06 July 2016

Romo Prof Pidyarto Jadi Uskup Malang

Umat Katolik di Keuskupan Malang akhirnya punya uskup baru. Mgr HJS Pandojoputero OCarm, 77 tahun, uskup sekarang pensiun, sehingga takhta sempat lowong. Puji Tuhan, Selasa, 28 Juni 2016, Paus Franciskus menunjuk Romo Prof Dr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm sebagai uskup yang baru.

Romo Pid jadi uskup? Apa nggak salah nih? "Informasi yang saya dapat begitu," kata pak dr Budi tokoh umat Paroki Santo Paulus Juanda Sidoarjo. "Saya akan konfirmasi lagi," katanya pekan lalu.

Saya pun langsung kontak Romo Eko Budi Susilo di Nganjuk. Romo yang aktif di komunitas lintas agama ini pun kaget. Belum tahu. "Saya kontak Jakarta dulu," ujar Romo Eko lewat WA.

Tak lama kemudian Romo Eko dapat konfirmasi. Benar! Romo Pid jadi uskup Malang. Ada video misa di Katedral Ijen Malang. Romo Pid menyampaikan kabar baik ini kepada umat Katolik yang ikut misa.

"Saya sendiri awalnya tidak percaya kalau ditunjuk. Soalnya saya sudah di atas 60 tahun. Usia yang belum tua tapi juga tidak muda," kata romo yang sehari-hari guru besar di STFT Widya Sasana Malang itu.

Romo Pidyarto mengaku kaget karena selama menjadi imam, waktunya lebih banyak di bidang pendidikan. Tepatnya jadi dosen seminari. Hanya 3 tahun pegang paroki. "Tiga puluh tahun lebih saya di pendidikan. Bagaimana mungkin (saya dijadikan uskup)," katanya.

Maka ketika muncul rumor namanya disebut-sebut calon uskup Malang, Prof Pidyarto tenang-tenang saja. Cuek. Tapi rumor itu makin kencang. Ia pun mulai merenung dan bicara dengan beberapa "orang saleh". Tak disebutkan orang saleh itu siapa.

"Orang-orang saleh itu mengatakan, Romo, jangan ditolak!" Kata-kata orang-orang saleh itu disimak benar oleh romo kelahiran Malang 13 Juli 1955 itu.
Akhirnya.... rumor yang beredar itu terbukti benar. Romo Pidyarto kini resmi menjadi Minsinyur Pidyarto. Tunggal menunggu penahbisan resmi saja.

Di kalangan umat Katolik di Jawa Timur, bahkan Indonesia, nama Prof Dr Pidyarto sudah tidak asing lagi. Beliau ahli kitab suci khususnya perjanjian baru. Kajiannya tentang kitab suci alias Alkitab sangat mendalam. Sebab beliau membedah tidak hanya konteks tapi juga akar katanya. Mengukuti uraian Romo Pid rasanya seperti kuliah teologi tingkat tinggi.

Karena itu, Romo Pidyarto selalu diundang paroki-paroki di Keuskupan Malang dan Keuskupan Surabaya. Dari situlah selalu muncul pertanyaan-pertanyaan praktis tentang kitab suci dan ajaran gereja yang sering dikritik pihak luar. Ada aroma apologetika seperti era reformasi Martin Luther tempo doeloe.

Contoh: Mengapa kitab suci Protestan ada 66, sementara Katolik ada 73? Katolik yang menambah buku atau Protestan yang mengurangi buku? Apakah orang Katolik menyembah patung? Mengapa pastor tidak menikah? Dan sebagainya dan seterusnya.

Nah, pertanyaan-pertanyaan itu kemudian lahirlah buku Mempertanggjawabkan Iman Katolik. Laku keras. Kalau tidak salah ada lima jilid. Kalau diteruskan bisa sampai puluhan jilid. Tapi Romo Pidyarto terlalu sibuk sebagai pimpinan STFT Widya Sasana yang tugas utamanya mendidik para calon romo.

Masih banyak lagi buku-buku lain yang ditulis Romo Pidyarto. Tapi yang benar-benar best seller adalah Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Dicetak berkali-kali. Dan terus dicari umat Katolik yang merasa keteteran saat debat dengan protestan.

Romo Pidyarto dihabiskan menjadi imam pada 1982. Tiga puluh empat tahun silam. Saya sendiri kagum dan terpukau setiap kali mengikuti seminar atau ceramah-ceramahnya. Bukan karena lucu dengan retorika yang hebat seperti Romo BA Pareira OCarm, juga profesor doktor, ketua STFT Widya Sasana yang lama, atau Romo Dr Piet Go OCarm, ahli hukum gereja yang juga sangat memukau.

Romo Pidyarto ini tipe intelektual serius yang sangat kaya pengetahuan. Banyak makan buku-buku tebal. Beliau ibarat sumur yang berisi begitu banyak air pengetahuan dan kebijakan.

Kini, Romo Pidyarto sudah ditetapkan sebagai uskup. Semoga beliau sukses menjadi gembala yang baik untuk umat Katolik di Keuskupan Malang.

Catatan akhir:
Dengan terpilihnya Romo Pidyarto maka dua uskup di Jawa Timur sama-sama keturunan Tionghoa. Sebelumnya Uskup Surabaya Mgr Sutikno, Tionghoa asli Surabaya. Ini membuktikan bahwa orang Tionghoa itu tidak hanya jago dagang atau bisnis tapi juga sangat serius dan unggul sebagai rohaniwan Katolik.

No comments:

Post a Comment