14 June 2016

Dendam 1965 sampai 7 turunan

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pekan lalu bicara tentang isu komunis dan PKI yang hangat lagi akhir-akhir ini. Ketua umum Partai Demokrat itu intinya mengatakan bahwa masyarakat kita belum siap untuk membahas persoalan 65 itu.

Ketika menjadi presiden dua periode, 2004-2014, SBY mengaku sudah berusaha tapi situasi tidak kondusif. Kalau dipaksakan oleh rezim Jokowi, justru hanya akan menimbulkan ketegangan di masyarakat. SBY ini mantunya Sarwo Edhi Wibowo, jenderal TNI AD yang dianggap berjasa dalam penumpasan PKI sampai ke akar-akarnya usai peristiwa 30 September 1965.

Lalu kapan masyarakat Indonesia siap?

Presiden keenam itu tidak menyebutkan. Orang Indonesia, khususnya pemerintah, sejak dulu memang tidak punya timeline. Pokoknya tunggu siap dulu. Bisa 20 tahun.. bisa 100 tahun... bisa sampai kiamat kalau sudah menyangkut PKI dan komunisme.

Saya sendiri sepakat dengan pernyataan SBY soal isu komunisme dan PKI plus ormas-ormasnya itu. Orang Indonesia tidak siap mengungkap masa lalu yang pahit. Komisi kebenaran dan rekonsiliasi macet. Baru dibahas sedikit saja, pemerintah khususnya TNI AD kebakaran jenggot.

Lalu terjadilah ketegangan di mana-mana. Putar film tentang Pulau Buru saja haram. Padahal isinya cuma kenangan seorang bekas tahanan yang pernah dibuang ke pulau di Maluku itu. Sekitar 12 ribu orang yang dianggap komunis atau simpatisan PKI dijadikan budak untuk babat alas di Pulau Buru selama 10 tahun.

Pemerintah Orde Baru sih inginnya ribuan orang itu mati pelan-pelan. Tapi proyek Buru ini akhirnya dihentikan setelah diprotes dunia internasional. Kembali ke Jawa dan kota-kota lain, para eks tapol Buru ini kehilangan hampir semua hak sipil. Anak-anak mereka pun tidak bisa bekerja di perusahaan (apalagi pns atau ABRI) karena tidak bersih lingkungan.

"Bertahun-tahun saya sengaja menyembunyikan identitas saya," kata mbah Harsojo eks tapol Buru saat saya temui di Sidoarjo. "Saya sudah bolak-balik dipenjara kemudian dibuang ke Buru. Cuma belum dibunuh," ujar sang seniman anggota Lekra itu.

Kembali ke pertanyaan awal. Kapan masyarakat Indonesia siap membicarakan peristiwa 65 dengan kepala dingin? Tidak terjebak debat kusir kayak sekarang di media sosial dan media utama? Bisa lebih arif menyikapi masa lalu?

Saya sudah lama membahas isu ini di sini. Intinya, Indonesia punya budaya dendam membara tujuh turunan. Tujuh generasi! Peristiwa 65, juga penumpasan alias penyembelihan massal pasca tragedi itu, tidak akan tuntas kalau belum sampai 7 generasi. Sudah tujuh turunan pun belum tentu selesai jika pola pikir di benak mayoritas orang Indonesia masih seperti sekarang.

Pak Harto, Pak Sarwo Edhi... DN Aidit jelas generasi pertama. SBY, Ryamizard, Kivlan Zen, Agus Widjojo dkk generasi kedua. Adalah hil yang mustahal  (istilah Asmuni Srimulat) mengharapkan generasi kedua melakukan rekonsiliasi. Sebab mereka ikut jadi saksi atas tragedi kekerasan yang menimpa orang tua atau orang-orang-orang terdekat.

Generasi ketiga pun sulit. Generasi empat dan lima juga agak sulit meski jarak dengan 1965 sudah jauh. Generasi keenam dan ketujuh bisa diajak bicara dengan kepala dingin. Sebab para pelaku sejarah dan anak-anaknya sudah tidak ada di bumi ini. Mereka hanya tau sejarah 65 dari buku-buku, film, pelajaran sejarah, atau cerita lisan.

Saat ini baru masuk generasi keempat. Masih perlu tiga generasi untuk sampai ke tujuh turunan. Kita yang lahir tahun 1970an atau 1980an atau 1990an tidak akan bisa menuntaskan dendam lama ini. Apalagi orang-orang lama macam Kivlan Zen, Prabowo, SBY, atau Jokowi sekalipun.

Tapi ribut-ribut soal PKI dan komunisme akhir-akhir ini ada bagusnya juga. Sebab baru kali inilah dalam sejarah Indonesia ada dialektika antara dua kubu di media sosial. Selama Orde Baru kita hanya dicekoki versi pemerintah saja. Orang-orang kiri dan simpatisannya dibungkam, dibui, dibuang... dan dibunuh.

3 comments:

  1. Mengapa kita tidak bisa mencontoh Mandela, di mana ada rekonsiliasi? Mencontoh Jerman, di mana ada budaya penyesalan bersama seluruh bangsa atas pembantaian terhadap bangsa Yahudi dan berbagai kejahatan perang yang dilakukan oleh Nazi dan SS di PD ke-2? Bahkan bekas kamp2 konsentrasi dijadikan museum2 untuk pembelajaran generasi berikutnya? Mengapa harus menunggu sampai generasi ke-7, sedangkan negara-negara lain mampu mengaku dosa dan bermaaf-maafan di generasi ke-1?

    Mengapa? Karena yang membunuh itu masih berkuasa, jadi pemenang. Sedangkan di Jerman, Afrika Selatan, yang tadinya ditindas itu yang menang. PDI-P yang mau mengusung isu rekonsiliasi hanya menang 20% di Pemilu.

    ReplyDelete
  2. Betul... Afrika Selatan itu yg sangat inspirator berkat mr Mandela. Mereka yg ditindas akhirnya menang.. berkuasa.. dan mengampuni kaum putih yg dulu menindas kaum hitam. Di indonesia polanya ndak jelas.

    Orang PKI bilang dia korban penindasan orba, sementara pihak lain menyebut PKI itulah yg kejam luar biasa.. menindas dan membunuh begitu banyak orang. Karena itu, mata ganti mata gigi ganti gigi. Tidak ada upaya untuk memutus rantai dendam ini di generasi satu dan dua atau tiga. Malah makin lama suasananya makin panas aja.. meskipun ideologi komunis sudah bangkrut.

    Itulah Indonesia.

    Di afrika selatan ada faktor Uskup Diamond Tuti atau gereja yg jadi motor rekonsiliasi. Sesuai dengan semangat cinta kasih, saling mengampuni, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan... seperti amanat Injil. Di indonesia kaum agamawan justru tidak punya semangat pengampunan meskipun Tuhan itu maha pengampun... rahman dan rahim.

    Makin ruwet kalau kita baca diskusi di media sosial. Tunggu generasi ketujuh aja! Itu pun ndak jaminan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu ada tokoh nasional seperti Uskup Tutu, namanya Abdurrahman Wahid. Tetapi beliau dikhianati dan ditikam dari belakang oleh Amien Rais, politisi berkedok agama yang pintar berbalik haluan tergantung apa yang paling menjanjikan kekuasaan.

      Selain itu ada mantan jenderal antek Prabowo macam Kivlan Zein, Kiki Syahnakri, yang memelihara FPI dll kaum radikal berkedok agama. Tadinya saya bingung kok bisa FPI ini bertahan begitu lama, darimana mereka mendapatkan dana untuk beli seragam, nasi bungkus, sewa truk, sewa kantor. Sekarang baru ngeh setelah motornya keluar langsung di panggung yang sama. Maka itu Prabowo dan antek2nya harus dicegah menjadi penguasa, selama masih ada tokoh-tokoh seperti Jokowi, Ahok, Risma, dll. yang memperjuangkan aspirasi rakyat tanpa pamrih.

      Delete