16 July 2016

Indomaret gilas toko legendaris di Tretes

Dua tahun lebih saya tidak mampir ke kawasan Tretes Pasuruan. Kota pegunungan sejuk tempat warga Tionghoa Surabaya berlibur. Juga tempat favorit kawan-kawan aktivis bikin kegiatan.

Saat datang lagi siang ini, saya lihat tak banyak perubahan. Cuacanya masih enak, sejuk. Tidak perlu AC karena suhu di bawah 25 derajat Celcius. Masih ramai pedagang kaki lima di depan Hotel Surya. Pedagang buah pun masih sama wajah-wajahnya.

Aha, ada yang beda. Toko Arjuno depan Hotel Surya sudah tutup. Padahal dulu toko camilan dan aneka kebutuhan praktis itu ramai luar biasa. Saya sering beli roti atau camilan di situ.

Suatu ketika saya sakit perut parah. Mampir di situ, si ibu Tionghoa menawarkan obat dari Tiongkok. "Sangat manjur," katanya serius.

Benar saja. Tidak sampai 30 menit sakit perut hilang. Lega rasanya. Saya pun akhirnya jadi kenal sama si pemilik toko itu. Apalagi orangnya ramah. Saya juga membeli teh khusus dari Tiongkok alias zhongguo cha di Toko Arjuno.

"Teh ini asli dari Taiwan. Ada pelanggan-pelanggan khusus," katanya. Tak lupa ibu itu berpromosi bahwa teh dari Tiongkok itu punya khasiat obat. Bukan kayak teh biasa di Indonesia.

Di mana ibu Tionghoa 50an tahun itu sekarang? Entahlah. Saya tak bertanya pada siapa pun. Kalaupun nanya hampir pasti tidak ada yang tahu. Emangnya gue pikirin?

Tretes ini desa tapi cara pikir penduduknya lebih materialistis ketimbang orang kota asli kayak Surabaya atau Malang. Begitu banyak makelar raja tega di sini. Maka saya hanya bisa membayangkan pemilik toko yang murah senyum itu.

Ya... Indomaret besar di sampingnya membuat Toko Arjuno habis. Tak bisa berkutik. Apalagi mini market waralaba ini luas, nyaman, punya beberapa mesin ATM. Pelayannya pun muda dan cantik-cantik. Bagaimana bisa unggul?

Kalau Arjuno yang besar, berpengalaman, punya modal rada kuat saja kolaps, jangan tanya toko-toko pracangan milik penduduk lokal. Habis digilas Indomaret, Alfamaret dsb...

Karena itu, belum lama ini DPRD Sidoarjo ingin membuat peraturan daerah untuk membatasi mini market di Kabupaten Sidoarjo. Toko-toko modern itu dianggap membuat toko-toko kecil milik warga mati. Ekonomi rakyat bisa lumpuh dimakan kapitalis Indomaret dan sejenisnya.

Tapi apa mungkin membatasi toko modern? Lha, wong konsumen justru senang berbelanja di toko-toko modern yang bersih, sejuk, dengan pelayan yang penuh senyum... meski artifisial. Senyum yang dipaksakan demi mengikuti SOP.

3 comments:

  1. Inilah akibat dari sistem korporasi, Pak Lambertus. Di Taiwan, bahkan ga ada toko lokal, semua sudah digantikan oleh 7-11 (Amerika Serikat) dan FamilyMart (Jepang). Paling tidak di Indonesia, AlfaMart dan IndoMart dimiliki oleh korporasi lokal, tuan rumah di negeri sendiri.

    Di satu pihak, toko-toko korporasi ini melayani masyarakat dengan lebih murah (krn mereka beli dalam jumlah besar dari pabrikan), lebih efisien (dengan sistem distribusi yang terkendali), dan lebih nyaman dengan lokasi dan pendingin udara (maka itu dinamakan convenient store). Di sisi lain, toko toko kecil milik pedagang kelas pasar, baik Tionghoa ataupun pribumi seperti contoh Pak Lambertus, akan berangsur-angsur mati, dan anak-anak mereka hanya akan jadi pegawai AlfaMart dan IndoMart saja.

    Peraturan daerah itu bisa saja diterapkan untuk melindungi pedagang-pedagang UKM, walaupun akibatnya harga lebih tinggi untuk barang-barang tertentu, dan pelayanan lebih tidak optimal. Di Amerika, tidak hanya convenience store saja yang melumat habis pedagang perseorangan, tetapi juga pedagang online macam Amazon. Perseorangan hanya bisa bertahan jika mereka punya keunikan (seperti makanan siap saji dengan sambel yang puedes) atau menawarkan jasa seperti rias, instalasi, reparasi). Perubahan jaman, bung!

    ReplyDelete
  2. Yah... perubahan zaman. Raja2 lama mati diganti pemain2 baru yg lebih cocok dengan zamannya.
    Lucu tapi getir. Ketika anak2 pemilik toko2 besar zaman dulu malah cuma jadi penjaga Indomaret atau Alfamart.

    Saya kenal beberapa baba Tionghoa di Surabaya yg punya toko kecil pracangan di pinggir jalan raya. Setelah meninggal si baba, tokonya ikut mati. Sang anak sudah jadi karyawan di kota lain.

    Saya juga perhatian di NTT ada perubahan distribusi barang. Dulu waktu saya kecil, orang" desa datang ke kota untuk membeli barang" di toko milik baba" tionghoa. Sekarang truk" yg masuk desa hampir setiap hari. Bukan lagi masyarakat desa yg cari barang di kota tapi barang" itu yg mencari pembeli di desa.

    Roda dunia selalu berputar!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung, menurut pengalaman pribadi saya menjalankan perusahaan sendiri yang tidak berhasil (ihik ihik), jadi karyawan itu ternyata jauh lebih enak drpd jadi bos, ga terlalu mikir. Jadi bos mikir terus, gmn muter modal kerja agar bisa bayar karyawan, bayar supplier dan ongkos produksi, sebelum bayar diri sendiri. Maka itu, jangan mencela pengusaha, mereka itulah yang membuat roda dunia itu berputar.

      Delete