22 July 2016

Hujan terus di musim kemarau 2016

Pagi ini hujan deras di sekitar Bandara Juanda, Kecamatan Sedati Sidoarjo. Mulai pukul 06.00 sampai 08.00. Kemarin juga begitu. Kemarinnya lagi. Hampir tiap hari hujan meski siang dan sore biasanya cerah.

Bulan Juli, mau Agustus, kok hujan rutin? Apakah sekarang masih musim hujan? Inikah yang dinamakan perubahan iklim itu? Climate change? Entahlah.

Pak Bambang dari BMKG Juanda punya penjelasan yang ilmiah soal ini. Tentang kenaikan suhu permukaan laut. Stok awan yang menjadi bibit hujan dsb dsb. "Sampai bulan Agustus hujan akan terus terjadi di Sidoarjo Surabaya dan sekitarnya," kata Pak Bambang.

Bahkan, menurut BMKG Juanda, ada kemungkinan hujan musim kemarau ini bakal nyambung dengan hujan asli di musim hujan. Sehingga kita bisa menikmati air hujan secara rutin sepanjang tahun. Luar biasa curahan hujan yang merupakan karunia Tuhan itu.

Sebagai orang yang dekat dengan alam dan pertanian, juga bersahabat dengan para tukang kebun dan taman di Sidoarjo, saya sangat bersyukur dengan hujan yang melimpah. Tanah jadi basah terus. Tanaman-tanaman tidak perlu disiram lagi. Alam jadi hijau.

Tahun lalu saya stres berat karena belasan tanaman yang saya tanam di Candi Tawangalun mati. Kekeringan. Wilayah Buncitan itu memang kering luar biasa di musim kemarau. Tak ada sumur. Jaringan PDAM Sidoarjo pun belum masuk. Mirip kampung kering di NTT.

Kami pun bersama 500an orang melakukan penghijauan di situ tiga tahun lalu. Bibitnya bagua dan mahal. Hasilnya? Mati semua. Tak ada satu pun yang selamat. Selain kurang air, tanamannya tidak cocok. Yang cocok itu klampis, waru, kaktus.. dan beberapa tanaman khas daerah kering.

"Alhamdulillah, sekarang hujan terus. Kita bisa penghijauan lagi," kata Saiful Munir teman saya yang jadi pemelihara Candi Tawangalun.

Bibit sih banyak di Sidoarjo. Bisa minta ke dinas kebersihan dan pertamanan. Tapi saya masih trauma dengan kematian ribuan tanaman yang dulu itu. Mending tidak usah dulu. Biarkan klampis dan kepuh yang ditanam Saiful berkembang jadi pohon besar. Saya masih trauma kalau bikin program kayak dulu... kemudian mati semua!

Pulang dari Candi Tawangalun, tak jauh dari Bandara Juanda, saya teringat kampung halaman di NTT. Akhir Desember dan awal Januari lalu, orang-orang di kampung saya yang hampir seluruhnya petani berdukacita. Tanaman-tanaman mati atau setengah mati. Sebab tidak ada hujan setelah jagung tumbuh 30an sentimeter.

"Semoga tidak terjadi kelaparan tahun ini...," begitu ujud doa saat ekaristi alias misa di kampung.

Aneh banget... Di bulan-bulan yang seharusnya hujan - Desember Januari Februari - justru hampir tidak ada hujan di NTT. Curah hujan terlalu minim untuk mengairi tanaman yang sejatinya hanya butuh sedikit air.

Saya belum cek curah hujan di NTT di saat Jawa Timur lagi panen hujan di musim kemarau. Tapi bisa dipastikan NTT pun turun hujan meski tidak sebanyak di Jatim.

Apakah petani-petani akan menanam jagung di musim kemarau? Siapa yang jamin hujan akan stabil selama dua tiga bulan? BMKG toh hanya lembaga peramal cuaca. Prakiraan cuacanya pun sering meleset.

Semoga saja kita semua mau belajar mengenali alam yang makin berubah ini. Dan semoga tidak ada kelaparan.

5 comments:

  1. Bumi Makin Panas2:07 AM, July 23, 2016

    Di California, malah terjadi kemarau panjang krn suhunya terlalu panas untuk terbentuknya awan, akibatnya di musim hujan malah tidak hujan. Cuaca dunia berubah, manusia harus mengubah pola hidupnya oleh karena tingkah polahnya sendiri yang doyan membakar minyak, gas bumi, dan batu bara untuk naik kendaraan bermotor, leyeh-leyeh di ruang ber-AC, dan main internet.

    ReplyDelete
  2. Selamat menikmati kemarau di USA mas... tapi kemarau di amrik kan tetap sejuk dan segar. Beda dengan kemarau di sini yg gersang penuh debu. Mantap!

    ReplyDelete
  3. Bumi Makin Panas12:17 PM, July 26, 2016

    Amrik itu negara yang luas daratannya. Jadi bila di pantai barat terjadi kemarau, krn awan tdk bisa terbentuk saking panasnya, justru uap air tersebut menuju ke arah timur, dan di pantai timur yang lebih dingin, terbentuklah awan yg kemudian turun menjadi salju. Eh, di pantai timur malah badai salju dan es. Itulah yang terjadi 3 tahun terakhir ini.

    Selain itu, daerah pertengahan California itu juga penuh ladang sayur, serta perkebunan buah dan kacang almond. Apabila kemarau, kasihan petani karena jatah air mereka berkurang shg tidak bisa menanam banyak.

    Di pegunungan Sierra Nevada di California juga banyak tempat2 wisata main ski yang harus tutup atau kurang buka, karena tidak ada salju, atau kualitas salju yang tidak bagus (terlalu basah, tidak bisa untuk meluncur). Akibatnya ekonomi turisme juga menurun.

    Ah, terlalu panjang untuk dibahas. Tidak hanya tidak sumuk saja, Pak Lambertus.

    ReplyDelete
  4. Suwun cak Amrik. Sudah mau berbagi cerita yg bagus tentang USA yg luas dengan iklim yg bervariasi. Jarang ada orang yg menulis komentar yg mencerahkan di blog dan media sosial. Sampean termasuk komentator yg brilian. Selamat mandi matahari... biar kulitnya agak gelap dikit lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bumi Makin Panas2:04 AM, July 27, 2016

      Pak Hurek, kulit saya sudah gelap krn suka main tennis. Saya juga suka main ski, krn itu saya termasuk yang sedih dengan adanya pemanasan global. Mungkin saya harus ganti, belajar selancar angin. Saya suka dengan blog anda krn isinya cocok dengan selera saya.

      Delete