29 July 2016

Kehilangan Anies Baswedan, Rizal Ramli, dan Ignasius Jonan

Presiden Joko Widodo baru saja merombak kabinetnya. Puan Maharani sudah pasti aman meskipun sering jadi bulan-bulanan netizen. Rizal Ramli, Ignatius Jonan, Anies Baswedan dicopot. Ini yang bikin saya sedih karena tiga menteri ini sangat asyik dan inspiratif. Paling tidak sesuai selera saya.

Jonan blakblakan ala arek Surabaya. Out of the box, kata pakar manajemen. Juga sangat disiplin. Dia pernah memarahi seorang bupati berpengaruh di Jawa Timur karena molor saat acara peresmian kereta api baru.

"Anda harus kasih contoh dong," kata Menteri Perhubungan Jonan saat itu. Wuedan... wong tuwek kok diseneni! Karena bagi Jonan waktu itu uang. Disiplin harga mati.

Mantan dirut PT Kereta Api Indonesia ini juga berani menolak peresmian terminal baru di Bandara Soekarno-Soekarno-Hatta karena ada yang tidak beres. Dia minta diperbaiki dulu. Angkasa Pura geger. Sebab Presiden Jokowi sudah dijadwalkan untuk meresmikan sebelum arus mudik Lebaran.

Menteri Jonan konsisten dengan prinsipnya. Maka terjadilah apa yang kini terjadi. Jonan dicopot. Diganti dirut Angkasa Pura yang pernah perang dingin dengan Jonan. Jonan juga dinilai gagal mengurus angkutan Lebaran kemarin. Saya tidak pernah menyalahkan Jonan dan menhub-menhub-menhub lain karena lalu lintas di Jawa memang sudah kayak neraka.

Rizal Ramli asyik banget. Dia pakai ilmu kepret untuk membongkar sistem yang mandeg. Penjelasan soal ekonomi selalu sederhana, tajam, dan mudah dipahami rakyat awam. Tapi dia tidak cocok dengan Wapres Jusuf Kalla dan tim ekonomi. Maklum beda mazhab ekonomi.

Maka Rizal Ramli yang justru dikepret. Kita kehilangan salah satu pejabat yang pernyataan dan tindakannya out of the box. Betul dia bikin bising. Tapi arus diskusi dan polemik jadi hidup karena Rizal Ramli. Suasana yang tidak pernah ada di era sebelumnya.

Anies Baswedan? Menteri pendidikan yang sangat inspiratif dan cerdas. Selalu tersenyum, santun, penuh ide. Dalam waktu hanya 20 bulan Anies meninggalkan jejak yang nyata di dunia pendidikan kita. Guru-guru pun mengusulkannya.

Jauh sebelum jadi menteri, Anies Baswedan kerap menulis artikel yang inspiratif. Kemudian bikin Indonesia Mengajar. Lulusan universitas dia kirim ke daerah terpencil untuk menyapa dan memotivasi anak Indonesia. Dia bikin anak-anak kampung lebih percaya diri.

Berbeda dengan menteri-menteri lain yang baru dekat Jokowi belakangan, mas Anies merupakan juru bicara dan tangan kanan Jokowi saat pemilihan presiden. Anies menangkis berbagai serangan kepada Jokowi dengan elegan dan cerdas. Serangan gencar bermuatan SARA.

Anies yang cucu pahlawan AR Baswedan, keturunan Timur Tengah, sangat menguasai kajian Islam, alumni HMI, rektor Universitas Paramadina yang islami memberikan kontra argumentasi yang mencerahkan. Enak sekali dinikmati ketika ia bicara di televisi.

Maka sejak awal saya yakin banget Anies Baswedan jadi menteri pendidikan. Betul. Apalagi Anies pula yang diminta Presiden Jokowi menyusun kerangka kabinet yang diberi nama kabinet kerja. Wow, Anies Baswedan pasti sangat kuat. Selalu ada di sanping Jokowi.

Kali ini saya salah. Politik sangat dinamis. Partai-partai yang dulu berada di kubu Prabowo pindah haluan ke Jokowi. Sudah pasti ingin dapat jatah menteri. Kabinet harus dirombak. Banyak menteri akan diganti. Dan saya tetap yakin Anies Baswedan akan aman di posisinya - seperti Puan Maharani Putri Megawati.

Lha, kok Anies Baswedan dicopot? Diganti Pak Muhadjir Efendi dari Muhammadiyah?

Okelah. Muhammadiyah memang belum diakomodasi di kabinet. Tapi tadinya saya masih yakin Anies, sahabat lama Jokowi, hanya digeser jadi menteri lain.

Eh... ternyata dicopot. Hilang dari kabinet. Ada apa dengan Jokowi? Pak Presiden tentu punya alasan khusus mencopot orang terdekat dengan kompetensi sekaliber Anies Baswedan. Begitu banyak analisis dan spekulasi di media sosial.

"Mas Anies dicopot karena lupa bikin SK agar orang tua menjemput anaknya di sekolah. Dia cuma bikin SK agar orang tua mengantar anaknya ke sekolah. Lha, kalau gak dijemput kan kasihan anaknya," kata Cak Priyo pelawak di Sidoarjo.

Begitulah politik. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang abadi cuma kepentingan. Semoga Anies Baswedan, Rizal Ramli, dan Ignatius Jonan tetap berkarya demi menjadikan Indonesia hebat seperti yang sering dipidatokan Menteri Puan Maharani.

Opone sing hebat Cak?

1 comment:

  1. Rizal Ramli gak cocok dadi menteri. Cocok dadi pengamat atau staf ahli. Menteri itu manajernya presiden. Nek sek nganggo jurus kepret ga ono seng kerjo, geger tok.

    Nek Jonan, arek lulusan SMAK St Louis iki haruse dipertahankan. Mungkin dekne kurang luwes. Tapi gpp. Paling dadi Dirut perusahaan swasta. Wes, golek dhuwit ae, Cak Jonan.

    Bapake Anies iku arek Ampel. Iku yo sayang nemen. Wonge cerdas, santun, dan berprinsip. Nek iki, korban sampingan mergone menampung keinginane partai politik pendukung sing anyar.

    Kabeh iki tandane nek Jokowi iku dudu dewa penyelamat. Cuma manusia biasa sing ono kekurangane.

    ReplyDelete