22 July 2016

HP Tiongkok makin berkelas

Tiongkok saat ini sudah jauh berbeda dengan awal 2000an. Produk-produk made in China bukan lagi kelas ecek-ecek yang mudah rusak. Sudah lama kita tak mendengar kata mocin dan sejenisnya yang mencibir produk buatan Tiongkok.

Tiongkok sudah berubah. Mereka belajar banyak dari pengalaman mengembangkan teknologi. "Tiongkok yang tadinya hanya meniru sekarang lebih aktif di inovasi," kata Hermawan Kartajaya pakar marketing dalam sebuah diskusi di Surabaya kemarin.

Lupakan motor made in China macam Jialing yang sudah lama tutup buku di Jawa Timur. Sekarang ini ponsel buatan Tiongkok sudah jadi incaran masyarakat. Harganya pun tak bisa dibilang murah. Bandingkan dengan HP China lawas yang harganya setara sekali makan di restoran. Dan cepat rusak dalam hitungan hari.

Saya sendiri membeli HP merek Huawei saat demam Piala Dunia di Afrika Selatan tahun 2010. Huawei yang bukan android itu memang lagi promosi memanfaatkan demam Piala Dunia. Harganya cuma Rp 200 ribu. Sampai sekarang ponsel mirip Nokia dan BB itu masih sehat walafiat.

Kelemahannya cuma suara musik yang gak enak didengar karena cempreng suaranya. Internet pun harus beli browser lawas opera. Tapi kalau cuma untuk menelepon dan SMS masih sangat oke. Huawei lawas ini tidak ada lagi di pasar.

Huawei sekarang canggih bukan main. Tidak kalah sama Samsung. Pak Dahlan Iskan mantan menteri BUMN pun pakai Huawei edisi mutakhir yang canggih. Cukup banyak klub sepak bola elite Eropa yang disponsori Huawei. Mana mungkin produk ecek-ecek jadi sponsor klub besar sekelas Atletico Madrid?

Setelah Huawei, ponsel China yang lagi hot di Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, adalah Oppo. "Opo kuwi?" begitu pertanyaan orang-orang yang penasaran.

Awalnya Oppo dikira kelasnya kayak HP made in China buatan perajin rumahan yang asal tempel merek. Alah, paling juga murahan. Cepat rusak. Modele tok sing apik! Tapi waktu jugalah yang akhirnya jadi hakim terbaik. Saat ini Oppo sangat sukses di pasar. Branding di mana-mana.

Kalau anda melintas ke Bandara Juanda lewat Rungkut, Pondok Candra, Tripodo Sidoarjo... lihatlah betapa banyak logo khas Oppo di toko-toko pinggir jalan. Konsumennya pun banyak. "Aku sudah lama pakai Oppo. Enak buat motret dan medsos," kata Yanti yang tinggal dekat Juanda.

Ehmm... saya akhirnya makin ngeh dengan kebangkitan imej dan penetrasi Oppo setelah mengikuti berita sekilas di televisi kemarin dan tadi pagi (ulangan). Oppo yang menggandeng Barcelona sedang promosi di Jakarta. Luar biasa! Berarti Oppo ini bukan ponsel kelas ecek-ecek seperti tuduhan sejumlah orang di Indonesia.

Saya pun teringat obrolan dengan Mr Fu Shuigen di Surabaya beberapa tahun lalu. Saat itu Mr Fu konsul jenderal Tiongkok. Kami ngobrol serius tapi santai tentang serbuan produk-produk Tiongkok ke Indonesia. Begitu murahnya dan begitu cepat rusaknya.

Mr Fu pun tersenyum. Lalu dia bilang negaranya sangat serius mengembangkan teknologi yang bermutu dengan harga yang terjangkau. Beberapa tahun lagi ponsel buatan Tiongkok jadi sangag berkualitas dan disukai masyarakat. Mr Fu pun kembali ke negaranya.

Sekarang saya baru sadar ternyata visi besar pemeritah RRT yang disampaikan Mr Fu itu terbukti. Bahkan jauh melebihi bayangan saya.

3 comments:

  1. Seperti yang disampaikan Menko Rizal Ramli (RR), RRT mengikuti pola yang ditempuh oleh Jepang, Korsel, dan Taiwan sebelumnya. Masuk industri manufaktur, kemudian investasi dalam sumber daya manusia (pendidikan) untuk menumbuhkan R&D. Kalau Indonesia masih terlena. Sekarang ketergantungan ekonomi terhadap batu bara, penebangan kayu hutan / perkebunan kelapa sawit, makin tinggi. Lihat saja daftar orang-orang terkaya. Malu ah...

    ReplyDelete
  2. Betul banget... Tiongkok selalu belajar belajar dan selalu belajar. ATM: amati tiru modifikasi! RRT juga hebat bikin kereta api, pesawat terbang, hingga pesawat tempur dan pesawat penjelajah ruang angkasa.

    Akhir 90an dan 2000 awal RRT mencoba mengganggu sepeda motor Jepang yg sudah mapan di Indonesia dengan Jialing dsb. Tapi rupanya proyek sepeda motor ini gagal. Japan terlalu kuat di otomotif dengan jaringan luas sampai ke desa2. Makanya dia main di IT dan rupanya berhasil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu saya ke China thn 2012, di desa2 semua motor listrik buatan lokal. Kalau mereka sudah menjalani "experience curve", di mana ongkos produksi per unit menjadi lebih murah, dan kualitas setara dengan Yamaha, jangan kaget kalau mereka mencoba masuk pasar lagi.

      Delete