28 July 2016

Sok Inggris tapi salah eja

Maksud hati ingin keren, gaul, nginggris... malah jadi bahan tertawaan. Perhatikan papan iklan di perempatan kawasan Sedati Sidoarjo. Persis di pintu keluar terminal domestik Bandara Internasional Juanda.

Apa gak salah lihat nih? Karena sering lewat di situ, saya mengeja huruf-huruf di papan dengan latar merah itu. AVAILABLE atau AVAILEBEL? Hehehe....

Anggap saja salah ketik. Salah tulis. Tapi kok nemen banget? Kan bisa diperiksa dulu sebelum dipasang? Masak sih orang Sidoarjo tidak tahu penulisan AVAILABLE? Kalau sudah ketahuan salah tulis, mengapa tidak segera dikoreksi?

Kok tetap dipasang? Sebagai warga Sidoarjo, yang kebetulan wilayahnya punya Bandara Juanda, saya ikut malu. Kita sok berbahasa Inggris, agar terlihat hebat, berwawasan global, internasional, tapi malah kontra produktif. Bikin malu (dan mual) aja.

Penyakit nginggris, begitu istilah sastrawan Remy Sylado, memang makin gila di Indonesia. English jadi dewa baru. Bahkan minggu lalu ada anggota DPR RI, Teguh Juwarno, yang meminta agar anak-anak sekolah tidak perlu dapat pelajaran bahasa daerah. Kuno. Bahasa daerah itu masa lalu, katanya.

Mas Teguh dari PAN itu meminta pemerintah agar bahasa Inggris yang diperbanyak. Bila perlu guru-guru pakai bahasa pengantar English. Pernyataan Teguh ini sempat jadi bahan diskusi, plus olok-olok, di media sosial.

Tapi begitulah... obsesi terhadap bahasa Inggris memang luar biasa tinggi. Anak-anak TK di Jawa Timur pun sudah mulai dibiasakan orang tuanya berbicara English. Iklan-iklan pakai English.

Nama klub sepak bola pun pakai English. Persatuan Sepakbola Sidoarjo (Persida) sekarang jadi Sidoarjo United. Di Surabaya ada Surabaya United yang sekarang ganti nama jadi Bhayangkara Surabaya United. Di kawasan Taman Sidoarjo ada klub namanya Rocket Sepanjang Football Club.

Gak papa. Semakin banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris tentu bagus. Tapi mbok yo kalau bikin reklame di pinggir jalan, apalagi di kawasan bandara internasional yang terkenal itu, perhatikan ejaan yang benar. Biar gak jadi bahan tertawaan bule-bule backpacker yang biasa jalan kaki di sekitar situ.

4 comments:

  1. Ihik ihik .... Maklum lah, Pak Lambertus, Bahasa Inggris itu kan dari sejarahnya memang bahasa blasteran, oplosan dari aslinya bahasa Jerman dari abad ke-5, bahasa Skandinavia yang dibawa orang Viking dari abad ke-10, dan dipengaruhi bahasa Prancis (Latin) yang dibawa oleh bangsawan dari Normandia di abad ke-11. Jadi ejaannya tidak konsisten, amburadul. Jadi harap maklum bagi orang kita mengeja Bahasa Inggris itu sulit sekali.

    ReplyDelete
  2. Betul betul.. Bukan hanya mengeja yg sulit Cak. Yang paling sulit bagi kita di Indonesia itu pengucapan dan listening. Begitu sulit mengenali kata2 yg diucapkan para bintang film. Apalagi kalau bicara cepat mengalir kayak air sungai. Tapi kalau kalimat2nya ditranskrip biasanya kita masih paham meskipun sekitar 80 persen.

    Yang jadi masalah besar adalah ejaan bahasa Indonesia itu mengikuti fonologi bahasa Belanda. Beda dengan bahasa Malaysia yang manut English sehingga bunyi ejaan tetangga dekat itu lebih dekat bahasa Inggris. Contoh : ISC (Indonesia Soccer Championship) yang sedang berlangsung sekarang pasti dibaca i-es-tje bukan ai-es-si. Tapi Manchester United (MU) tetap dibaca em-yu. BBC tetap bi-bi-si bukan be-be-ce. Bensin anyar yang lagi diwajibkan di Indonesia dibilang Pertalit, padahal tulisannya Pertalite. Lebih nginggris kalo dibunyikan Perta-lait.

    Mengoplos bahasa asing ini sebetulnya sudah dilakukan sejak zaman Bung Karno hindia belanda. Saya sangat kagum membaca tulisan2 Bung Karno di semua artikelnya. Tapi pola pencampuran ala bapak2 bangsa kayak bung Karno ini biasanya dalam konteks mengutip pendapat ahli2 asing dalam bahasa sumber di buku berbahasa Belanda Jerman Latin dsb. Karena bung Karno dkk sangat menguasai bahasa2 itu. Jadi, enak sekali kalau membaca. Menunjukkan kegemilangan wawasan dan pemikiran bung Karno Hatta Sjahrir Tan Malaka dsb.

    Beda dengan pengoplosan bahasa di zaman sekarang. Itu lebih untuk gaya-gayaan saja biar kelihatan kalau orangnya modern maju dan ngerti bahasa Inggris. Walaupun inggris2an sego campur hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penulis-penulis essay sok elite di Inggris pun suka menggunakan istilah-istilah Bhs Prancis, seperti Je ne sais quoi; atau Bhs Jerman, seperti Schadenfreude, agar kelihatan elite gitu lho.

      Delete
    2. Pak Lambertus, mengikuti acara atau filem berbahasa Inggris ini bukan problem yang sulit kalau sudah banyak mengerti kosa kata. Menurut pengalaman saya, dalam waktu beberapa minggu mendarat di luar negeri, problem itu akan terpecahkan. Itu hanya soal membiasakan telinga saja. Jadi, Pak Lambertus harus siap-siap tugas atau ambil cuti ke Sydney, London, atau New York City.

      Delete