18 June 2016

Misa di Kristus Raja bersama Romo Tondowidjojo CM

Terlambat 7 menit tak apalah. Yang penting bisa ikut misa di Gereja Kristus Raja Surabaya, petang ini. Puji Tuhan, Romo Dr John Tondowidjojo CM yang pimpin misa. Sudah lama banget saya tak mengikuti ekaristi yang dipimpin pastor guru besar ilmu komunikasi itu.

Prof Tondo meski sudah sepuh, jelang 80, selalu antusias. Saya biasa membaca dan mengedit beberapa artikel panjangnya. Prof Tondo paling suka pakai judul QUO VADIS... Karena itu, beberapa teman menjuluki beliau Romo Quo Vadis!

Saya baru ingat kalau Romo Tondo ini suka menyanyi. Dulu ia pernah menulis buku teknik vokal dan seni suara. Pantas saja bacaan Injil Lukas 9:18-24 tidak dibacakan tapi dinyanyikan. Vokalnya tak lagi kencang tapi tidak fals. Enak.

Saya jadi teringat beberapa pastor di Flores, dulu, yang suka menyanyikan bacaan ketiga (Injil). Pater Paulus Due SVD almarhum paling jago soal beginian. Hampir di semua misa, termasuk misa harian, injilnya dinyanyikan. Kebiasaan itu sudah lama tidak saya temukan... kecuali Romo Tondo di Kristus Raja, gereja di dekat Stadion Tambaksari Surabaya.

Giliran homili (khotbah), Romo Tondo kembali memperlihatkan kelebihannya. Beliau membahas 100 tahun penampakan Bunda Maria di Fatimah, kota kecil di Portugal. Tepatnya 15 Mei 1907. Kebetulan replika patung Maria dari Fatima sedang berada di Indonesia. Termasuk mampir ke beberapa paroki di Surabaya.

Romo Tondo dengan fasih menceritakan peristiwa iman itu kepada tiga anak kecil di Portugal. Kemudian pastor yang juga dosen di beberapa perguruan tinggi itu mengilas balik kisah penampakan-penampakan Bunda Maria di tempat lain. Mulai dari Meksiko hingga di Eropa berkali-berkali-kali.

Yang paling terkenal tentulah di Lourdes Prancis. Penampakan kepada Bernadete. Dari Lourdes itulah kata Romo Tondo muncul istilah Maria Immaculata... Maria yang tidak bernoda!

"Pesan Bunda Maria di semua penampakan itu hampir sama. Kita diminta bertobat, lebih banyak berdoa, mendekatkan diri pada Tuhan," kata Romo Tondo.

Yang sangat menarik buat saya, Romo Tondo bercerita panjang lebar soal sejarah penampakan ini tanpa teks. Tanpa bantuan google dsb. Semuanya di luar kepala. Padahal banyak tanggal, tahun, nama-nama asing, hingga pesan-pesan secara detail. Romo Tondo ini mirip ensiklopedia hidup untuk Gereja Katolik.

Inilah kelebihan Romo Tondo yang membuat khotbah-khotbahnya sangat menarik. Bukan retorika, teriak-teriak, seruan Haleluya Haleluya.. tapi informasi. Khotbah yang bercerita. Kita seperti sedang mengikuti kuliah agama Katolik di perguruan tinggi.

Di bagian lain, Romo Tondowidjojo menyoroti fenomena dekadensi di masyarakat saat ini. Korupsi.. suap.. narkoba.. pelecehan seksual.. pembunuhan.. pencurian.. Orang Indonesia itu beragama tapi kenyataannya terjadi banyak kemerosotan moral. Dekaden dari de-cadere artinya jatuh, turun... merosot.

"Secara lahir kelihatan terpandang, bersih, jujur, tapi di dalamnya busuk dan memuakkan..," begitu antara lain khotbah Romo Tondo.

Mungkin karena khotbahnya agak lama, tapi tidak terasa, Romo Tondo malah tidak menyanyikan prefasi. Padahal bagian misa ini selalu dinyanyikan imam.. termasuk yang paling tidak suka menyanyi.

Paduan suara anak muda yang tampil petang itu kualitasnya di atas rerata. Mereka membawakan beberapa komposisi sulit yang jarang dinyanyikan di gereja. Lagu Ave Maria dinyanyikan duet sopran dan tenor untuk mengiringi komuni. Tepuk tangan panjang usai lagu dinyanyikan. Mirip konser saja.

Sayang, saya tak sempat bersalaman dengan Romo Tondo sang kamus berjalan.

No comments:

Post a Comment