08 July 2016

Euro 2016 jadi kompensasi yang asyik

Libur begini ngapain ya?

Hmm.. iseng-iseng nonton Youtube. Video-video pendek nan menggelitik, kadang kasar, dari Sascha Stevenson. Bule Kanada yang sudah lama tinggal di Indonesia, suaminya orang Sunda itu.

Makin kritis aja si Sascha ini. Mungkin karena dia bule, meski sudah merasa sangat Indonesia, kritikannya sangat tajam, blakblakan, apa adanya. Masalah SARA jadi bahan olok-olok nan renyah.

Salah satu videonya tentang bulan Ramadan yang heboh https://m.youtube.com/watch?v=9iKzztKx7xE. Semua stasiun televisi selama 24 jam bikin program yang bernuansa puasa. Dakwah penuh. Hikmah ramadan dsb dsb...

Celetehan Sascha Stevenson membuat saya tersenyum dan geleng-geleng. Berani benar orang ini. Mengkritik kebiasaan rutin yang sudah dianggap lumrah di Indonesia. Saking lumrahnya, orang Indonesia yang nonmuslim pun menganggap biasa saja.

Mau 24 jam siaran Ramadan, dakwah nonstop, sinetron islami... why not? Pengelola televisi bebas aja. Malah dapat penghargaan dari MUI atau KPI dsb. Tidak perlu ada program yang bernuansa nonmuslim karena ratingnya pasti rendah. Tak ada iklan.

Syukurlah, Sascha datang dengan angle beda. Dia melihat ada supremasi berlebihan dari kaum mayoritas di televisi. Seakan-akan penonton televisi itu semuanya beragama Islam. Bahkan TVRI yang merupakan televisi publik pun tak beda dengan televisi-televisi-televisi swasta yang full Ramadan itu.

Syukurlah, bulan Ramadan tahun ini ada dua turnamen sepakbola akbar. Copa America dan Euro 2016. Semua pertandingan Copa disiarkan Kompas TV. Sementara RCTI juga menayangkan semua laga Piala Eropa mulai babak grup hingga final.

Saya yang memang gandrung bola bersyukur bisa menikmati atraksi pemain-pemain bola kelas dunia. Kehebohan program Ramadan akhirnya mendapat lawan tanding yang luar biasa: Piala Eropa 2016 di Prancis. Meskipun jagoku kalah, Spanyol, laga-laga Euro selama satu bulan ini benar-benar menjadi hiburan segar di tengah kepungan program Ramadan yang nyaris sama dari tahun ke tahun itu.

"Kalau bisa tiap bulan Ramadan ada turnamen sepakbola macam Euro atau Piala Dunia," kata Edi asal NTT yang menjagokan Jerman.

Hehehe... Gak mungkinlah tiap tahun ada turnamen besar. Wong Piala Dunia dan Euro itu empat tahun sekali. Copa America juga begitu. Olimpiade sami mawon.

Lagi-lagi syukurlah, Ramadan 30 hari sudah selesai. Program Ramadan 24 jam sudah diganti mudik macet di mana-mana. Sama-sama tidak menariknya. Syukurlah, pertandingan Prancis vs Jerman pagi tadi sangat menarik.

Tinggal satu laga lagi: Prancis vs Portugal. Dan... pemenangnya adalah... Prancis!

No comments:

Post a Comment