14 July 2016

Alhamdulillah, arus mudik macet total

Ucok Khadafi mendesak Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mundur. Pasalnya, Jonan dianggap tidak becus mengurusi arus mudik Lebaran. Kemacetan panjang terjadi di Jawa Tengah dan kota-kota lain di Jawa jelang Lebaran lalu.

Omongan Ucok yang pengamat dimuat koran utama. Di media sosial lebih heboh lagi. Pemerintah dimaki-maki karena gak becus ngurusin mudik. Opo tumon! Memangnya arus mudik yang dulu-dulu lancar jaya?

Begitulah. Akal sehat di Indonesia sering kali ditelan emosi yang meluap-luap. Politisi, pengamat, NGO, pengusaha, cendekiawan dsb sering asal ngoceh. Lupa akar masalah yang sebenarnya.

Saya sih senyam-senyum saja melihat kemacetan panjang yang disiarkan televisi. Bagus! Syukur-syukur bisa diambil hikmahnya oleh para pemudik yang menggunakan mobil atau sepeda motor. Semoga ada efek jera! Kapok untuk mudik dengan kendaraan pribadi.

Mudiklah dengan kapal laut atau kapal terbang! Dijamin tidak macet.

Mengapa saya tertawa sendiri menanggapi makian pemudik mobil pribadi di media sosial? Karena macet itu sudah jadi makanan sehari-hari di Jawa. Tiada hari tanpa kemacetan karena jalan raya penuh dengan mobil dan motor. Ruas jalan raya sih nyaris tidak bertambah. Jalan tol baru pun sangat terbatas.

Lha, hari biasa aja sudah macet parah, apalagi saat arus mudik? Saat volume kendaraan bertambah 10 sampai 20 kali lipat?

Maka mengharapkan arus mudik lancar jaya itu adalah "hil yang mustahal" - meminjam istilah Asmuni Srimulat. Siapa pun presidennya, siapa pun menteri perhubungannya... arus mudik dan Lebaran tetap akan seperti sekarang. Bahkan lebih parah karena motor dan mobil terus bertambah.

Sudah lama Indonesia masuk jebakan kendaraan pribadi. Sejak 1970an kita terlena dengan motor dan mobil buatan Jepang yang memang nyaman, terjangkau, dan kuat. Pemerintah ikut terbius dengan memberikan subsidi bahan bakar minyak kepada pemilik mobil dan motor.

Kita lupa membangun sistem transportasi umum seperti di negara-negara maju yang beradab. Presiden Jokowi yang merakyat itu pun ikut-ikut menggairahan kendaraan pribadi dengan eksperimen mobil Esemka buatan ana-anak SMK yang katanya lebih murah.

Sama-sama penyakit. Masalahnya bukan mobil/motor buatan Jepang, Italia, Jerman, Tiongkok, Indonesia dsb. Masalah kita adalah jutaan kendaraan pribadi itulah yang bikin sumpek jalan raya.

No comments:

Post a Comment