03 June 2016

Jancuk itu apa?

Begitu pertanyaan Goris orang NTT yang baru pertama kali singgah di Surabaya. Kebetulan pemuda itu baru membaca plang sebuah kedai kecil di pinggir jalan kawasan Rungkut. Kedai Jancuk.

"Jancuk itu temannya jangkrik... makanan khas Surabaya yang enak sekali. Silakan dicoba jancuknya," komentar seorang bapak di warkop tak jauh dari Kedai Jancuk. Orang-orang pun ketawa ngakak.

Jancuk! Sering disingkat Cuk...

Kata seru ini sulit dijelaskan artinya kepada warga luar Jawa. Orang Jawa pasti tahu itu kata pisuhan alias makian.. Semacam PUKIMAI di NTT yang juga tidak jelas artinya tapi sangat kasar dalam situasi tertentu.

Jancuk pun sangat luwes. Situasional. Di Surabaya kata jancuk justru dianggap ungkapan keakraban. Biasa ditujukan untuk teman lama. Bisa juga ungkapan kekaguman. Wow.. jancuk tenan ayune! Maine Barca jancuk tenan!

Meski begitu, bagi orang NTT yang baru tiba di Surabaya sebaiknya hati-hati dengan jancuk. Sebaiknya tidak menggunakan kata jancuk dalam percakapan. Sebab ada nuansa tertentu yang sulit dirasakan oleh orang yang bukan Jawa.

Kata jancuk akan sangat kasar ketika salah tempat, salah waktu, salah orang. "Mas, sampean jancuk!" Urusannya bisa ke polisi.

Saya jadi ingat Mas Yusak, GM sebuah hotel berbintang di Surabaya. Dia meminta kokinya untuk bikin nasi goreng jancuk. Nasi goreng yang porsinya sangat besar dengan Lombok yang sangat banyak. Rasanya? Juancuuuk tenan...

Kepedasan. Mandi keringat. Efek itulah yang memang diharapkan pak Yusak. Nasi goreng jancuk jadi sangat laku meskipun mahal.

Ada juga jancuk yang bermasalah. Sejumlah budayawan Sidoarjo dulu pernah menggugat Bupati Win Hendrarso gara-gara mengizinkan acara jancuk-jancukan di pendapa. Itu sih cuma kumpul biasa, diskusi, sambil nonton Sawung Jabo menyanyi dan main gitar.

Eyang Bete (almarhum) yang asal Solo marah besar karena baginya jancuk-jancukan itu artinya pesta seks. Mantan dosen itu kemudian menerbitkan buku kecil membahas asal usul jancuk dsb dsb.

Tentu saja angle-nya berbeda dengan yang dipahami orang Surabaya. Pak Bupati kemudian klarifikasi dan selesai masalahnya.

Ini juga menunjukkan bahwa interjeksi jancuk yang khas Surabaya itu tidak lagi semulus dulu. Sebab saat ini makin banyak orang barat (wong kulonan) yang jadi penduduk Surabaya Sidoarjo Gresik kayak Eyang Bete dkk itu.

No comments:

Post a Comment