31 July 2016

11 kelenteng dibakar karena pengeras suara

Kemarin dan hari ini ada berita yang ironis. Bikin kita tersenyum sekaligus prihatin. Menteri agama bangga dengan kerukunan beragama di Indonesia. Pak Menteri bicara saat MTQ di Nusatenggara Barat. Di teks berjalan yang sama muncul berita beberapa kelenteng dibakar massa di Tanjungbalai Sumatera Utara.

Di koran pagi ini Wapres Jusuf Kalla membanggakan toleransi umat beragama di Indonesia. Itu news lead alias berita di bagian atas. Di berita yang sama, koran sama, di bagian bawah diceritakan tempat-tempat ibadah warga Tionghoa di Tanjungbalai. Gara-gara seorang Tionghoa yang ngamuk. Terganggu pengeras suara dari masjid di dekat rumahnya.

Si Tionghoa itu pun sudah dikasih pelajaran oleh massa. Kalau tidak salah rumahnya dibakar. Tapi rupanya warga belum puas. Mereka ramai-ramai membakar 10 kelenteng di kota perikanan itu. Satu rumah duka warga Tionghoa juga dibakar. Total 11 rumah ibadah Tionghoa jadi abu arang.

Luar biasa kualitas toleransi masyarakat Tanjungbalai Asahan. Kota yang sejak dulu dihuni banyak warga Tionghoa itu pun langsung jadi buah bibir di mana-mana. "Kami sejak dulu rukun dan damai. Sumatera Utara itu Indonesia mini," begitu pernyataan seorang tokoh agama di Metro TV.

Hehe... Indonesia mini. Rukun damai. Sangat toleran. Kata-kata ini ibarat guyonan yang tidak lucu. Toleran kok membakar 11 kelenteng dalam sekejap. Oleh ribuan orang yang terkoordinasi?

Kalau tersinggung dengan ucapan seorang warga Tionghoa, mengapa bukan oknum itu saja yang dipolisikan? Mengapa harus membakar begitu banyak kelenteng? Tempat ibadah atau pemujaan yang tidak tahu apa-apa?

Sekali lagi, kasus SARA di Tanjungbalai ini memperlihatkan betapa rapuhnya integrasi bangsa ini. Di permukaan seolah-olah rukun damai guyub tapi sejatinya ada bara kebencian di bawah. Bak api dalam sekam.

Maka ketika dapat momentum, provokasi via media sosial, meletuslah angkara murka itu. Gak puas membakar rumah si wanita kenthir itu, tapi 11 kelenteng. Wow, tidak sedikit lho sebelas kelenteng/wihara! Di Jawa Timur kebanyakan satu kabupaten/kota hanya ada satu kelenteng. Kecuali Surabaya.

Saya bisa bayangkan betapa banyaknya orang Tionghoa di Tanjungbalai. Saya juga tidak tahu berapa banyak kelenteng yang tidak dibakar. Tapi setidaknya 11 kelenteng ini memperlihatkan betapa orang Tionghoa sudah begitu lama ada di Tanjungbalai. Kok bisa terjadi amuk massa yang luar biasa seperti ini?

Suasana sudah aman terkendali, kata polisi di TV. Klise. Bagaimana mungkin aparat keamanan setempat tidak bisa mendeteksi gerakan massa. Menunggu sampai 11 kelenteng jadi abu?

Membangun kembali kelenteng-kelenteng-kelenteng itu tentu tidak sulit. Orang Tionghoa di Tanjungbalai juga bisa sembahyang di rumah atau di mana saja. Tapi membangun kembali kepercayaan, harmoni, toleransi, tenggang rasa... sangat sangat sangat tidak mudah.

Hakim MA jadi pencabut nyawa

Masih soal hukuman mati. Koran pagi ini memberitakan majelis hakim kasasi MA memvonis mati Budiman dan Arifin. Keduanya terpidana kasus sabu 8 kg di Gedangan Sidoarjo. Tiga hakim pemutus mati itu Surya Jaya, Sri Murwahyuni dan Artidjo Alkostar.

Sebelumnya kedua terdakwa divonis seumur hidup di PN Surabaya. Tuntutan jaksa: hukuman mati! Di pengadilan tinggi pidana mati. Naik banding ke MA, hasilnya itu: mati.

Apa boleh buat. Sekali lagi ini membuktikan bahwa para hakim di MA masih senang dengan hukuman mati. Sebab bandar macam Budiman dan Arifin dianggap perusak anak bangsa. Tidak pantas hidup di bumi Indonesia. Lebih baik ditembak mati daripada membiarkan bandar-bandar narkoba ini hidup.

Apakah salah vonis mati ini? Tidak salah. Hukum positifnya ada. Suasana kebatinan rakyat Indonesia, mayoritas, pun begitu. Tapi haruskah hukuman mati di mahkamah tertinggi ini dijatuhkan?

Rupanya para hakim kita, khususnya di MA, sama sekali tidak terketuk hatinya dengan kebijakan penghapusan hukuman mati di 140 negara di dunia. Permintaan PBB, Vatikan, Amnesti Internasional, bahkan Komnas HAM pun tidak direken. Pun permintaan mantan Presiden BJ Habibie dan SBY lewat Partai Demokrat.

Maka daftar nama terpidana yang menunggu giliran ditembak mati bertambah dua lagi. Kejaksaan mau tidak mau dipaksa untuk melaksanakan eksekusi mati di Nusakambangan atau tempat lain. Gara-gara vonis MA berkekuatan hukum tetap.

Presiden Jokowi selaku eksekutif pun dalam posisi serba salah. Pasti dapat tekanan internasional. Dari NGO. Komnas HAM. Amnesti internasional dsb.

Benar bahwa kekuasaan kehakiman itu bebas merdeka. Independen. Tapi tidak bisa para hakim di Indonesia menutup mata dan telinga dari sorotan internasional. Argumentasi para penolak hukuman mati patut disimak juga... kalau boleh meminta kesediaan para yang mulia di meja hijau itu.

Kemarin saya baru saja menulis permintaan agar hakim-hakim melakukan moratorium vonis mati. Hari ini dua terpidana divonis mati oleh MA. Itulah Indonesia... negara Pancasila!

30 July 2016

Sinetron eksekusi mati harus distop

Sebanyak 14 terpidana sudah dibawa ke lapangan tembak di Nusakambangan Cilacap. Tinggal hitungan menit timah panas merenggut nyawa para bandar narkoba itu. Hujan deras, petir menggelegar.

Wartawan yang berjaga di Nusakambangan sejak dua tiga hari sebelumnya kecele. Ternyata yang ditembak mati hanya 4 orang. Puji Tuhan, 10 orang selamat. Masih ada peluang untuk hidup.

Apakah ini cuma menunda eksekusi atau batal? Kita tunggu saja. Banyak orang yang protes jaksa agung dan pemerintah. Kok tidak konsisten? Mencla-mencle? Persiapannya kan sudah makan biaya?

Tapi saya justru sangat bersyukur dengan penundaan ini. Lebih bagus lagi kalau dibatalkan eksekusi mati sesama manusia ciptaan Tuhan. Saya melihat ada secercah cahaya, setitik asa, yang menggembirakan. Bahwa pemerintah Indonesia kali ini, khususnya jaksa agung, dan pemerintah mulai lebih mendengar masukan-masukan dari pihak yang menolak hukuman mati.

Suasananya sangat berbeda dengan eksekusi jilid satu (kayak buku aja pake dijilid) ketika Jokowi belum lama jadi presiden. Waktu itu yang muncul adalah pokoknya pokoknya pokoknya... pokoknya para bandar narkoba itu ditembak. Agar ada efek jera. Indonesia sudah darurat narkoba dsb dsb.

Kali ini agak lain. Sebelum eksekusi mantan Presiden BJ Habibie menulis surat kepada Presiden Jokowi. Minta agar hukuman mati dihapus dari Indonesia. Jangan ada lagi eksekusi mati karena 140 negara sudah tidak memberlakukan hukuman mati. Paling tidak moratorium.

Luar biasa Pak Habibie. Seorang cendekiawan muslim yang luar biasa jenius, ahli kapal terbang, ketua dan pendiri ICMI, ternyata punya pandangan seperti ini. Benar-benar beda dengan 90 persen (bahkan 95 persen) orang Indonesia yang sangat pro hukuman mati.

Tak hanya BJ Habibie, nunggu lalu Partai Demokrat secara terbuka menolak hukuman mati dimasukkan dalam KUHP yang baru. Tentu saja sikap Demokrat yang berbeda dengan fraksi-fraksi lain di DPR RI ini tentu tak lepas dari arahan ketua umumnya Pak SBY yang tak lain mantan presiden Republik Indonesia. Tidak mungkin sikap Partai Demokrat soal hukuman mati ini di luar arahan dan filosofi SBY.

Mantan presiden yang satu lagi, Bu Megawati Soekarnoputri, sayangnya tidak bersikap. Diam aja. Meski diam itu tidak selamanya emas. Menurut saya, mantan Presiden Megawati yang partainya tengah berkuasa harus punya sikap soal eksekusi mati ini.

Begitulah. Pemerintah Indonesia, khususnya kejaksaan, selalu jadi bulan-bulanan jelang dan sesudah eksekusi mati. Kita sering lupa bahwa jaksa hanya eksekutor. Pelaksana putusan pengadilan. Yang memvonis mati itu hakim di pengadilan negeri sampai mahkamah agung. Majelis hakim sangat jarang disorot.

Ketimbang menunggu penghapusan hukuman mati di hukum positif, yang pasti mustahil karena Demokrat sendirian di parlemen, menurut saya, korps hakimlah yang perlu melakukan moratorium. Biarkan saja hukuman mati ada di KUHP dan undang-undang antinarkoba dan UU lain. Tapi majelis hakim yang mulia janganlah menjatuhkan hukuman mati untuk SEMUA terdakwa.

Toh hukuman mati itu vonis yang super super maksimal. Cukuplah vonis maksimal seumur hidup di dalam penjara. Selama ini sangat jarang hakim menjatuhkan hukuman maksimal. Biasanya ancaman hukuman maksimal 15 tahun divonis 7 atau 10 tahun. Diancam seumur hidup, divonis 15 tahun. Itu pun nantinya dapat remisi berkali-kali sehingga si terpidana bisa bebas lebih cepat.

Bukankah pemerintah sudah lama mengganti istilah penjara dengan lembaga pemasyarakatan? Lha, kalau ditembak mati, terus buat apa pembinaan narapidana di lapas? Kalau napi-napi lain dapat remisi, si terpidana mati kok gak dapat remisi? Harusnya mereka juga dapat remisi menjadi seumur hidup atau sekian tahun.

Syukur-syukur, semua jaksa di Indonesia pun tidak lagi mencantumkan hukuman mati di berkas tuntutannya. Sebab tuntutan jaksa ini biasanya selalu dijadikan acuan majelis hakim untuk memvonis mati terdakwa.

"Penggunaan hukuman mati terutama dalam perang melawan narkoba merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional...," begitu pernyataan Amnesti Internasional.

Semoga sinetron serial dari Pulau Nusakambangan di Cilacap Jawa Tengah ini segera diakhiri. Meskipun rating-nya sangat tinggi di televisi.

29 July 2016

Kehilangan Anies Baswedan, Rizal Ramli, dan Ignasius Jonan

Presiden Joko Widodo baru saja merombak kabinetnya. Puan Maharani sudah pasti aman meskipun sering jadi bulan-bulanan netizen. Rizal Ramli, Ignatius Jonan, Anies Baswedan dicopot. Ini yang bikin saya sedih karena tiga menteri ini sangat asyik dan inspiratif. Paling tidak sesuai selera saya.

Jonan blakblakan ala arek Surabaya. Out of the box, kata pakar manajemen. Juga sangat disiplin. Dia pernah memarahi seorang bupati berpengaruh di Jawa Timur karena molor saat acara peresmian kereta api baru.

"Anda harus kasih contoh dong," kata Menteri Perhubungan Jonan saat itu. Wuedan... wong tuwek kok diseneni! Karena bagi Jonan waktu itu uang. Disiplin harga mati.

Mantan dirut PT Kereta Api Indonesia ini juga berani menolak peresmian terminal baru di Bandara Soekarno-Soekarno-Hatta karena ada yang tidak beres. Dia minta diperbaiki dulu. Angkasa Pura geger. Sebab Presiden Jokowi sudah dijadwalkan untuk meresmikan sebelum arus mudik Lebaran.

Menteri Jonan konsisten dengan prinsipnya. Maka terjadilah apa yang kini terjadi. Jonan dicopot. Diganti dirut Angkasa Pura yang pernah perang dingin dengan Jonan. Jonan juga dinilai gagal mengurus angkutan Lebaran kemarin. Saya tidak pernah menyalahkan Jonan dan menhub-menhub-menhub lain karena lalu lintas di Jawa memang sudah kayak neraka.

Rizal Ramli asyik banget. Dia pakai ilmu kepret untuk membongkar sistem yang mandeg. Penjelasan soal ekonomi selalu sederhana, tajam, dan mudah dipahami rakyat awam. Tapi dia tidak cocok dengan Wapres Jusuf Kalla dan tim ekonomi. Maklum beda mazhab ekonomi.

Maka Rizal Ramli yang justru dikepret. Kita kehilangan salah satu pejabat yang pernyataan dan tindakannya out of the box. Betul dia bikin bising. Tapi arus diskusi dan polemik jadi hidup karena Rizal Ramli. Suasana yang tidak pernah ada di era sebelumnya.

Anies Baswedan? Menteri pendidikan yang sangat inspiratif dan cerdas. Selalu tersenyum, santun, penuh ide. Dalam waktu hanya 20 bulan Anies meninggalkan jejak yang nyata di dunia pendidikan kita. Guru-guru pun mengusulkannya.

Jauh sebelum jadi menteri, Anies Baswedan kerap menulis artikel yang inspiratif. Kemudian bikin Indonesia Mengajar. Lulusan universitas dia kirim ke daerah terpencil untuk menyapa dan memotivasi anak Indonesia. Dia bikin anak-anak kampung lebih percaya diri.

Berbeda dengan menteri-menteri lain yang baru dekat Jokowi belakangan, mas Anies merupakan juru bicara dan tangan kanan Jokowi saat pemilihan presiden. Anies menangkis berbagai serangan kepada Jokowi dengan elegan dan cerdas. Serangan gencar bermuatan SARA.

Anies yang cucu pahlawan AR Baswedan, keturunan Timur Tengah, sangat menguasai kajian Islam, alumni HMI, rektor Universitas Paramadina yang islami memberikan kontra argumentasi yang mencerahkan. Enak sekali dinikmati ketika ia bicara di televisi.

Maka sejak awal saya yakin banget Anies Baswedan jadi menteri pendidikan. Betul. Apalagi Anies pula yang diminta Presiden Jokowi menyusun kerangka kabinet yang diberi nama kabinet kerja. Wow, Anies Baswedan pasti sangat kuat. Selalu ada di sanping Jokowi.

Kali ini saya salah. Politik sangat dinamis. Partai-partai yang dulu berada di kubu Prabowo pindah haluan ke Jokowi. Sudah pasti ingin dapat jatah menteri. Kabinet harus dirombak. Banyak menteri akan diganti. Dan saya tetap yakin Anies Baswedan akan aman di posisinya - seperti Puan Maharani Putri Megawati.

Lha, kok Anies Baswedan dicopot? Diganti Pak Muhadjir Efendi dari Muhammadiyah?

Okelah. Muhammadiyah memang belum diakomodasi di kabinet. Tapi tadinya saya masih yakin Anies, sahabat lama Jokowi, hanya digeser jadi menteri lain.

Eh... ternyata dicopot. Hilang dari kabinet. Ada apa dengan Jokowi? Pak Presiden tentu punya alasan khusus mencopot orang terdekat dengan kompetensi sekaliber Anies Baswedan. Begitu banyak analisis dan spekulasi di media sosial.

"Mas Anies dicopot karena lupa bikin SK agar orang tua menjemput anaknya di sekolah. Dia cuma bikin SK agar orang tua mengantar anaknya ke sekolah. Lha, kalau gak dijemput kan kasihan anaknya," kata Cak Priyo pelawak di Sidoarjo.

Begitulah politik. Tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang abadi cuma kepentingan. Semoga Anies Baswedan, Rizal Ramli, dan Ignatius Jonan tetap berkarya demi menjadikan Indonesia hebat seperti yang sering dipidatokan Menteri Puan Maharani.

Opone sing hebat Cak?

28 July 2016

Sok Inggris tapi salah eja

Maksud hati ingin keren, gaul, nginggris... malah jadi bahan tertawaan. Perhatikan papan iklan di perempatan kawasan Sedati Sidoarjo. Persis di pintu keluar terminal domestik Bandara Internasional Juanda.

Apa gak salah lihat nih? Karena sering lewat di situ, saya mengeja huruf-huruf di papan dengan latar merah itu. AVAILABLE atau AVAILEBEL? Hehehe....

Anggap saja salah ketik. Salah tulis. Tapi kok nemen banget? Kan bisa diperiksa dulu sebelum dipasang? Masak sih orang Sidoarjo tidak tahu penulisan AVAILABLE? Kalau sudah ketahuan salah tulis, mengapa tidak segera dikoreksi?

Kok tetap dipasang? Sebagai warga Sidoarjo, yang kebetulan wilayahnya punya Bandara Juanda, saya ikut malu. Kita sok berbahasa Inggris, agar terlihat hebat, berwawasan global, internasional, tapi malah kontra produktif. Bikin malu (dan mual) aja.

Penyakit nginggris, begitu istilah sastrawan Remy Sylado, memang makin gila di Indonesia. English jadi dewa baru. Bahkan minggu lalu ada anggota DPR RI, Teguh Juwarno, yang meminta agar anak-anak sekolah tidak perlu dapat pelajaran bahasa daerah. Kuno. Bahasa daerah itu masa lalu, katanya.

Mas Teguh dari PAN itu meminta pemerintah agar bahasa Inggris yang diperbanyak. Bila perlu guru-guru pakai bahasa pengantar English. Pernyataan Teguh ini sempat jadi bahan diskusi, plus olok-olok, di media sosial.

Tapi begitulah... obsesi terhadap bahasa Inggris memang luar biasa tinggi. Anak-anak TK di Jawa Timur pun sudah mulai dibiasakan orang tuanya berbicara English. Iklan-iklan pakai English.

Nama klub sepak bola pun pakai English. Persatuan Sepakbola Sidoarjo (Persida) sekarang jadi Sidoarjo United. Di Surabaya ada Surabaya United yang sekarang ganti nama jadi Bhayangkara Surabaya United. Di kawasan Taman Sidoarjo ada klub namanya Rocket Sepanjang Football Club.

Gak papa. Semakin banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Inggris tentu bagus. Tapi mbok yo kalau bikin reklame di pinggir jalan, apalagi di kawasan bandara internasional yang terkenal itu, perhatikan ejaan yang benar. Biar gak jadi bahan tertawaan bule-bule backpacker yang biasa jalan kaki di sekitar situ.

25 July 2016

Wabah Sakit Gila Update Status



Cukup banyak temanku yang hobinya update status BBM. Sehari bisa lima kali, enam atau tujuh kali. Bahkan ada seorang bekas reporter, baru lulus universitas swasta di Surabaya, yang update status sampai 15 kali sehari. Wuedan tenan!

Update status di media sosial itu sudah kayak kebutuhan. Nona manis itu rajin ganti foto selfie, gambar wallpaper, ayat suci.. ikut seminar ini itu, wisata di sana sini, nonton film XYZ dsb dsb. Saya yang rada gaptek pun otomatis dinotifikasi. Awalnya sih masih sempat baca. Tapi lama-lama bosan dan malas. Kita seakan dipaksa menikmati kegilaan teman-teman di media sosial.

Ada lagi bekas reporter juga yang baru lulus. Sempat jadi pekerja media selama tiga bulan, kemudian lengser. Jadi karyawan kantoran. Cewek ini juga doyan banget update status. Apa saja yang remeh-temeh ditulis. Selalu dibagikan di media sosial itu. Kemarin dia ganti status lima kali.

Saya sebaliknya. Tidak pernah update status. Satu-satunya perubahan status: "BBM ini segera berakhir masa tugasnya. Harap maklum!"

Status itu saya buat bulan lalu. Sebab ponsel khusus BBM memang sudah saatnya ditinggalkan karena tidak efisien dan ketinggalan zaman. Harus beli paket BBM plus push email dan internet. Pun tak bisa untuk aplikasi lain.

Sebetulnya saya ingin menghapus nama-nama kontak yang gila update status. Tapi gak enak karena mereka teman-teman yang penting. Banyak informasi bagus sering saya dapat dari mereka. Maka cara terbaik adalah menyembunyikan atau nonaktifkan notifikasi.

Caranya? Tiga kenalan muda, 20an tahun, yang saya tanya ternyata tidak tahu. Saya coba utak atik sendiri pun sulit. Oh... mbah Google pasti tahu. Benar saja. Ada beberapa blogger yang bahas persoalan ini. Persis seperti yang aku alami. Bosan dinotifikasi update status teman-teman yang gak karuan itu.

Salah satu blogger menyajikan petunjuk yang sederhana. Aha, langsung saya coba saat menerima notif dari teman muda yang gila update status itu. Sederhana sekali. Umpannya ditekan lalu tinggal cawang "semua". Beres!

Saya ketawa sendiri. Hanya untuk menghentikan banjir notifikasi saya butuh waktu hampir satu bulan. Malu bertanya sesat di jalan. Google jadi tempat bertanya terbaik.

Setiap orang memang punya hobi dan karakter yang berbeda. Ada orang yang gila update status dan ada yang tidak. Suka-suka. Bebas. Yang jadi masalah adalah perubahan status itu selalu dilaporkan oleh mesin bernama media sosial.

Seakan-akan si Fulan berkata, "Wahai teman-teman, lihatlah statusku sekarang. Aku sekarang di Shanghai. Besok Beijing. Besoknya lagi Hongkong...." Lengkap dengan foto selfie mejeng di objek wisata. Kayak pamer kepada dunia bahwa duitnya buanyaaak sehingga bisa ngelencer keliling bumi.

Setelah saya dalami, penyakit gila update status ini lebih banyak menimpa pengguna medsos yang berusia 20an tahun. Sehari minimal lima kali update status. Bisa jadi karena merekalah netizen sejati. Warga negara internet. Beda dengan 30an ke atas yang baru belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi.

Tapi memang banyak juga orang 40an tahun, bahkan 60an, kayak Pak JB di Sidoarjo, yang juga doyan update status. Gak papa!

Silakan mau update status 10 kali, 100 kaki.. sehari! Sebab aku sudah menyembunyikan umpan-umpan itu. Silakan engkau baca sendiri.

22 July 2016

Hujan terus di musim kemarau 2016

Pagi ini hujan deras di sekitar Bandara Juanda, Kecamatan Sedati Sidoarjo. Mulai pukul 06.00 sampai 08.00. Kemarin juga begitu. Kemarinnya lagi. Hampir tiap hari hujan meski siang dan sore biasanya cerah.

Bulan Juli, mau Agustus, kok hujan rutin? Apakah sekarang masih musim hujan? Inikah yang dinamakan perubahan iklim itu? Climate change? Entahlah.

Pak Bambang dari BMKG Juanda punya penjelasan yang ilmiah soal ini. Tentang kenaikan suhu permukaan laut. Stok awan yang menjadi bibit hujan dsb dsb. "Sampai bulan Agustus hujan akan terus terjadi di Sidoarjo Surabaya dan sekitarnya," kata Pak Bambang.

Bahkan, menurut BMKG Juanda, ada kemungkinan hujan musim kemarau ini bakal nyambung dengan hujan asli di musim hujan. Sehingga kita bisa menikmati air hujan secara rutin sepanjang tahun. Luar biasa curahan hujan yang merupakan karunia Tuhan itu.

Sebagai orang yang dekat dengan alam dan pertanian, juga bersahabat dengan para tukang kebun dan taman di Sidoarjo, saya sangat bersyukur dengan hujan yang melimpah. Tanah jadi basah terus. Tanaman-tanaman tidak perlu disiram lagi. Alam jadi hijau.

Tahun lalu saya stres berat karena belasan tanaman yang saya tanam di Candi Tawangalun mati. Kekeringan. Wilayah Buncitan itu memang kering luar biasa di musim kemarau. Tak ada sumur. Jaringan PDAM Sidoarjo pun belum masuk. Mirip kampung kering di NTT.

Kami pun bersama 500an orang melakukan penghijauan di situ tiga tahun lalu. Bibitnya bagua dan mahal. Hasilnya? Mati semua. Tak ada satu pun yang selamat. Selain kurang air, tanamannya tidak cocok. Yang cocok itu klampis, waru, kaktus.. dan beberapa tanaman khas daerah kering.

"Alhamdulillah, sekarang hujan terus. Kita bisa penghijauan lagi," kata Saiful Munir teman saya yang jadi pemelihara Candi Tawangalun.

Bibit sih banyak di Sidoarjo. Bisa minta ke dinas kebersihan dan pertamanan. Tapi saya masih trauma dengan kematian ribuan tanaman yang dulu itu. Mending tidak usah dulu. Biarkan klampis dan kepuh yang ditanam Saiful berkembang jadi pohon besar. Saya masih trauma kalau bikin program kayak dulu... kemudian mati semua!

Pulang dari Candi Tawangalun, tak jauh dari Bandara Juanda, saya teringat kampung halaman di NTT. Akhir Desember dan awal Januari lalu, orang-orang di kampung saya yang hampir seluruhnya petani berdukacita. Tanaman-tanaman mati atau setengah mati. Sebab tidak ada hujan setelah jagung tumbuh 30an sentimeter.

"Semoga tidak terjadi kelaparan tahun ini...," begitu ujud doa saat ekaristi alias misa di kampung.

Aneh banget... Di bulan-bulan yang seharusnya hujan - Desember Januari Februari - justru hampir tidak ada hujan di NTT. Curah hujan terlalu minim untuk mengairi tanaman yang sejatinya hanya butuh sedikit air.

Saya belum cek curah hujan di NTT di saat Jawa Timur lagi panen hujan di musim kemarau. Tapi bisa dipastikan NTT pun turun hujan meski tidak sebanyak di Jatim.

Apakah petani-petani akan menanam jagung di musim kemarau? Siapa yang jamin hujan akan stabil selama dua tiga bulan? BMKG toh hanya lembaga peramal cuaca. Prakiraan cuacanya pun sering meleset.

Semoga saja kita semua mau belajar mengenali alam yang makin berubah ini. Dan semoga tidak ada kelaparan.

HP Tiongkok makin berkelas

Tiongkok saat ini sudah jauh berbeda dengan awal 2000an. Produk-produk made in China bukan lagi kelas ecek-ecek yang mudah rusak. Sudah lama kita tak mendengar kata mocin dan sejenisnya yang mencibir produk buatan Tiongkok.

Tiongkok sudah berubah. Mereka belajar banyak dari pengalaman mengembangkan teknologi. "Tiongkok yang tadinya hanya meniru sekarang lebih aktif di inovasi," kata Hermawan Kartajaya pakar marketing dalam sebuah diskusi di Surabaya kemarin.

Lupakan motor made in China macam Jialing yang sudah lama tutup buku di Jawa Timur. Sekarang ini ponsel buatan Tiongkok sudah jadi incaran masyarakat. Harganya pun tak bisa dibilang murah. Bandingkan dengan HP China lawas yang harganya setara sekali makan di restoran. Dan cepat rusak dalam hitungan hari.

Saya sendiri membeli HP merek Huawei saat demam Piala Dunia di Afrika Selatan tahun 2010. Huawei yang bukan android itu memang lagi promosi memanfaatkan demam Piala Dunia. Harganya cuma Rp 200 ribu. Sampai sekarang ponsel mirip Nokia dan BB itu masih sehat walafiat.

Kelemahannya cuma suara musik yang gak enak didengar karena cempreng suaranya. Internet pun harus beli browser lawas opera. Tapi kalau cuma untuk menelepon dan SMS masih sangat oke. Huawei lawas ini tidak ada lagi di pasar.

Huawei sekarang canggih bukan main. Tidak kalah sama Samsung. Pak Dahlan Iskan mantan menteri BUMN pun pakai Huawei edisi mutakhir yang canggih. Cukup banyak klub sepak bola elite Eropa yang disponsori Huawei. Mana mungkin produk ecek-ecek jadi sponsor klub besar sekelas Atletico Madrid?

Setelah Huawei, ponsel China yang lagi hot di Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, adalah Oppo. "Opo kuwi?" begitu pertanyaan orang-orang yang penasaran.

Awalnya Oppo dikira kelasnya kayak HP made in China buatan perajin rumahan yang asal tempel merek. Alah, paling juga murahan. Cepat rusak. Modele tok sing apik! Tapi waktu jugalah yang akhirnya jadi hakim terbaik. Saat ini Oppo sangat sukses di pasar. Branding di mana-mana.

Kalau anda melintas ke Bandara Juanda lewat Rungkut, Pondok Candra, Tripodo Sidoarjo... lihatlah betapa banyak logo khas Oppo di toko-toko pinggir jalan. Konsumennya pun banyak. "Aku sudah lama pakai Oppo. Enak buat motret dan medsos," kata Yanti yang tinggal dekat Juanda.

Ehmm... saya akhirnya makin ngeh dengan kebangkitan imej dan penetrasi Oppo setelah mengikuti berita sekilas di televisi kemarin dan tadi pagi (ulangan). Oppo yang menggandeng Barcelona sedang promosi di Jakarta. Luar biasa! Berarti Oppo ini bukan ponsel kelas ecek-ecek seperti tuduhan sejumlah orang di Indonesia.

Saya pun teringat obrolan dengan Mr Fu Shuigen di Surabaya beberapa tahun lalu. Saat itu Mr Fu konsul jenderal Tiongkok. Kami ngobrol serius tapi santai tentang serbuan produk-produk Tiongkok ke Indonesia. Begitu murahnya dan begitu cepat rusaknya.

Mr Fu pun tersenyum. Lalu dia bilang negaranya sangat serius mengembangkan teknologi yang bermutu dengan harga yang terjangkau. Beberapa tahun lagi ponsel buatan Tiongkok jadi sangag berkualitas dan disukai masyarakat. Mr Fu pun kembali ke negaranya.

Sekarang saya baru sadar ternyata visi besar pemeritah RRT yang disampaikan Mr Fu itu terbukti. Bahkan jauh melebihi bayangan saya.

16 July 2016

Ririt Surya Duta Bandara Juanda 2016

Namanya cukup panjang: Muryati Suryaning Pungkasari. Tapi gadis asal Pasuruan ini biasa disapa Ririt Surya. Di musim arus mudik Lebaran ini Ririt betugas di Bandara Internasional Juanda Surabaya di kawasan Sedati Sidoarjo.

Meski bertugas di airport, Ririt bukan karyawan PT Angkasa Pura I atau maskapai penerbangan. Gelar resminya Duta Bandara Juanda 2016. Ada empat duta bandara - semuanya nona manis - yang bertugas giliran di Bandara Juanda.

"Saya tugas dari pagi sampai jam tiga sore," ujar Ririt kepada saya kemarin. Di ruang khusus Tourist Information Center itu Ririt sibuk membaca informasi di laptopnya. Informasi tentang penerbangan dan pariwisata.

Saya sendiri kaget kok ada duta bandara yang pakai sabuk ala duta wisata di Bandara Juanda. Dulu-Dulu-dulu tidak pernah ada. Nah, Ririt mengakui duta bandara ini memang program baru dari PT Angkasa Pura I. Semua bandara di lingkungan Angkasa Pura I mulai awal Juni 2016 dimeriahkan dengan duta bandara kayak Ririt Surya ini.

"Waktu itu ada pengumuman, saya coba daftar. Alhamdulillah, lolos terus sampai babak final di Bali. Saya terpilih sebagai duta persahabatan," tutur mahasiswa semester akhir Universitas Malang ini.

Selain wawasan kendaraan, para duta bandara ini tentu dituntut kemampuan bahasa Inggris aktif. Sebab mereka harus menghadapi penumpang internasional yang sewaktu-waktu. Penampilan fisik jelas oke. Tinggi dan berat seimbang. Cakep. Komunikatif.

Yang tak kalah penting, kata Ririt, pengetahuan tentang pariwisata di Jawa Timur. Sebab Bandara Juanda di Sidoarjo ini merupakan pintu masuk Jawa Timur. Ririt dan tiga temannya pun harus mempelajari objek wisata di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.

"Beda dengan Cak Ning Surabaya atau Surabaya yang hanya mendalami pariwisata di kabupatennya thok," kata Ririt yang juga duta wisata Kabupaten Pasuruan. Dia juga ikut Raka-Raki Jatim sehingga wawasannya tentang pariwisata Jawa Timur memang di atas rata-rata.

Berbeda dengan duta wisata, yang hanya bertugas dalam kegiatan terbatas di lingkungan pemerintah kabupaten/kota, bahkan lebih banyak nganggurnya, Ririt Surya dan tiga rekannya ngantor di Bandara Juanda empat hari seminggu. Satu duta bandara di terminal 1, satu lagi di terminal 2. Kemudian gantian sama temannya sore.

Kok kayak karyawan bandara? Apa kamu dapat bayaran? Ririt pun tersenyum. "Alhamdulillah, adalah," ujarnya seraya tersenyum manis.

Suka dukanya? Ririt bilang lebih banyak suka daripada duka jadi duta bandara. Bisa mengenal banyak orang dengan karakter yang berbeda, logat dan asal usul yang berbeda, punya banyak teman baru, dan pengalaman kerja yang tak dimiliki gadis-gadis seumuran. Juga kenal dengan orang-orang penting di Angkasa Pura selaku pengelola bandar udara.

Ini semua menjadi modal bagi Ririt untuk membangun karir setelah lulus nanti. Ngobrol dengan duta bandara seperti Ririt ini memang asyik. Tapi saya harus tahu diri karena dia harus melayani pertanyaan-pertanyaan penumpang yang butuh informasi.

Maka, saya pun pamit dan mengucapkan terima kasih. Good luck Ririt!

Indomaret gilas toko legendaris di Tretes

Dua tahun lebih saya tidak mampir ke kawasan Tretes Pasuruan. Kota pegunungan sejuk tempat warga Tionghoa Surabaya berlibur. Juga tempat favorit kawan-kawan aktivis bikin kegiatan.

Saat datang lagi siang ini, saya lihat tak banyak perubahan. Cuacanya masih enak, sejuk. Tidak perlu AC karena suhu di bawah 25 derajat Celcius. Masih ramai pedagang kaki lima di depan Hotel Surya. Pedagang buah pun masih sama wajah-wajahnya.

Aha, ada yang beda. Toko Arjuno depan Hotel Surya sudah tutup. Padahal dulu toko camilan dan aneka kebutuhan praktis itu ramai luar biasa. Saya sering beli roti atau camilan di situ.

Suatu ketika saya sakit perut parah. Mampir di situ, si ibu Tionghoa menawarkan obat dari Tiongkok. "Sangat manjur," katanya serius.

Benar saja. Tidak sampai 30 menit sakit perut hilang. Lega rasanya. Saya pun akhirnya jadi kenal sama si pemilik toko itu. Apalagi orangnya ramah. Saya juga membeli teh khusus dari Tiongkok alias zhongguo cha di Toko Arjuno.

"Teh ini asli dari Taiwan. Ada pelanggan-pelanggan khusus," katanya. Tak lupa ibu itu berpromosi bahwa teh dari Tiongkok itu punya khasiat obat. Bukan kayak teh biasa di Indonesia.

Di mana ibu Tionghoa 50an tahun itu sekarang? Entahlah. Saya tak bertanya pada siapa pun. Kalaupun nanya hampir pasti tidak ada yang tahu. Emangnya gue pikirin?

Tretes ini desa tapi cara pikir penduduknya lebih materialistis ketimbang orang kota asli kayak Surabaya atau Malang. Begitu banyak makelar raja tega di sini. Maka saya hanya bisa membayangkan pemilik toko yang murah senyum itu.

Ya... Indomaret besar di sampingnya membuat Toko Arjuno habis. Tak bisa berkutik. Apalagi mini market waralaba ini luas, nyaman, punya beberapa mesin ATM. Pelayannya pun muda dan cantik-cantik. Bagaimana bisa unggul?

Kalau Arjuno yang besar, berpengalaman, punya modal rada kuat saja kolaps, jangan tanya toko-toko pracangan milik penduduk lokal. Habis digilas Indomaret, Alfamaret dsb...

Karena itu, belum lama ini DPRD Sidoarjo ingin membuat peraturan daerah untuk membatasi mini market di Kabupaten Sidoarjo. Toko-toko modern itu dianggap membuat toko-toko kecil milik warga mati. Ekonomi rakyat bisa lumpuh dimakan kapitalis Indomaret dan sejenisnya.

Tapi apa mungkin membatasi toko modern? Lha, wong konsumen justru senang berbelanja di toko-toko modern yang bersih, sejuk, dengan pelayan yang penuh senyum... meski artifisial. Senyum yang dipaksakan demi mengikuti SOP.

14 July 2016

Alhamdulillah, arus mudik macet total

Ucok Khadafi mendesak Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mundur. Pasalnya, Jonan dianggap tidak becus mengurusi arus mudik Lebaran. Kemacetan panjang terjadi di Jawa Tengah dan kota-kota lain di Jawa jelang Lebaran lalu.

Omongan Ucok yang pengamat dimuat koran utama. Di media sosial lebih heboh lagi. Pemerintah dimaki-maki karena gak becus ngurusin mudik. Opo tumon! Memangnya arus mudik yang dulu-dulu lancar jaya?

Begitulah. Akal sehat di Indonesia sering kali ditelan emosi yang meluap-luap. Politisi, pengamat, NGO, pengusaha, cendekiawan dsb sering asal ngoceh. Lupa akar masalah yang sebenarnya.

Saya sih senyam-senyum saja melihat kemacetan panjang yang disiarkan televisi. Bagus! Syukur-syukur bisa diambil hikmahnya oleh para pemudik yang menggunakan mobil atau sepeda motor. Semoga ada efek jera! Kapok untuk mudik dengan kendaraan pribadi.

Mudiklah dengan kapal laut atau kapal terbang! Dijamin tidak macet.

Mengapa saya tertawa sendiri menanggapi makian pemudik mobil pribadi di media sosial? Karena macet itu sudah jadi makanan sehari-hari di Jawa. Tiada hari tanpa kemacetan karena jalan raya penuh dengan mobil dan motor. Ruas jalan raya sih nyaris tidak bertambah. Jalan tol baru pun sangat terbatas.

Lha, hari biasa aja sudah macet parah, apalagi saat arus mudik? Saat volume kendaraan bertambah 10 sampai 20 kali lipat?

Maka mengharapkan arus mudik lancar jaya itu adalah "hil yang mustahal" - meminjam istilah Asmuni Srimulat. Siapa pun presidennya, siapa pun menteri perhubungannya... arus mudik dan Lebaran tetap akan seperti sekarang. Bahkan lebih parah karena motor dan mobil terus bertambah.

Sudah lama Indonesia masuk jebakan kendaraan pribadi. Sejak 1970an kita terlena dengan motor dan mobil buatan Jepang yang memang nyaman, terjangkau, dan kuat. Pemerintah ikut terbius dengan memberikan subsidi bahan bakar minyak kepada pemilik mobil dan motor.

Kita lupa membangun sistem transportasi umum seperti di negara-negara maju yang beradab. Presiden Jokowi yang merakyat itu pun ikut-ikut menggairahan kendaraan pribadi dengan eksperimen mobil Esemka buatan ana-anak SMK yang katanya lebih murah.

Sama-sama penyakit. Masalahnya bukan mobil/motor buatan Jepang, Italia, Jerman, Tiongkok, Indonesia dsb. Masalah kita adalah jutaan kendaraan pribadi itulah yang bikin sumpek jalan raya.

12 July 2016

Tiga Orang Flores Timur Disandera Abu Sayyaf



Tiga orang Flores Timur, Nusatenggara Timur, disandera kelompok Abu Sayyaf. Mereka dicokok di perairan Lahad Dato, Malaysia Timur. Dari 7 anak buah kapal, penyandera sengaja memilih 3 orang Indonesia untuk ditahan.

Lha, kok kali ini yang disandera orang Flores Timur, warga etnis Lamaholot, kampung halaman saya. Ketiga nelayan yang apes itu Lorensius Koten, Theodorus Kopong, dan Emanuel. Sangat menkhawatirkan!

Kita tahu bagaimana rekam jejak Abu Sayyaf selama ini. Biasanya sandera-sandera dilepas setelah membayar tebusan miliaran rupiah. Biasanya pemerintah Indonesia membantah membayar tebusan kepada penculik. Tapi kita tahulah ada pihak ketiga, khususnya pengusaha kapal, yang merogoh kocek demi keselamatan ABK-nya.

Lahad Dato, Malaysia Timur, Flores Timur dan Lembata! Betapa terkenalnya nama-nama ini di kampung saya, bumi Lamaholot, di Provinsi NTT. Tepatnya Kabupaten Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, dan Alor. Anak-anak yang belum bisa baca tulis pun hafal nama-nama tempat di Malaysia Timur itu: Lahad Dato, Tawau, Keningau, Kota Kinabalu, Kuching, dan seterusnya.

Maklum, sejak dulu, jauh sebelum Malaysia merdeka, warga Flores Timur sudah merantau ke Malaysia Timur, khususnya Sabah. "Tahun 60an Sabah itu macam kampung, hutan belukar dengan pohon-pohon besar. Kami-kami ini yang membuka hutan itu," tutur Om Kornelis kepada saya suatu ketika.

Om asal Lembata ini begitu paham seluk-beluk Sabah, salah satu negara bagian di Malaysia Timur, selain Serawak. Ia juga punya semacam kartu sakti yang membuatnya bebas masuk ke Sabah kapan saja. "Soalnya kami dianggap ikut berjasa membangun Sabah," katanya.

Sebagian besar teman-teman masa kecil saya pun sudah jadi penduduk Sabah. Lulus SD atau SMP langsung kabur ke Sabah. Pulang kampung satu dua bulan, paling lama enam bulan, balik lagi ke Sabah. Kerja berat tapi ringgitnya banyak. "Kalau tinggal di kampung terus, dapat uang dari manan" ujar teman akrabku.

Karena itu, ketika mendengar berita penculikan warga NTT oleh Abu Sayyah di perairan Sabah, saya langsung ketar-ketir. Besar kemungkinan orang Lamaholot (Flores Timur). Setelah memantau internet, nama-nama ketiga orang itu sudah menunjukkan nama khas Lamaholot: Koten, Kopong.

Syukurlah, pemerintah mulai gregetan dengan ulah Abu Sayyaf yang sengaja memilih orang Indonesia sebagai sandera. ABK asal Malaysia dibiarkan bebas. "Ada apa sebenarnya Abu Sayyaf dengan Indonesia?" kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo kemarin.

Rakyat, politisi, pun saya rasa merasa terhina dengan aksi Abu Sayyaf yang terus berulang ini. Sulit dimengerti negara sebesar Indonesia dipandang sebelah mata oleh gerombolan bajak laut Abu Sayyaf.

Pemerintah Malaysia pun tidak boleh berdiam diri. Sebab, tiga orang Flores itu, dan ribuan bahkan jutaan orang Indonesia di Malaysia Timur sejatinya sejak dulu bekerja keras banting tulang demi kemajuan Malaysia. Ikut membuat Kota Kinabalu dan kota-kota lain di Malaysia berkilau cahaya seperti sekarang.

09 July 2016

Jokowi gagal jinakkan sapi

Harga daging sapi di Sidoarjo, Pandaan, dan Malang kemarin masih di atas Rp 100 ribu. Bu Sumi pemilik warung di daerah Pandaan Pasuruan mengeluh karena harga daging sapi tetap stabil sejak sebelum puasa, saat puasa, hingga setelah puasa.

"Kadang 110 kadang 120 ribu," kata ibu yang gemuk itu.

Katanya Pak Jokowi, daging sapi diturunkan harganya sampai Rp 80 ribu? Paling mahal 80 ribu?

"Halah... 80 ribu apa? Wong selama ini ndak pernah di bawah 100," kata bu Sumi yang dulu nyoblos Jokowi.

Begitulah. Sebelum puasa Presiden Jokowi bicara menggebu-gebu di istana, disiarkan beberapa kali di TV. Jokowi memerintahkan menteri-menteri dan pejabat terkait untuk segera menurunkan harga daging sapi. "Tidak boleh lebih dari 80 ribu. Saya tidak mau tahu bagaimana caranya," katanya.
Menteri-menteri tentu sudah bekerja. Pontang-panting operasi pasar di mana-mana. Tapi rupanya Jokowi yang aslinya pengusaha itu lupa bahwa pasar punya hukum sendiri. Ada permintaan, penawaran, stok dsb dsb. Maka instruksi seorang presiden sekalipun tidak mampu menurunkan harga sapi potong.

Lha, kalau populasi sapi kita terbatas, sementara kebutuhan sangat tinggi, khususnya puasa dan lebaran, bagaimana harga daging bisa turun? Mau tidak mau harus impor sapi atau dagingnya. Negara agraris kok impor sapi beras garam buah gula dsb?

Lupakan retorika lama itu. Negeri ini sudah lama salah urus. Sejak zaman Bung Karno, Pak Harto, sampai sekarang. Kita tidak serius menyediakan kebutuhan pangan rakyat.

Presiden Jokowi mungkin tidak dipasok informasi yang valid soal stok bahan pangan di dalam negeri oleh pembantu-pembantu-pembantunya. Maka yang muncul adalah retorika hendak menurunkan harga daging sapi di bawah Rp 80 ribu. Niat baik tapi mustahil diwujudkan di pasar sapi.

Saya sendiri sih cuek saja dengan harga daging sapi yang makin gila itu. Mau 100, 150, 200.... Lha, wong aku gak suka makan daging sapi!

08 July 2016

Euro 2016 jadi kompensasi yang asyik

Libur begini ngapain ya?

Hmm.. iseng-iseng nonton Youtube. Video-video pendek nan menggelitik, kadang kasar, dari Sascha Stevenson. Bule Kanada yang sudah lama tinggal di Indonesia, suaminya orang Sunda itu.

Makin kritis aja si Sascha ini. Mungkin karena dia bule, meski sudah merasa sangat Indonesia, kritikannya sangat tajam, blakblakan, apa adanya. Masalah SARA jadi bahan olok-olok nan renyah.

Salah satu videonya tentang bulan Ramadan yang heboh https://m.youtube.com/watch?v=9iKzztKx7xE. Semua stasiun televisi selama 24 jam bikin program yang bernuansa puasa. Dakwah penuh. Hikmah ramadan dsb dsb...

Celetehan Sascha Stevenson membuat saya tersenyum dan geleng-geleng. Berani benar orang ini. Mengkritik kebiasaan rutin yang sudah dianggap lumrah di Indonesia. Saking lumrahnya, orang Indonesia yang nonmuslim pun menganggap biasa saja.

Mau 24 jam siaran Ramadan, dakwah nonstop, sinetron islami... why not? Pengelola televisi bebas aja. Malah dapat penghargaan dari MUI atau KPI dsb. Tidak perlu ada program yang bernuansa nonmuslim karena ratingnya pasti rendah. Tak ada iklan.

Syukurlah, Sascha datang dengan angle beda. Dia melihat ada supremasi berlebihan dari kaum mayoritas di televisi. Seakan-akan penonton televisi itu semuanya beragama Islam. Bahkan TVRI yang merupakan televisi publik pun tak beda dengan televisi-televisi-televisi swasta yang full Ramadan itu.

Syukurlah, bulan Ramadan tahun ini ada dua turnamen sepakbola akbar. Copa America dan Euro 2016. Semua pertandingan Copa disiarkan Kompas TV. Sementara RCTI juga menayangkan semua laga Piala Eropa mulai babak grup hingga final.

Saya yang memang gandrung bola bersyukur bisa menikmati atraksi pemain-pemain bola kelas dunia. Kehebohan program Ramadan akhirnya mendapat lawan tanding yang luar biasa: Piala Eropa 2016 di Prancis. Meskipun jagoku kalah, Spanyol, laga-laga Euro selama satu bulan ini benar-benar menjadi hiburan segar di tengah kepungan program Ramadan yang nyaris sama dari tahun ke tahun itu.

"Kalau bisa tiap bulan Ramadan ada turnamen sepakbola macam Euro atau Piala Dunia," kata Edi asal NTT yang menjagokan Jerman.

Hehehe... Gak mungkinlah tiap tahun ada turnamen besar. Wong Piala Dunia dan Euro itu empat tahun sekali. Copa America juga begitu. Olimpiade sami mawon.

Lagi-lagi syukurlah, Ramadan 30 hari sudah selesai. Program Ramadan 24 jam sudah diganti mudik macet di mana-mana. Sama-sama tidak menariknya. Syukurlah, pertandingan Prancis vs Jerman pagi tadi sangat menarik.

Tinggal satu laga lagi: Prancis vs Portugal. Dan... pemenangnya adalah... Prancis!

06 July 2016

Tionghoa Makin Melebur di Flores Timur

Tulisan Laurens Molan di situs Katolik UCA membeberkan data terbaru komposisi umat beragama di Kabupaten Flores Timur, NTT. Dari 280.862 penduduk, umat Katolik berjumlah 217.944 jiwa (77 persen). Umat Islam 60.146 jiwa (21 persen).

Cukup signifikan memang populasi umat muslim di Flores Timur. Sebab ada banyak kampung muslim di sana. Sebut saja Lohayong, Lamakera, Lamahala, Waiwerang, Terong, Sagu, dan beberapa lagi. Laurens Molan menceritakan kehidupan etnis Lamaholot di Flotim (Flores Timur) yang sangat guyub dan rukun, khususnya Islam dan Katolik. (Kristen Protestan hanya 2.500 yang hampir semuanya pendatang alias bukan etnis Lamaholot.)

Karena barusan mengunjungi kelenteng, ngobrol di kantin dengan rombongan Tionghoa Surabaya, ingatan saya langsung tertuju ke masyarakat Tionghoa di Larantuka, ibukota Flores Timur. Saya menghabiskan masa remaja SMP/SMA di Larantuka sehingga sedikit banyak saya tahu kehidupan para baba dan nona di Flores Timur.

Oh ya, kami orang Lamaholot selalu memanggil orang Tionghoa dengan embel-embel BABA (laki-laki) dan NONA (perempuan). Wanita Tionghoa yang tua pun dipanggil nona meski sudah punya cucu. Anak-anak kampung biasa main dengan anak baba-baba ini tanpa batasan psikologis, SARA, tingkat ekonomi dsb. Anak-anak Tionghoa pun membaur 100 persen di sekolah swasta Katolik atau negeri.

Nah, yang menarik bagi saya, data statistik terbaru yang dikutip Laurens menyebutkan bahwa umat Buddha di Flores Timur hanya 14 jiwa. Konghucu hanya 3 orang.

Bukankah warga keturunan Tionghoa di Flotim sangat banyak? Di Larantuka, kawasan pertokoan Jalan Niaga jelas ada ratusan keluarga. Belum lagi di Pantai Besar, Lebao, Kota Baru dan ibukota kecamatan.

Di Pulau Adonara pun ada sentra niaga semacam pecinan. Kok Buddha dan Konghucu hanya 17 orang?

Begitulah. Data ini semakin memperkuat cerita saya di beberapa tulisan sebelumnya di blog ini. Bahwa Tionghoa di Flores Timur, bahkan di 22 kabupaten yang ada di NTT, karakternya peranakan. Tidak lagi memelihara adat istiadat leluhur secara ketat layaknya Tionghoa totok.

Boleh dikata, hampir semua Tionghoa di Flores beragama Katolik. Agama mayoritas penduduk setempat. Bahkan sejak dulu saya perhatikan orang-orang Tionghoa ini termasuk paling rajin misa karena gereja katedral Larantuka peninggalan Portugis itu berada di Postoh, sekitar pecinan. Orang-orang Tionghoa juga biasanya masuk gereja lebih awal setengah jam sebelum ekaristi dimulai.

Mengapa konversi orang Tionghoa ke katolisme di Flores sangat mulus? Saya kira ada kaitan dengan karakter Gereja Katolik di Indonesia, khususnya NTT, yang sangat menekankan inkulturasi. Adat, budaya, tradisi Lamaholot atau Tionghoa tidak dinegasikan tapi dirangkul dan diberi muatan kristiani.

Teologi inkulturasi inilah yang membuat warga Tionghoa tetap bisa melaksanakan tradisi leluhurnya tanpa khawatir dianggap bertentangan dengan kitab suci dsb.

Maka orang Tionghoa di Flores Timur sejak dulu tetap bikin ritual adat Tionghoa tapi juga tetap rajin ke ekaristi. Sama dengan orang Lamaholot yang rajin misa, tapi tidak pernah lupa mengadakan ritual adat Lamaholot untuk menjaga keseimbangan lera wulan tanah ekan (matahari bulan bumi angkasa).

Agama dan adat bisa berjalan seiring... praktik yang biasa dikecam kalangan Kristen fundamentalis.

Romo Prof Pidyarto Jadi Uskup Malang

Umat Katolik di Keuskupan Malang akhirnya punya uskup baru. Mgr HJS Pandojoputero OCarm, 77 tahun, uskup sekarang pensiun, sehingga takhta sempat lowong. Puji Tuhan, Selasa, 28 Juni 2016, Paus Franciskus menunjuk Romo Prof Dr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm sebagai uskup yang baru.

Romo Pid jadi uskup? Apa nggak salah nih? "Informasi yang saya dapat begitu," kata pak dr Budi tokoh umat Paroki Santo Paulus Juanda Sidoarjo. "Saya akan konfirmasi lagi," katanya pekan lalu.

Saya pun langsung kontak Romo Eko Budi Susilo di Nganjuk. Romo yang aktif di komunitas lintas agama ini pun kaget. Belum tahu. "Saya kontak Jakarta dulu," ujar Romo Eko lewat WA.

Tak lama kemudian Romo Eko dapat konfirmasi. Benar! Romo Pid jadi uskup Malang. Ada video misa di Katedral Ijen Malang. Romo Pid menyampaikan kabar baik ini kepada umat Katolik yang ikut misa.

"Saya sendiri awalnya tidak percaya kalau ditunjuk. Soalnya saya sudah di atas 60 tahun. Usia yang belum tua tapi juga tidak muda," kata romo yang sehari-hari guru besar di STFT Widya Sasana Malang itu.

Romo Pidyarto mengaku kaget karena selama menjadi imam, waktunya lebih banyak di bidang pendidikan. Tepatnya jadi dosen seminari. Hanya 3 tahun pegang paroki. "Tiga puluh tahun lebih saya di pendidikan. Bagaimana mungkin (saya dijadikan uskup)," katanya.

Maka ketika muncul rumor namanya disebut-sebut calon uskup Malang, Prof Pidyarto tenang-tenang saja. Cuek. Tapi rumor itu makin kencang. Ia pun mulai merenung dan bicara dengan beberapa "orang saleh". Tak disebutkan orang saleh itu siapa.

"Orang-orang saleh itu mengatakan, Romo, jangan ditolak!" Kata-kata orang-orang saleh itu disimak benar oleh romo kelahiran Malang 13 Juli 1955 itu.
Akhirnya.... rumor yang beredar itu terbukti benar. Romo Pidyarto kini resmi menjadi Minsinyur Pidyarto. Tunggal menunggu penahbisan resmi saja.

Di kalangan umat Katolik di Jawa Timur, bahkan Indonesia, nama Prof Dr Pidyarto sudah tidak asing lagi. Beliau ahli kitab suci khususnya perjanjian baru. Kajiannya tentang kitab suci alias Alkitab sangat mendalam. Sebab beliau membedah tidak hanya konteks tapi juga akar katanya. Mengukuti uraian Romo Pid rasanya seperti kuliah teologi tingkat tinggi.

Karena itu, Romo Pidyarto selalu diundang paroki-paroki di Keuskupan Malang dan Keuskupan Surabaya. Dari situlah selalu muncul pertanyaan-pertanyaan praktis tentang kitab suci dan ajaran gereja yang sering dikritik pihak luar. Ada aroma apologetika seperti era reformasi Martin Luther tempo doeloe.

Contoh: Mengapa kitab suci Protestan ada 66, sementara Katolik ada 73? Katolik yang menambah buku atau Protestan yang mengurangi buku? Apakah orang Katolik menyembah patung? Mengapa pastor tidak menikah? Dan sebagainya dan seterusnya.

Nah, pertanyaan-pertanyaan itu kemudian lahirlah buku Mempertanggjawabkan Iman Katolik. Laku keras. Kalau tidak salah ada lima jilid. Kalau diteruskan bisa sampai puluhan jilid. Tapi Romo Pidyarto terlalu sibuk sebagai pimpinan STFT Widya Sasana yang tugas utamanya mendidik para calon romo.

Masih banyak lagi buku-buku lain yang ditulis Romo Pidyarto. Tapi yang benar-benar best seller adalah Mempertanggungjawabkan Iman Katolik. Dicetak berkali-kali. Dan terus dicari umat Katolik yang merasa keteteran saat debat dengan protestan.

Romo Pidyarto dihabiskan menjadi imam pada 1982. Tiga puluh empat tahun silam. Saya sendiri kagum dan terpukau setiap kali mengikuti seminar atau ceramah-ceramahnya. Bukan karena lucu dengan retorika yang hebat seperti Romo BA Pareira OCarm, juga profesor doktor, ketua STFT Widya Sasana yang lama, atau Romo Dr Piet Go OCarm, ahli hukum gereja yang juga sangat memukau.

Romo Pidyarto ini tipe intelektual serius yang sangat kaya pengetahuan. Banyak makan buku-buku tebal. Beliau ibarat sumur yang berisi begitu banyak air pengetahuan dan kebijakan.

Kini, Romo Pidyarto sudah ditetapkan sebagai uskup. Semoga beliau sukses menjadi gembala yang baik untuk umat Katolik di Keuskupan Malang.

Catatan akhir:
Dengan terpilihnya Romo Pidyarto maka dua uskup di Jawa Timur sama-sama keturunan Tionghoa. Sebelumnya Uskup Surabaya Mgr Sutikno, Tionghoa asli Surabaya. Ini membuktikan bahwa orang Tionghoa itu tidak hanya jago dagang atau bisnis tapi juga sangat serius dan unggul sebagai rohaniwan Katolik.

Lebaran keempat Syiah Sampang di pengungsian

Empat tahun sudah sekitar 500 warga Syiah asal Sampang Madura berlebaran di pengungsian. Sekali di GOR Sampang, tiga kali di Rusun Puspa Agro Jemundo Sidoarjo. Belum ada isyarat dari pemerintah pusat dan provinsi kapan mereka dikembalikan ke kampung halaman.

Isyarat yang sangat jelas justru dari Sampang. "Masyarakat Sampang belum bisa menerima mereka. Itu hasil rapat kami dengan para ulama dan tokoh masyarakat," kata Wakil Bupati Sampang Fadhilah Budiono pekan lalu.

Seperti biasa, Fadhilah yang dulu bupati tidak bisa menjawab kapan masyarakat siap. Tidak ada timeline yang jelas. Pun tak ada usaha yang serius untuk menyelesaikan kasus pengungsian ini.

Aneh, ada orang Indonesia jadi pengungsi di dalam negaranya yang katanya aman damai toleran bhinneka tunggal ika. Lebih ironis lagi, para pengungsi Syiah Sampang ini tinggal satu kompleks dangan ratusan pengungsi asal Somalia Afganistan Pakistan Myanmar dll di rumah susun yang sama.

Indonesia dianggap hebat oleh dunia internasional, khususnya IOM, yang mengurusi pengungsi pencari suaka politik. Tapi Indonesia ternyata belum mampu menyelesaikan kasus pengungsi Sampang selama 4 tahun.

"Kami seperti ditinggalkan pemerintah. Tidak jelas kapan kami bisa pulang," ujar Iklil al-Milal pimpinan pengungsi Sampang.

Ustad muda inilah yang menjadi pembimbing rohani jamaah Sampang itu sejak dipindahkan dari Sampang ke Sidoarjo. Beberapa kali Iklil dan beberapa pentolan Syiah diajak koordinasi dengan perwakilan pemerintah. Bahkan Presiden SBY mengirim utusan khusus, Dr Albert Hasibuan, menemui pengungsi. Ada rekomendasi dan catatan tapi menemui jalan buntu.

Minggu lalu, meski sudah tahu bakal mentok, Iklil dkk mengajukan permintaan izin silaturahmi Lebaran ke Sampang. Tidak lama. Cukup dua hari saja. Hasilnya? Ditolak pemerintah. Polres Sampang menganggap situasinya belum kondusif. Keamanan warga Sampang di tanah kelahirannya sulit dijamin.

Apa boleh buat, 500an pengungsi Sampang ini harus berhari raya di Sidoarjo. Di rumah susun milik pemerintah provinsi. Rusun yang bagus, bersih, terawat... tapi beda dengan suasana kampung halaman tentu saja. "Lain rasanya tinggal di pengungsian dengan di rumah sendiri. Rumah sendiri kampung sendiri, biarpun gedhek, rasanya ayem dan bahagia," kata sang ustad.

Yah.... Pemerintah sebetulnya tidak meninggalkan pengungsi Syiah. Buktinya, mereka masih tetap menikmati berbagai fasilitas di Rusun Puspa Agro. Gratis. Ada pula uang jatah hidup.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga membuka sekolah untuk anak-anak pengungsi. Guru-guru dll tersedia. Sidoarjo juga menyediakan fasilitas kesehatan dan dapur umum. Hanya Pemerintah Kabupaten Sampang yang memang sejak awal enggan memperhatikan rakyatnya di pengungsian.

Syarat dari Sampang masih sama: Iklil dkk harus bertobat... kembali ke jalan yang benar! Kembali beragama seperti rakyat Sampang dan Madura umumnya. Jangan ada Syiah di Sampang dan Madura! Syarat yang kelihatannya mudah, tapi praktiknya sangat berat. Mendesak orang untuk mengubah keyakinan!

Di awal pemerintahan Presiden Jokowi sempat ada setitik harapan. Ini setelah Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mau turun berdialog dengan warga Syiah Sampang. Mencari solusi. Sayang, niat baik di awal pemerintahan itu tidak berlanjut lagi. Tidak ada upaya untuk memecah kebuntuan.

Sementara itu, tim khusus yang dibentuk Gubernur Jatim Soekarwo pun sudah selesai masa kerjanya. Rekomendasi sudah dibuat. Tapi solusi nyata? Kita tunggu saja.

Semoga tahun depan warga Syiah Sampang tidak menjadi pengungsi abadi di Sidoarjo!

05 July 2016

Pesan Vatikan untuk Idulfitri 2016

Oleh Romo Markus Solo SVD

Pastor asal Flores NTT yang bertugas di Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID), Vatican City

Ucapan Selamat Gereja Katolik kepada saudara-saudari Muslim di seluruh dunia di akhir bulan suci Ramadan dan Pesta Idulfitri tahun 2016 ini mengambil tema Kerahiman dan mengajak saudara-saudari Muslim untuk memaknainya dalam terang Ramadan dan Idulfitri.

Latar belakang mengapa dirasa penting untuk mengangkat tema Kerahiman sebagai pokok permenungan kita bersama adalah kesadaran bahwa kerahiman adalah sebuah aspek iman yang penting dan berkekuatan transformatif luar biasa terhadap perilaku moral individual dan komunal, baik di dalam agama Katolik maupun agama Islam.

Tekanan terkuat di dalam refleksi tentang kerahiman ini ada dua:

Pertama, menyadari betapa agung kasih dan kerahiman Allah di dalam hidup kita umat manusia yang diciptakan oleh dan dalam kasihNya, dan dipelihara olehNya di dalam kerahimanNya melalui berbagai berkat dan rahmat yang kita terima setiap hari.

Kedua, mengajak umat Kristiani dan umat Islam seluruhnya untuk mencontohi kerahiman Allah terutama dalam hal pengampunan. Allah adalah Dia yang memiliki sifat mengampuni, dan akan tetap selalu mengampuni tanpa syarat. Kalau kita mengimani Allah yang demikian maharahim dalam hal pengampunan, mengapa kita manusia berani mengklaim diri serba sempurna dan memiliki segala hak untuk membenci dan tidak pernah bisa mau mengampuni orang lain? Padahal mengampuni adalah jalan Tuhan yang ingin Dia ajarkan kepada kita supaya kita melakukan yang sama terhadap sesama manusia, kalau kita ingin hidup dalam damai dan keharmonisan.

Dalam konteks dialog antarumat beragama untuk kehidupan bersama yang damai dan harmonis, Gereja Katolik melalui Dokumen Konsili Vatikan II, Nostra Aetate, (Deklarasi tentang Sikap Gereja terhadap para pemeluk berbagai agama lain), khususnya di alinea ke-3 yang mengatur cara Gereja Katolik berdialog dengan umat agama Islam, menawarkan keterbukaannya untuk bertemu, berdialog, bekerja sama dalam iklim persaudaraan dan persahabatan, sambil memohon untuk bersedia melupakan segala pengalaman dan peristiwa buruk di masa lalu yang telah merusak atau mengganggu hubungan baik antarkedua agama tersebut.

Di sini Konsili menggunakan kata "melupakan" (to forget, zu vergessen, dimenticare..) yang berarti tidak lain adalah kemampuan untuk mengampuni dan berekonsiliasi dengan sejarah, dengan diri sendiri dan dengan orang lain, apapun kesalahan yang pernah terjadi. Mengampuni bukanlah ungkapan sebuah kelemahan dan kekalahan. Malah sebaliknya, keagungan dan harga diri seseorang lahir dari perbuatan baik yang dilakukannya termasuk kemampuan untuk mengampuni kesalaahan orang lain, dan bukan lahir dari kebejatan, kebencian dan kejahatan yang dilakukannya.

Kenyataan ada di depan mata kita dan kita saksikan saban hari, bahwa kekerasan yang dibalas dengan kekerasan akan terus melahirkan jaring dan rantai kekerasan baru dan tidak akan pernah berakhir. Penderitaan semakin bertambah. Kebahagiaan tak kunjung datang. Sebaliknya manusia terus diborgol rasa takut dan kecemasan sepanjang masa. Hidup seperti terus menerus berada di dalam situasi pengungsian.

Akan tetapi kasih yang dinyatakan dalam saling mengampuni dan memaafkan, apapun kesalahan yang terjadi, dan berdoa bagi mereka yang telah melukai dan menyakiti kita, seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus (Matius 5:44), menjadi kunci perdamaian, keharmonian dan kebahagiaan bersama, bukan saja di dalam sebuah masyarakat homogen, akan tetapi juga di dalam habitat yang heterogen.

Teriring Ucapan Selamat Idulfitri – minal 'aidin wal faidzin…