01 June 2016

Kok protes eksekusi mati di Malaysia?

Selepas Lebaran akan ada lagi eksekusi mati terpidana kasus narkoba. Persiapan sudah dilakukan. Semua calon penghuni surga (atau neraka) itu sudah dikumpulkan di Nusakambangan. Begitu antara lain berita di TV minggu lalu.

Bukankah ada protes dari luar negara? Kita punya hukum positif sendiri. Hukuman mati itu legal. Masih berlaku di Indonesia. Begitu antara lain omongan jaksa agung. "Kita juga hormati hukum yang berlaku di negara lain," kata HM Prasetyo jaksa agung.

Minggu lalu Presiden Jokowi mengumumkan Perppu kebiri untuk pemerkosa. Selain kebiri, pemerkosa yang dianggap jahat luar biasa diancam hukuman mati. Kebiri + ditembak!

Sudah lama suara protes hukuman mati terdengar nyaring di Indonesia. Banyak sekali argumentasi yang sangat meyakinkan. Tapi pihak yang pro hukuman mati lebih banyak. Komisi Nasional HAM yang menolak hukuman mati pun tak digubris.

Bagi Jokowi, hukuman mati itu sangat perlu karena Indonesia sudah darurat narkoba. Semakin banyak bandar narkoba yang ditembak mati lebih baik. Kita lihat saja apakah pengguna narkoba makin sedikit setelah eksekusi mati makin sering dilakukan di Indonesia.

Anehnya, Indonesia yang lagi mabuk eksekusi mati, kemarin meminta Malaysia agar tidak mengeksekusi mati Rita di Penang. Wanita itu juga terjerat hukuman mati.

Kenapa protes? Bukankah Malaysia juga darurat narkoba? Ironis juga membaca pernyataan Kemenlu di koran pagi ini. Menginginkan TKI tidak digantung sementara di dalam negeri kejaksaan sedang bersemangat melakukan eksekusi mati terhadap banyak bandar narkoba. Termasuk warga negara lain.

Sesungguhnya Indonesia sudah tidak punya hak moral lagi untuk memprotes eksekusi mati di negara lain. Wong hukum positif. Kedaulatan negara dsb. Hanya negara-negara yang anti eksekusi mati yang berhak protes hukuman mati atas warga negaranya.

Saya terkesan dengan Presiden BJ Habibie yang menolak hukuman mati. "Keputusan orang hidup dan mati itu hak prerogatif Tuhan. Itu bukan hak kita. Maka saya tidak mau mengambil nyawa orang lain," kata Habibie seperti dikutip Kompas pagi ini.

Presiden Habibie yang berpendidikan Jerman tentu beda dengan Presiden Jokowi. Presiden ketujuh ini justru makin sering memerintahkan eksekusi mati dengan dalih darurat narkoba. Bahkan Jokowi merupakan presiden pertama yang memperkenalkan hukuman kebiri. Luar biasa!

Kalau sudah darurat narkoba dan darurat pemerkosaan, kapan darurat korupsi? Kok gak ditembak juga? Apa perlu dikebiri juga? Biar nafsu mencuri uang rakyat hilang?

1 comment:

  1. Seandainya otak dan wawasan luas Habibie digabungkan dengan integritas dan merakyatnya Jokowi ...

    ReplyDelete