut NKRI?

    ReplyDelete