19 June 2016

Karyawan Pria Muncul di Kompas

Baru membaca kalimat pertama berita boks bawah Kompas Minggu 19 Juni 2016, saya langsung tertawa sendiri. Gak nyangka guyonan saya selama ini bersama para mahasiswa magang jurnalistik ternyata muncul di Kompas. Koran yang disebut-sebut paling peduli bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Yang bikin saya ketawa itu: KARYAWAN PRIA. Bukankah karyawan itu secara implisit berarti pekerja yang berjenis kelamin pria atau laki-laki?

Jangan-jangan ada istilah KARYAWAN PEREMPUAN (WANITA)! Bukankah pekerja berjenis kelamin wanita itu cukup disebut karyawati?

Lama-lama ada istilah mahasiswa wanita dan mahasiswa pria. Padahal sejak dulu kita sudah punya istilah mahasiswa (pria) dan mahasiswi (wanita). Ada juga siswa-siswi. Pramugari-pramugara.

Memang ada kecenderungan untuk menghapus gender (Kompas pakai jender) untuk kata-kata tertentu yang dulu sangat lazim. Akhiran -wan dan -wati termasuk di antaranya. Karena itu, sudah lama kita tak mendengar istilah wartawati atau seniwati.

Jika frase KARYAWAN PRIA sengaja dipilih redaksi Kompas, dan direstui editor bahasa Indonesia, berarti kata KARYAWATI bakal hilang dari surat kabar itu. Tinggal kenangan sejarah masa lalu. Itu juga berlaku untuk siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswa-mahasiswi, wartawan-wartawati... dan sejenisnya.

Kalau sudah begitu ya, tidak ada lagi alasan buat saya untuk menertawakan mahasiswa magang di Surabaya yang sudah lama menggunakan KARYAWAN PRIA. Justru saya yang jadi bahan tertawaan karena masih membedakan karyawan dan karyawati, mahasiswa-mahasiswi, biarawan-biarawati, rohaniwan-rohaniwati, siswa-siswi....

Bahasa memang senantiasa berubah. Dan kadang kala kita sulit berubah karena terlalu taat pada tata kata dan tata kalimat tempo doeloe.

No comments:

Post a Comment