31 July 2016

11 kelenteng dibakar karena pengeras suara

Kemarin dan hari ini ada berita yang ironis. Bikin kita tersenyum sekaligus prihatin. Menteri agama bangga dengan kerukunan beragama di Indonesia. Pak Menteri bicara saat MTQ di Nusatenggara Barat. Di teks berjalan yang sama muncul berita beberapa kelenteng dibakar massa di Tanjungbalai Sumatera Utara.

Di koran pagi ini Wapres Jusuf Kalla membanggakan toleransi umat beragama di Indonesia. Itu news lead alias berita di bagian atas. Di berita yang sama, koran sama, di bagian bawah diceritakan tempat-tempat ibadah warga Tionghoa di Tanjungbalai. Gara-gara seorang Tionghoa yang ngamuk. Terganggu pengeras suara dari masjid di dekat rumahnya.

Si Tionghoa itu pun sudah dikasih pelajaran oleh massa. Kalau tidak salah rumahnya dibakar. Tapi rupanya warga belum puas. Mereka ramai-ramai membakar 10 kelenteng di kota perikanan itu. Satu rumah duka warga Tionghoa juga dibakar. Total 11 rumah ibadah Tionghoa jadi abu arang.

Luar biasa kualitas toleransi masyarakat Tanjungbalai Asahan. Kota yang sejak dulu dihuni banyak warga Tionghoa itu pun langsung jadi buah bibir di mana-mana. "Kami sejak dulu rukun dan damai. Sumatera Utara itu Indonesia mini," begitu pernyataan seorang tokoh agama di Metro TV.

Hehe... Indonesia mini. Rukun damai. Sangat toleran. Kata-kata ini ibarat guyonan yang tidak lucu. Toleran kok membakar 11 kelenteng dalam sekejap. Oleh ribuan orang yang terkoordinasi?

Kalau tersinggung dengan ucapan seorang warga Tionghoa, mengapa bukan oknum itu saja yang dipolisikan? Mengapa harus membakar begitu banyak kelenteng? Tempat ibadah atau pemujaan yang tidak tahu apa-apa?

Sekali lagi, kasus SARA di Tanjungbalai ini memperlihatkan betapa rapuhnya integrasi bangsa ini. Di permukaan seolah-olah rukun damai guyub tapi sejatinya ada bara kebencian di bawah. Bak api dalam sekam.

Maka ketika dapat momentum, provokasi via media sosial, meletuslah angkara murka itu. Gak puas membakar rumah si wanita kenthir itu, tapi 11 kelenteng. Wow, tidak sedikit lho sebelas kelenteng/wihara! Di Jawa Timur kebanyakan satu kabupaten/kota hanya ada satu kelenteng. Kecuali Surabaya.

Saya bisa bayangkan betapa banyaknya orang Tionghoa di Tanjungbalai. Saya juga tidak tahu berapa banyak kelenteng yang tidak dibakar. Tapi setidaknya 11 kelenteng ini memperlihatkan betapa orang Tionghoa sudah begitu lama ada di Tanjungbalai. Kok bisa terjadi amuk massa yang luar biasa seperti ini?

Suasana sudah aman terkendali, kata polisi di TV. Klise. Bagaimana mungkin aparat keamanan setempat tidak bisa mendeteksi gerakan massa. Menunggu sampai 11 kelenteng jadi abu?

Membangun kembali kelenteng-kelenteng-kelenteng itu tentu tidak sulit. Orang Tionghoa di Tanjungbalai juga bisa sembahyang di rumah atau di mana saja. Tapi membangun kembali kepercayaan, harmoni, toleransi, tenggang rasa... sangat sangat sangat tidak mudah.

No comments:

Post a Comment