01 June 2016

Selamat jalan Bapak Markus Sajogo

Tak ada tangis dan air mata di ruang persemayaman jenazah mendiang Markus Sajogo. Suasananya cerah penuh bunga-bunga segar. Di pintu masuk ada tiga wanita sebagai penerima tamu kayaknya resepsi pernikahan atau pameran lukisan di ballroom hotel berbintang.

Sejenak saya berdoa di depan peti jenazah pak Markus Sajogo. Doa apa ya? Sudah terlalu banyak doa yang dipanjatkan ratusan bahkan ribuan pelayat sebelumnya. Pak Markus punya relasi yang luar biasa luas di Surabaya Jakarta dan kota-kota lain di tanah air. Bahkan luar negeri.

Maka saya pun memejamkan mata.. lalu berdoa simpel saja: Bapa Kami disusul tiga kali Salam Maria ditutup tanda salib. Bukankah Markus Sajogo Protestan? Hehe... Tuhan sudah pasti lebih tahu isi hati manusia.

"Mau minum apa? Kopi teh atau...," tanya seorang wanita ayu. Mirip di perayaan ulang tahun saja. Saya pilih kopi pakai gula sedikit. Rada pahit lah.

Lalu saya pun ngobrol santai dengan Stephen Sajogo putra almarhum. Cerita kenangan tentang almarhum Markus Sajogo. Terlalu banyak karena almarhum ini pernah sangat berpengaruh di Surabaya sebelum surut gara-gara duduk di kursi roda. Mobilitas yang terbatas pun sebenarnya tidak menghentikan sama sekali kegiatan sosial kemasyarakatan Markus Sajogo.

Bagi kami di Newsroom, Markus Sajogo adalah pembaca media yang sangat kritis. Wawasannya sangat luas. Fasih bahasa Inggris dan Belanda tapi agak kurang di bahasa Tionghoa. Beliau ini tipe Tionghoa Hollands spreken... Gaya hidup, selera musik, lukisan dan lebih condong ke barat.

Nah, Pak Markus ini sangat sering menelepon redaksi untuk mengoreksi tulisan. Informasi yang keliru langsung diralat besoknya. Tidak hanya meralat, Markus biasanya memberi kuliah di telepon. "Supaya wartawan punya wawasan," katanya.

Saya sendiri pernah dikuliahi soal KNIL. Tentara zaman Hindia Belanda. Gara-gara kurang satu atau dua huruf. Kemudian MULO.. HCS.. dan beberapa jargon berbahasa Belanda. Dikuliahi Markus Sajogo justru sangat asyik karena bicaranya hangat dan antusias. Begitu banyak pengetahuan yang dibagikan kepada kita, khususnya kami di Newsroom.

Makin lama dikuliahi makin asyik saja. Yang jadi masalah telepon kantor terlalu lama sibuknya. Padahal cuma ada dua dan pasti banyak orang yang ingin pakai. Karena itu, biasanya kuliah dilanjutkan di Untung Suropati. "Harus on time. Wartawan harus belajar disiplin. Menghargai waktu," katanya.

Cukup lama saya tidak menelepon dan ditelepon Pak Markus Sajogo. Wajahnya pun tak lagi terlihat di koran. Ke mana pendiri Lions Club pertama di Surabaya yang hobi koleksi uang lama itu? Sakit ternyata. Sakit yang membuatnya terpaksa menggunakan kursi roda untuk bergerak.

Tapi suatu malam tiba-tiba ada telepon ke kantor. Dari Pak Markus Sajogo. Kuliah hukum, bahasa Belanda, musik... atau apa? Semula saya pikir beliau mau koreksi tulisan atau ejaan. Eh, kali ini dia bicara tentang Pendeta Liem Iie Tjuan dari GKI Pregolan yang meninggal dunia dua kemarin.

"Lambertus yang lebih paham soal gereja. Saya sudah baca ulasan Anda tentang sebuah lagu gospel di internet," katanya.

Tumben. Baru kali ini Markus Sajogo membahas masalah kekristenan di tanah air. Pak Markus bercerita tentang Pendeta Liem sejak masih muda hingga jadi terkenal, dicintai jemaatnya di lingkungan GKI. Selain jago nyanyi klasik - ini membuat lagu-lagu Kidung Jemaat terasa istimewa - Pendeta Liem ini disebut Pak Markus paling hebat khotbahnya.

"Jadi, setelah pulang dari gereja, kita membawa sesuatu yang bisa mengubah hidup kita. Pendeta Liem itu ibarat pilot yang sangat jago...," kata Pak Markus.

"Pendeta-pendeta lain bagaimana?" Pancing saya.

Sama-sama pilot, sama-sama belajar Alkitab, teologi, homilitika, apologetika dsb dsb. "Tapi mereka itu pilot yang hanya bisa take off bawa penumpang terbang saja. Landing-nya tidak mulus. Gak enak turunnya," begitu kata-kata Markus Sajogo yang selalu saya ingat.

Ada juga pendeta (banyak sekali), kata Markus, yang tidak tahu caranya landing. Khotbah ngalor ngidul... tapi tidak punya ending yang enak. Akhirnya, penumpang alias jemaat kaget kok khotbahnya sudah selesai. "Makanya Pendeta Liem Iie Tjuan ini harus jadi inspirasi bagi pendeta-pendeta muda," katanya.

Kuliah soal khotbah pendeta itu merupakan telepon terakhir dari Bapak Markus Sajogo. Beberapa kali saya menelepon ke kantornya minta waktu bertemu. Tapi jadwal perawatan dan kesibukan beliau terlalu padat. "Maaf belum bisa. Silakan janjian lagi ya," kata pegawai baru yang belum kenal saya.

Hari berganti, bulan berlalu, tahun juga... Minggu lalu saya akhirnya bertemu lagi dengan Pak Markus Sajogo di Adi Jasa Surabaya. Tidak bisa melihat wajahnya karena sudah di dalam peti jenazah.

Selamat jalan Pak Markus Sajogo!
Semoga Anda bisa landing dengan mulus di rumah Bapa!

No comments:

Post a Comment