18 May 2016

Ujian nasional jadi berhala baru

Gatot, guru kesenian di salah satu SMP negeri favorit di Sidoarjo, gundah gulana. Pasalnya, pimpinan sekolah meminta agar kegiatan-kegiatan kesenian dikurangi atau dihilangkan saja.

"Kesenian itu cuma menghambur-hamburkan uang," ujar Gatot menirukan omongan petinggi sekolah.

Gatot yang juga perupa mencoba melawan. Debat sana-sini, kutip teori tentang manfaat kesenian bagi peserta didik dsb. Tapi ndak mempan. Pihak sekolah hanya ingin anak-anak belajar belajar belajar.. fokus pelajaran pelajaran pelajaran. Agar nilai ujian nasional (unas) tinggi. Jadi tertinggi di kabupaten.

Pak guru ini hanya bisa curhat di media sosial. "Aneh, padahal selama ini kegiatan kesenian tidak menggunakan uangnya sekolah," katanya lantas tertawa kecil.

Unas alias ebtanas (tempo dulu) seakan sudah jadi berhala baru. Begitu banyak guru mata pelajaran yang tidak diunaskan, salah satunya Gatot, mengeluh karena ruang geraknya makin dibatasi. Anak-anak tidak perlu bermain, olahraga, berlatih paduan suara, menggambar, berteater, main band.. karena ndak ada kaitannya dengan unas.

Murid yang jago renang, juara bulutangkis atau lari, sering nyanyi di TV... bakal terganggu unasnya. Unas tinggi itu dianggap jaminan untuk masa depan yang cerah. Mau jadi apa kalau murid SMP atau SMA lebih sibuk menekuni teater, musik, melukis, seni tari, dsb?

"Begitulah kondisi pendidikan kita hari ini. Dan ini bukan hanya di tempat saya. Sekolah-sekolah lain juga sudah terobsesi dengan unas unas unas," kata Pak Gatot yang sering jadi teman diskusiku itu.

Bukankah nilai unas tidak lagi menjadi penentu kelulusan? Benar. Kini hampir tidak ada lagi murid yang tidak lulus di Kabupaten Sidoarjo. Yang tida diluluskan itu biasanya murid yang nakal luar biasa. Misalnya suka memaki-maki atau melempari gurunya. Atau berurusan dengan polisi karena mencuri dsb.

Tapi... fakta di lapangan menunjukkan betapa luar biasa sihir unas ini. Sebab hasil unas merupakan tiket untuk melanjutkan sekolah ke SMA favorit. Dan sekolahan Gatot sepertinya punya beban psikologis untuk mempertahankan prestasi sebagai pemasok murid terbanyak ke SMA-SMA favorit.

"Hasil unas itu jadi kebanggaan pihak sekolah," katanya.

Saya jadi ingat guyonan (serius) seorang bupati di Jawa Timur. Suatu ketika dia bertemu dengan teman sekolahnya yang sekarang jadi guru bahasa Inggris di sebuah SMA. Pak Bupati menceritakan betapa pintarnya sang teman yang jadi guru itu. Nilai ebtanasnya rata-rata 9 koma sekian.

"Kalau saya cerdas seperti dia ya saya tidak akan pernah jadi bupati," katanya.

1 comment:

  1. Sayang sekali. Orientasi pendidikan masih ke tes, tes, dan tes. Padahal orang-orang yang mengubah dunia ini bukan orang yang nilai tesnya tertinggi. Murid seharusnya diajarkan menjadi kritis dan kreatif. Kritis artinya selalu mempertanyakan status quo, mampu menganalisa situasi. Kreatif artinya bisa membuat sesuatu yang baru, baik dari awal ataupun memperbaiki yang sudah ada. Bermain olahraga, kesenian, dan musik itulah yang membantu murid-murid untuk menjadi kreatif dan kritis.

    ReplyDelete