09 June 2016

Mengantar Cak Lutfie Galajapo ke Makam Tembok

Gerimis tipis mewarnai suasana perkabungan di rumah duka almarhum Lutfie AM (Anake Mama), Jalan Kranggan Gang V Surabaya. Sekitar 200 pelayat dengan sabar menunggu mengantar jenazah cak Lutfie pelawak Galajapo ke makam Tembok. Malam itu juga!

Siangnya, jam duaan, Lutfie tewas di jalan lingkar timur Sidoarjo karena kecelakaan lalu lintas. Sang pelawak lucu minim kata ini berusaha menyalib motor, tapi kaget tiba-tiba ada motor dari arah utara (Surabaya) yang sama-sama ngebut. Cak Lutfie pun tutup usia di RSUD Sidoarjo dalam usia 48 tahun.

Malam Rabu itu saya duduk bersebelahan dengan Priyo Aljabar, pelawak anggota Galajapo, di rumah duka. Cak Priyo syok berat. Tidak menyangka kalau Lutfie yang sudah jadi bagian dirinya itu pergi begitu cepat. Tak ada firasat. Cak Priyo kemudian banyak cerita tentang almarhum Lutfie dan Galajapo, grup lawak yang pernah sangat terkenal di Surabaya dan Jawa Timur itu.

"Lut.. Lut... awakmu kok sudah almarhum. Purna tugas... Gak bisa lagi update status," ujar Cak Priyo dengan gaya khasnya seperti ketika jadi presenter di JTV atau TVRI.

Di mana Cak Djadi Galajapo? "Djadi di dalam. Urusan protokoler... mewakili tuan rumah," kata cak Priyo yang belakangan sibuk menekuni seni lukis.

Di depan saya dan Cak Priyo tampak begitu banyak pelawak Surabaya. Ada Cak Kartolo. Ning Vera, Cak Jus, Hunter.. dan pelawak-pelawak Srimulat. Para raja dagelan ini pun tak banyak kata. Semua larut dalam kesedihan ditinggal cak Lutfie, kolega mereka. Sesekali Kartolo mencairkan suasana, ditimpali Hunter, Vera.... Cak Priyo masih tampak hambar.

Saya melihat seorang laki-laki 50 tahun membawa sebungkus garam. Masuk lorong.. komat-kamit bersembahyang. Oh, rupanya pawang hujan! Tapi sang pawang kelihatannya sulit membendung curahan air yang justru diharap-harap warga Sidoarjo yang kepanasan saat puasa siang tadi. Hujan sangat deras.

Para pelayat semburat ke rumah-rumah tetangga. Alhamdulillah, para tetangga almarhum Lutfie ini membuka rumah mereka untuk menampung para pelayat. Keguyuban khas kampung yang belakangan makin hilang di kota-kota besar macam Surabaya. "Insya Allah, pemakaman dimulai jam 23.00," kata Cak Priyo.

Benar saja. Sepuluh menit sebelum jam 11, hujan berhenti. Kami para pelayat berkumpul kembali di sekitar jenazah Cak Lutfie yang sudah digeletakkan di dalam keranda.

Pukul 23.00 Djadi Galajapo mewakili keluarga, teman dekat sesama anggota trio Galajapo (Gabungan Lawak Jawa Pos), memimpin doa dan menyampaikan tausiah singkat. Suaranya bergetar menahan haru.

"Semua yang hidup pada akhirnya akan mati. Kepergian Cak Lutfie yang mendadak sekali lagi membuktikan bahwa maut bisa datang kapan saja," kata Djadi Galajapo alias Haji Muhammad Cheng Hoo, salah satu MC papan atas di Surabaya.

Djadi Galajapo: "Saya ingin kesaksian dari Panjenengan semua yang hadir di sini... Selama hidupnya almarhum Cak Lutfie ini orang baik atau jahat? Tolong dijawab yang tegas!"

Hadirin: "Baiiiikkkkk!!!"

Djadi Galajapo: "Alhamdulillah... Sekarang saatnya kita bersama-sama mengantar sahabat kita Lutfie ke tempat peristirahatan yang terakhir!"

Keranda beroda itu pun bergerak dari rumah duka diiringi ratusan pelayat. Gerimis datang lagi tapi tak begitu mengganggu jalannya pemakaman Cak Lutfie di Tembok Surabaya. "Hujan itu justru rezeki. Kita tidak boleh menghalangi rezeki," begitu kira-kira omongan Cak Priyo.

Selamat jalan Cak Lutfie! Matur nuwun atas persahabatannya selama di Surabaya dan Sidoarjo!

No comments:

Post a Comment