31 July 2016

Hakim MA jadi pencabut nyawa

Masih soal hukuman mati. Koran pagi ini memberitakan majelis hakim kasasi MA memvonis mati Budiman dan Arifin. Keduanya terpidana kasus sabu 8 kg di Gedangan Sidoarjo. Tiga hakim pemutus mati itu Surya Jaya, Sri Murwahyuni dan Artidjo Alkostar.

Sebelumnya kedua terdakwa divonis seumur hidup di PN Surabaya. Tuntutan jaksa: hukuman mati! Di pengadilan tinggi pidana mati. Naik banding ke MA, hasilnya itu: mati.

Apa boleh buat. Sekali lagi ini membuktikan bahwa para hakim di MA masih senang dengan hukuman mati. Sebab bandar macam Budiman dan Arifin dianggap perusak anak bangsa. Tidak pantas hidup di bumi Indonesia. Lebih baik ditembak mati daripada membiarkan bandar-bandar narkoba ini hidup.

Apakah salah vonis mati ini? Tidak salah. Hukum positifnya ada. Suasana kebatinan rakyat Indonesia, mayoritas, pun begitu. Tapi haruskah hukuman mati di mahkamah tertinggi ini dijatuhkan?

Rupanya para hakim kita, khususnya di MA, sama sekali tidak terketuk hatinya dengan kebijakan penghapusan hukuman mati di 140 negara di dunia. Permintaan PBB, Vatikan, Amnesti Internasional, bahkan Komnas HAM pun tidak direken. Pun permintaan mantan Presiden BJ Habibie dan SBY lewat Partai Demokrat.

Maka daftar nama terpidana yang menunggu giliran ditembak mati bertambah dua lagi. Kejaksaan mau tidak mau dipaksa untuk melaksanakan eksekusi mati di Nusakambangan atau tempat lain. Gara-gara vonis MA berkekuatan hukum tetap.

Presiden Jokowi selaku eksekutif pun dalam posisi serba salah. Pasti dapat tekanan internasional. Dari NGO. Komnas HAM. Amnesti internasional dsb.

Benar bahwa kekuasaan kehakiman itu bebas merdeka. Independen. Tapi tidak bisa para hakim di Indonesia menutup mata dan telinga dari sorotan internasional. Argumentasi para penolak hukuman mati patut disimak juga... kalau boleh meminta kesediaan para yang mulia di meja hijau itu.

Kemarin saya baru saja menulis permintaan agar hakim-hakim melakukan moratorium vonis mati. Hari ini dua terpidana divonis mati oleh MA. Itulah Indonesia... negara Pancasila!

1 comment:

  1. Pancasila itu dasar negara. Memang betul, tetapi tiap sila ada perkecualiannya, ada pasal "asal".

    KeTuhanan Yang Maha Esa, asal tidak menyentil yang mayoritas. Kalau tidak, klenteng dibakar, gereja ditutup, mesjid ahmadiyah diserbu.

    Kemanusiaan yang adil dan beradab, asal bukan pengedar narkoba yg jadi sumber ketidaksenangannya Jokowi. Kalau itu, hukuman mati. Persatuan Indonesia, asal ... Bandingkan, kalau Aceh, dapat bagian dari pengeboran minyak, dan boleh pake hukum sendiri yang berbeda dengan hukum nasional. Kalau Papua, gak bisa. Kenapa? Pikirin dewe.

    Kerakyatan, asal bayar atau bisa mengumpulkan sejuta KTP. Kalau gak, ya jangan harap jadi caleg atau cagub. Keadilan sosial, asal mau antre yang lama dan panjang di rumah sakit.

    Pancasila opo Panc-asal-a?

    ReplyDelete