26 June 2016

Pelukis Tedja Suminar pulang dengan gembira

Semalam saya ikut doa bersama umat Katolik Paroki Kristus Raja Surabaya, wilayah Karangmenjangan. Saya duduk paling dekat peti jenazah yang terbuka dengan hiasan aneka bunga segar. Ada dua bungkus rokok di dekat telinga kiri sang seniman. Pakai baju batik dan baret hitam yang sangat khas.

Bapak Stefanus TEDJA SUMIJAR terbaring di dalam peti itu. Beliau meninggal kemarin pagi dalam usia 80 tahun.

Di depan rumah Pak Tedja yang artistik itu, samping masjid Muhammadiyah, saya baru sadar telah salah dress code. Pakai baju warna merah. Simbol bahagia dan gembira ala Tionghoa. Gak cocok untuk melayat dan bersembahyang requiem. Biasanya orang Tionghoa pakai busana warna putih untuk perkabungan.

Pak Tedja yang lahir di Ngawi 16 April 1936 tidak begitu hirau dengan tata cara Tionghoa ini meski ayahnya asli dari Hokkian Tiongkok. "Aku gak iso bahasa Mandarin blas. Bahasa Jawa atau bahasa Indonesia saja sudah cukup," katanya.

Sekitar 50 pelayat menemani mendiang Tedja Suminar malam minggu itu. Tidak ada ratap tangis selain doa-doa dan iman bahwa Pak Tedja sudah berada di surga. "Saya sangat yakin Papi sudah bahagia bersama Tuhan," kata mbak Swandayani putri Tedja Suminar yang seniman tari terkenal surabaya.

"Beberapa jam sebelum meninggal, Papi bilang melihat sesuatu yang sangat indah. Papi meninggal dalam keindahan," ujar mbak Swan kepada saya.

Mungkin itulah yang membuat suasana rumah duka di samping lapangan hockey itu tidak muram. Dan... kebetulan kok pemimpin doa rosario dari Paroki Kristus Raja memilihkan peristiwa gembira. Bukan peristiwa sedih! (Dalam tradisi Katolik, doa rosario itu ada 3 peristiwa: gembira, sedih, dan mulia.)

Oh, cocok! Baju merah yang saya pakai justru sangat cocok untuk menemani Pak Tedja Suminar yang besok siangnya akan dikremasi di Kembang Kuning. Umat Katolik berdoa di samping jenazah, sementara yang bukan Katolik duduk di pelataran yang desainnya sangat indah, khas Bali. Mbak Nathalini, pelukis terkenal juga, menemani pelayat-pelayat di luar.

Mbak Swandayani yang memimpin doa Salam Maria pada peristiwa pertama. Peristiwa kedua ketiga dan keempat didoakan bergantian. Peristiwa kelima didoakan serentak. Suasana doa rosario yang tak pernah saya alami selama bertahun-tahun di Surabaya.

Sambil mendaraskan rosario, saya pun teringat kata-kata Pak Tedja yang disampaikan kepada saya dalam berbagai kesempatan. "Saya ingin hidup di bumi seperti di dalam surga...," begitu pesan yang selalu terngiang di telinga saya.

Setiap kali bertemu beliau, Pak Tedja selalu mengulang kata-kata ini. Bahkan ketika pulang dari Tiongkok, Pak Tedja secara khusus memberikan VCD dan sketsa karyanya (fotokopian) dengan tulisan itu.

"Lambertus, jadikanlah di bumi seperti di dalam surga," tulis Pak Tedja Suminar dengan latar belakang Lapangan Tiananmen yang terkenal itu.

Oh ya.. mengunjungi negeri leluhur di Tiongkok semakin membuat Tedja Suminar merasa seperti di dalam surga. Sebab dia sudah keliling Eropa dan Asia untuk bikin sketsa. Keliling Indonesia sering sejak mulai cemplung ke seni rupa tahun 1957. Di Tiongkok itu Pak Tedja membuat cukup banyak sketsa dari kota ke kota. Didampingi dua putrinya yang sama-sama seniman itu.

Doa rosario selesai. Disusul doa penutup dan lagu penutup "Tuhan Berikanlah Istirahat... Abadi dan Tenang bagi Yang Wafat".

Pak Tedja, matur nuwun atas persahabatan dan semua ilmu yang telah anda bagikan selama ini.

Selamat jalan menuju surga! Dengan tenang dan senyum... ditemani beberapa bungkus rokok kretek kegemaran sampeyan!

1 comment:

  1. Bung Lambertus, saya sangat suka dengan secarik kalimat dari doa Bapa Kami ini: "Terjadilah kehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga". Tema Kerajaan Surga di atas bumi ini banyak diulang-ulang oleh Yesus di dalam Injil2 synopsis.

    Tetapi interpretasi saya mungkin lain dengan pengertian alm Pak Tedja. Jika kita ingin menjadikan bumi ini seperti surga, di mana Tuhan yang menjadi raja seperti diajarkan Yesus, dan bukan Kaisar, atau Suharto, atau Kim Jong-un, maka kita harus bekerja keras untuk menegakkan keadilan sosial. Kalau Tuhan yang berkuasa di atas bumi, Dia akan membela orang miskin, janda2, anak2 kecil, pelacur, orang2 sakit, dll yang tertindas. Maka itu, saya sangat salut dengan Ahok, yang selalu konsisten berkata dan bertindak untuk menegakkan keadilan sosial. Bagi saya, Ahok yang Protestan itu benar-benar pejuang Kristus yang mau menjadikan kehendakNya di atas bumi seperti di dalam surga.

    ReplyDelete