06 July 2016

Lebaran keempat Syiah Sampang di pengungsian

Empat tahun sudah sekitar 500 warga Syiah asal Sampang Madura berlebaran di pengungsian. Sekali di GOR Sampang, tiga kali di Rusun Puspa Agro Jemundo Sidoarjo. Belum ada isyarat dari pemerintah pusat dan provinsi kapan mereka dikembalikan ke kampung halaman.

Isyarat yang sangat jelas justru dari Sampang. "Masyarakat Sampang belum bisa menerima mereka. Itu hasil rapat kami dengan para ulama dan tokoh masyarakat," kata Wakil Bupati Sampang Fadhilah Budiono pekan lalu.

Seperti biasa, Fadhilah yang dulu bupati tidak bisa menjawab kapan masyarakat siap. Tidak ada timeline yang jelas. Pun tak ada usaha yang serius untuk menyelesaikan kasus pengungsian ini.

Aneh, ada orang Indonesia jadi pengungsi di dalam negaranya yang katanya aman damai toleran bhinneka tunggal ika. Lebih ironis lagi, para pengungsi Syiah Sampang ini tinggal satu kompleks dangan ratusan pengungsi asal Somalia Afganistan Pakistan Myanmar dll di rumah susun yang sama.

Indonesia dianggap hebat oleh dunia internasional, khususnya IOM, yang mengurusi pengungsi pencari suaka politik. Tapi Indonesia ternyata belum mampu menyelesaikan kasus pengungsi Sampang selama 4 tahun.

"Kami seperti ditinggalkan pemerintah. Tidak jelas kapan kami bisa pulang," ujar Iklil al-Milal pimpinan pengungsi Sampang.

Ustad muda inilah yang menjadi pembimbing rohani jamaah Sampang itu sejak dipindahkan dari Sampang ke Sidoarjo. Beberapa kali Iklil dan beberapa pentolan Syiah diajak koordinasi dengan perwakilan pemerintah. Bahkan Presiden SBY mengirim utusan khusus, Dr Albert Hasibuan, menemui pengungsi. Ada rekomendasi dan catatan tapi menemui jalan buntu.

Minggu lalu, meski sudah tahu bakal mentok, Iklil dkk mengajukan permintaan izin silaturahmi Lebaran ke Sampang. Tidak lama. Cukup dua hari saja. Hasilnya? Ditolak pemerintah. Polres Sampang menganggap situasinya belum kondusif. Keamanan warga Sampang di tanah kelahirannya sulit dijamin.

Apa boleh buat, 500an pengungsi Sampang ini harus berhari raya di Sidoarjo. Di rumah susun milik pemerintah provinsi. Rusun yang bagus, bersih, terawat... tapi beda dengan suasana kampung halaman tentu saja. "Lain rasanya tinggal di pengungsian dengan di rumah sendiri. Rumah sendiri kampung sendiri, biarpun gedhek, rasanya ayem dan bahagia," kata sang ustad.

Yah.... Pemerintah sebetulnya tidak meninggalkan pengungsi Syiah. Buktinya, mereka masih tetap menikmati berbagai fasilitas di Rusun Puspa Agro. Gratis. Ada pula uang jatah hidup.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga membuka sekolah untuk anak-anak pengungsi. Guru-guru dll tersedia. Sidoarjo juga menyediakan fasilitas kesehatan dan dapur umum. Hanya Pemerintah Kabupaten Sampang yang memang sejak awal enggan memperhatikan rakyatnya di pengungsian.

Syarat dari Sampang masih sama: Iklil dkk harus bertobat... kembali ke jalan yang benar! Kembali beragama seperti rakyat Sampang dan Madura umumnya. Jangan ada Syiah di Sampang dan Madura! Syarat yang kelihatannya mudah, tapi praktiknya sangat berat. Mendesak orang untuk mengubah keyakinan!

Di awal pemerintahan Presiden Jokowi sempat ada setitik harapan. Ini setelah Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mau turun berdialog dengan warga Syiah Sampang. Mencari solusi. Sayang, niat baik di awal pemerintahan itu tidak berlanjut lagi. Tidak ada upaya untuk memecah kebuntuan.

Sementara itu, tim khusus yang dibentuk Gubernur Jatim Soekarwo pun sudah selesai masa kerjanya. Rekomendasi sudah dibuat. Tapi solusi nyata? Kita tunggu saja.

Semoga tahun depan warga Syiah Sampang tidak menjadi pengungsi abadi di Sidoarjo!

1 comment:

  1. Ironie Ibu Pertiwi. Ironie Bhineka Tunggal Ika.
    Ironie Sila Pertama Pancasila.

    ReplyDelete