13 June 2016

Ketika satpol PP jadi polisi syariah

Ternyata masih ada pemda yang merazia warung selama bulan Ramadan. Yang bikin heboh tahun ini di Serang Banten. Kota yang sangat dekat dengan Jakarta. Warung bu Saeni diobrak, makanan yang dijuali diangkuti.

Bu Eni hanya bisa menangis dan mencak-mencak. Tapi gak bisa apa-apa melawan satpol PP. Rupanya di Serang satpol PP sudah jadi polisi syariah. Blusukan ke warung untuk mencari orang-orang yang tidak puasa.

Lama-lama satpol di Serang (juga kota-kota lain) blusukan ke rumah-rumah. Mengecek penduduk apakah berpuasa atau tidak. Bisa jadi makanan di rumah penduduk pun diangkuti... untuk menjaga kesucian Ramadan. Betapa repotnya satpol kalau harus blusukan ke seluruh kabupaten.

Dulu di Jawa Timur ada beberapa kabupaten/kota yang mirip Serang Banten itu. Satpol razia warung yang buka siang hari. Tapi tidak sampai menyita makanan. Si pemilik warung cuma diimbau untuk tutup. Buka jelang magrib saja.

Namun belakangan ini satpol tak lagi overacting di Jatim. Masih terlalu banyak pekerjaan pokok yang belum dilaksanakan ketimbang merazia warung, depot, restoran dsb. Selama ini satpol justru cenderung membiarkan tempat hiburan malam beroperasi tanpa izin. Ada PSK pula! Kok cuma berani sama wong cilik kayak penjual nasi itu?

Polemik soal warung buka selama Ramadan sebetulnya isu lawas. Puluhan tahun lalu sudah dibicarakan di mana-mana. Dan semakin banyak orang yang bisa menerima warung buka siang karena tidak semua orang berpuasa. Ada musafir, nonmuslim, dsb yang butuh makan.

Silakan buka tapi ditutupi tirai. "Nggak perlu ditutupi kain segala. Orang yang niat puasa itu tidak akan tertarik makan dan minum," kata teman saya mantan aktivis PMII tahun 1990an. "Kalau kamu makan atau minum, silakan. Wong kamu nggak puasa," kata sahabat ini.

Cak Sarip ini justru menganggap instruksi penutupan warung selama Ramadan, apalagi pakai perda seperti di Serang itu, sangat berlebihan. Menunjukkan kecerdikan jiwa. Kalau semua orang puasa ya otomatis warung-warung tutup dengan sendirinya. Nggak akan laku.

Mana ada pedagang yang buka warung seharian untuk 5 sampai 10 pembeli? Itulah yang dulu saya alami di Jember, kota santri yang penduduknya sebagian besar keturunan Madura. Tidak ada razia, tidak ada ancaman. Tapi hampir tidak ada orang yang buka warung.

"Rugi cong!" kata bu Sutik pemilik warung langgananku di kamasan kampus Universitas Jember. "Mending buka sore." Tapi ibu ini tetap melayani mahasiswa nonmuslim yang memang tidak berpuasa.

Polemik warung selama Ramadan ini sudah berkembang jadi debat kusir yang melebar ke mana-mana. Saya sendiri sebetulnya kurang tergoda makan di warung. Biasanya cuma mampir ngopi untuk nguping tema aktual yang sedang dibahas wong cilik. Juga nonton bareng sepak bola yang seru.

Saya justru lebih tergoda dengan air minum kemasan macam Aqua, Club, Cheers... atau belakangan Le Minerale. Saya tahan tidak makan tapi tidak tahan haus. Apalagi belakangan ini saya aktif bersepeda jarak jauh. Jadi, harus sering minum air putih agar tidak dehidrasi.

Syukurlah ukurlah, tidak ada larangan menjual Aqua atau teh botol atau soft drink sebelum magrib. Juga tidak ada larangan menjual buah-buahan di pinggir jalan kayak semangka, pisang, jambu... selama sebelum buka puasa. Juga tidak ada larangan menjual roti, biskuit, kue-kue, es krim dsb dsb.

Mengapa cuma warung atau depot nasi yang dilarang? Kalau mau fair ya pasar buah pun harus ditutup sebelum magrib karena bisa menggoda orang yang berpuasa! Air putih pun jangan dijual. Semua toko harus menyembunyikan roti kue biskuit es krim... dsb dsb.

Betapa ribetnya hidup ini kalau satpol PP harus memeriksa semua toko di seluruh wilayah kabupaten! Lama-lama ada polisi syariah yang sibuk mencari orang-orang yang tidak melaksanakan sembahyang lima waktu.

2 comments:

  1. Di Indonesia, selain di D.I. Aceh Darussalam, tidak berlaku hukum syariah. Itulah orang yang beragama baru secetek mata kaki, menunjukkan kekerdilan jiwa mereka.

    ReplyDelete
  2. Perdoa itu yg perlu direvisi. Satpol juga kudu lebih bijaksana karena ibu warung itu bukan pelaku tindak pidana. Mestinya cuma satu atau dua petugas yg melakukan pendekatan dengan pemilik warung.

    ReplyDelete