03 June 2016

Dr Soe Tjen Marching getol bahas komunis




Isu komunis sangat ramai akhir-akhir ini. Di media sosial debat soal komunis marxis sosialis PKI palu arit tak akan ada habisnya. Sayang, bobot diskusi ini sangat rendah.

Begitu banyak anggota grup medsos yang bicara komunis marxis dsb tanpa membaca buku-buku yang tebal itu. Komunisme itu apa? Tidak mengakui agama? Anti Tuhan? Pengkhianat bangsa?

Bahasannya terlalu panjang. Dan pasti tidak dibaca sebagian besar orang Indonesia di era medsos ini. Jangankan baca buku-buku kajian yang tebal, baca artikel atau berita pendek saja enggan.

"Orang sekarang itu membaca judulnya tok," kata kenalan yang mengelola salah satu grup medsos di Sidoarjo.

Begitulah banalitas yang bersimaharajalela di mana-mana. Baca judul pendek, panas... lalu debat panjang. Melebar ke mana-mana. Profesor doktor, pakar, pengamat, tukang becak... diskusi tentang tema yang sangat besar dan berat itu: komunisme sosialisme marxisme...

Gara-gara heboh komunis itu, saya lihat mbak Soe Tjen Marching PhD pun turun gunung. Dosen di London Inggris, yang juga komponis kelas dunia, itu rajin sekali update status. Menanggapi isu kebangkitan komunis yang ramai dibicarakan di Indonesia.

Biasanya Sucen menanggapi komentar penguasa dan mantan jenderal yang ngomongin komunis. Tidak hanya di medsos, Sucen juga menulis artikel panjang di koran-koran. Sebagian dalam bahasa Inggris. Teman saya ini memang lebih lancar bikin tulisan dalam English karena sebagian besar umurnya dihabiskan di Australia dan Inggris.

Jangankan dengan Kivlan Zein, Ning Sucen bahkan bicara keras langsung di depan Presiden Jokowi saat berkunjung ke London bulan lalu. Temanya sama: luka lama 1965, rekonsilasi, dsb. Jokowi merespons secara dingin dan diplomatis. Posisi Jokowi memang tidak mudah.

Sucen kelihatannya makin fokus membahas masalah komunis, PKI dan sejenisnya. Saya khawatir energi arek Tionghoa Surabaya ini untuk menulis buku dan komposisi baru jadi hilang. Padahal Sucen lah yang paling dipercaya almarhum Slamet Abdul Sjukur untuk meneruskan jejaknya di musik kontemporer Indonesia.

Sesekali saya mengintip perdebatan Sucen di medsos. Begitu banyak hater yang memaki-maki dia. Ada juga teror dan ancaman. Tapi ya itu tadi, debat di medsos sangat tidak menarik karena kajian-kajian Sucen yang memang makan buku sejak kecil cuma dijawab dengan celetukan makian.

Sangat berbeda dengan perdebatan antara Bung Karno atau Bung Hatta tempo dulu yang kita baca di buku-buku. Dr Soe Tjen Marching rupanya sengaja turun gunung karena gejolak aktivismenya yang makin meluap-luap.

Semoga Sucen tidak capek dan sehat selalu. Ojo lali ngarang musik klasik lan kontemporer!

13 comments:

  1. Sucen itu memang jiwanya aktivis jadi dia ga akan berhenti melawan apa yang dianggapnya tidak adil, baik itu penindasan terhadap kaum homo, minoritas agama, minoritas Tionghoa, maupun eks keluarga anggota PKI dan ormas2 kiri jaman dulu. Kalau soal debat, jauh lah. Lha wong orang Indonesia yang jenderal aja logikanya goblok begitu, apalagi rakyat biasa yang modal sepatah sepatah ayat atau maki makian.

    ReplyDelete
  2. Mbak sucen punya bakat kritis dan suka mempertanyakan sesuatu sejak kecil. Termasuk menyoal sesuatu yg sudah dianggap benar oleh masyarakat. Sucen berani beda meskipun sendirian. Belakangan dia makin keras menurut saya setelah dia tahu bahwa ayahnya pernah disiksa dan dipenjara di kalisosok karena dianggap musuhnya rezim orde baru. Tambah kenceng aja..

    ReplyDelete
  3. Kebanyakan rakyat tidak mengerti bedanya atheisme, Marxisme, sosialisme, komunisme. Padahal kalau mau membaca sedikit saja, mudah dimengerti. Tidak usah membaca seluruh buku Das Kapital. Mudah sekali memahami bahwa ideologi komunisme itu sudah 25 tahun lebih kalah dan bangkrut. Yang komunis itu hanya Korea Utara dan Kuba saja. Di negara2 itu pun, praktek perdagangan bebas dijalankan oleh rakyat dengan gelap, krn kenyataannya partai komunis tidak mampu mengadakan barang kebutuhan sehari-hari. Di RRT, Vietnam, Kamboja, partai2 komunis sudah beralih menjadi partai diktator yang mengontrol sistem ekonomi kapitalis. Seperti Golkar jaman Pak Harto. Jadi sebenarnya yang ditakutkan oleh para oknum eks Orba ialah bayangan mereka sendiri.

    ReplyDelete
  4. begitulah eks orba. ideologi dan pemahaman itu sudah sangat mendarah daging sehingga hampir tidak ada ruang lagi untuk bahas komunisme sosialisme dan paham2 kiri di indonesia. mau bedah buku kiri sulit. acara nonton film pulau buru pun dibubarkan.
    tapi jangan khawatir... suatu waktu setelah generasi kivlan dan anaknya berlalu, pasti akan ada kemajuan berpikir berkat revolusi internet. media sosial sudah sangat berjasa memberi pencerahan. saya menaruh harapan besar kepada manusia2 indonesia kelahiran tahun 2000 ke atas untuk membebaskan belenggu ini.

    ReplyDelete
  5. Selama manusia masih berpikir dan bersikap, maka selama itu pula, ideologi tetap ada.
    Karena ideologi adalah sikap hidup dan dasar berpikir manusia.
    Kapitalis, Komunis, Agamis dan arau Pancasilais, itu adalah kata yg mewakili sikap hidup dan kerangka berpikir manusia.

    Komunis menggambarkan hasad, dengki dll.
    Kapitalis menggambarkan greedy, keserakahan, kemaruk.
    Pancasilais, menggambarkan sikap sesuai 5 sila yg tercantum, percaya prinsip tauhid, bersikap adil dan seterusnya.
    Agamis, menggambarkan sikap hidup sesuai agama dan keyakinannya.

    Kembali pada sejarah NKRI, bahwa yg menjadikan para anti komunis alergi (hurek mengatakan kaum Orba), itu bukan kerena faham komunisnya semata. Tapi tata cara pelaksanaan hidup berbangsa dan bernegara dari kaum komunis, yg menghalalkan kekerasan hingga pembunuhan.
    Kemudian dalih dari komunis, mengatakan, pelakunya bukan kami.., dalangnya adalah pendiri Orba, dan yang melakukan adalah antek2 mereka... mereka melakukan fitnah..

    Pancasilais bertanya.., Apabila bukan kaummu, sementara secara kasat mata itu ternampak kaum komunis sebagai pelaku.
    Berikan fata dan data, untuk di tunjukkan kepada Dunia.
    Tunjukkan bukti2 yang mengarah bahwa Dalangnya adalah oendiri Orba dll.
    Lalu apabila itu Fitnah.., siapa dan apa materi bukti.Harap diingat, bukankah Komunis identik dengan materialis dialektika ?

    Sementara, jasa pendiri Orba adalah, dia mampu menunjukkan bahwa kejahatan2 pembunuhan terhadap para ulama dan 7 jendral revolusi, pelakunya adalah para komunis dan underbouw nya..

    Bagaimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anti Komunis yang Mikir2:42 AM, June 09, 2016

      Hehehe, ini khas pidato hasil indoktrinasi Orba, yang menunjukkan anda ini kurang membaca dan tidak terlatih untuk berpikir kritis.

      Pendiri Orba itu Suharto. Anda bilang dia itu Pancasilais, kenyataannya harta yang ditimbun oleh keluarganya melalui berbagai macam monopoli yang disahkan oleh pemerintah (tembakau untuk Probosutedjo, cengkeh untuk Tommy, impor obat Cina untuk Ari Sigit, mobil nasional untuk Tommy, jalan tol untuk Tutut, stasiun TV untuk Tutut, dll tidak akan habis disebutkan; belum termasuk yang dengan rekanan) mencapai milyaran dolar.

      Jadi pendiri Orba itu bukan Pancasilais, tetapi kapitalis, khususnya kapitalis kroni. Wong yang membantu Bambang Tri dan Halimah menyembunyikan hartanya di Amerika itu orang Surabaya namanya Han Moeljadi. Coba anda tanya Oom Google, hehehe, bgmn dia menyembunyikan ratusan milyar untuk Bambang. Itu semua terbuka hanya setelah perceraian Bambang-Halimah meledak secara publik. Monopoli dan menyembunyikan harta itu melanggar sila Keadilan Sosial.

      Orba yang waktu itu menang, sudah tentu dia yang memegang bukti dari arsip-arsip negara. Bgmn PKI yang sudah habis gak punya kantor dan arsip dan pentolan-pentolannya sudah matek disuruh membuktikan. Yang karen tinggal kroco-kroco yang sudah sepuh dan anak-anaknya yang tidak tahu apa2 waktu peristiwa terjadi 50 tahun lalu.

      Kalau mau diteliti ya buka saja arsip-arsip TNI AD tentang 1965. Nyatanya TNI tidak mau membuka. Kalau dokumen dari USA sudah dibuka dan jelas terbukti bahwa CIA menyuplai daftar nama dan bantuan logistik kepada AD untuk operasi dan progaganda pembersihan, yaitu pembunuhan dan penangkapan tanpa pengadilan thd ratusan ribu manusia tak bersalah.

      Saya ini anti komunis. Kalau PKI dilarang, ok lah, tetapi kenapa anggota dan bahkan anggota keluarga yang tidak melakukan tindakan kriminal disapu bersih. Katanya negara Pancasila berdasarkan UUD? Kalau begitu apa bagusnya NKRI dibandingkan dengan negara komunis yang kamu bilang menghalalkan kekerasan dan pembunuhan? Tidak ada. Sama binatangnya.

      RRT saja sudah mengakui kesalahan negara dan partai yang terjadi dalam Revolusi Kebudayaan 1966-1976, yg mengakibatkan kesengsaraan para cendekiawan dan kematian berjuta orang rakyatnya. Jika komunis bisa begitu, kenapa Indonesia yang katanya Pancasilais tidak bisa? Karena pola pikir Orba masih begitu seperti yang anda sebut itu.

      Delete
    2. Mari diskusi sehat, tanpa mencela dan personal insult.
      Tumbuhkan sikap saling menghormati dab menghargai pemikiran dan pendapat orang lain.

      Terlalu melebar bila harus meneliti arsip segala macam.
      Kembali pada esensi krusialnya, apakah Komunis bisa membuktikan pendapat mereka, bahwa dalang pemberontakan PKI adalh justru pendiri Orba.?

      Delete
    3. Perhatikan lebih detail, pendapat saya, adakah kalimat saya, bahwa Soeharto adalah Pancasilais.
      Atau adakah saya menyebut nama, dlmdlm materi pendapat saya yang awal.?

      Cermati, telaah, fahami lanjutkan dengan utarakan pendapat dan pemikiran.

      Delete
    4. Terlalu melebar bila bicara bisnis2 yang anda sebut.
      Esensinya tidak di konteks tsb.

      Delete
    5. Orang ini lucu sekali. Minta dibuktikan, tetapi tidak boleh membuka arsip. Membuktikan itu, seperti di pengadilan, dengan saksi dan bukti. Lha pentolan PKI dibunuh semua, surat-surat mereka disita dan dihancurkan. Mau membuktikan harus dengan arsip yang masih ada. Arsip-arsip itu mungkin mengandung surat menyurat para jenderal pada masa itu. Pergerakan pasukan, dll. Serahkan peneliti dan ahli sejarah. Dari situ baru bisa ditarik kesimpulan.

      Pembunuhan jenderal-jenderal Pahlawan Revolusi itu memang ada. Salah satu anaknya yang juga jenderal (Agus Widjojo) saja mau terbuka, mengapa yang tidak tersangkut paut kok mati2an menolak?

      Pada saat ini kita hanya bisa berspekulasi saja apakah yang terjadi.

      Delete
    6. Letjen Agus Widjojo adalah seorang yang luar biasa. Cerdas, terbuka, patriotis. Sebagai putra Pahlawan Revolusi Mayjen Sutoyo, beliau memiliki kredibilitas tinggi untuk membantu terwujudnya rekonsiliasi anak-anak bangsa ini. Semoga beliau dilimpahi kesehatan agar bisa meneruskan pekerjaan yang sangat penting ini hingga tuntas.

      Delete
  6. Mau tanya, kalau komunis pakai tata cara kekerasan dan agamis juga pakai tata cara kekerasan bedanya dimana ya? Terimakasih supaya saya tidak bingung..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu, hehehe, malah jauh lebih bengis drpd yang dituduh.

      Delete