14 May 2016

Tulisan Dahlan Iskan makin enak


Lead tulisan Dahlan Iskan hari ini, Sabtu 14 Mei 2016:

"Mi tarik Lanzhou. Saya selalu mencarinya. Di kota mana pun di Tiongkok. Pasti ada. Cocok untuk lidah Indonesia. Dan pasti halal."

Sangat menyenangkan membaca catatan Dahlan Iskan di Jawa Pos pagi ini. Cerita ringan perjalanan sang wartawan yang mantan menteri BUMN itu ke Tiongkok.

Beliau baru jalan-jalan ke USA dan sekarang mampir ke Zhongguo. Negara besar yang sangat dia kenal. 33 dari 34 provinsi di Tiongkok sudah ia jelajahi. Tinggal satu yang belum: Tibet. Di setiap tempat Pak DI selalu bisa menemukan sesuatu yang menarik untuk diceritakan.

Di internet atau majalah dan koran cerita tentang mi, kehidupan orang muslim suku Hui sudah sering ditulis. Tapi setiap kali membaca catatan DI, saya selalu menemukan sesuatu yang lain. Ada angle baru. Detail baru.

Misalnya umat muslim di Tiongkok ternyata 70 juta jiwa. Tiga kali lebih banyak ketimbang penduduk Malaysia. Muslim Tiongkok itu mazhab Hanafi. Salatnya harus cepat dikerjakan setelah dengar azan. Jamaah tidak menyuarakan "amiiiin" macam di Indonesia.

Dulu mereka naik haji sembunyi-sembunyi. Pura-pura ke Pakistan untuk dagang. Tapi diam-diam ke Makkah untuk berhaji. Suka pakai kopiah haji meskipun belum tentu haji.

Kok bisa wartawan-wartawan lain tidak membuat tulisan sebagus DI?

Itulah talenta. Yang diperoleh dari Tuhan. "Makanya saya hanya baca tulisan Pak DI di koran. Tulisan-tulisan lain ya sambil lalu saja," kata Pak Bambang Thelo almarhum, pelukis senior di Sidoarjo, beberapa tahun lalu.

Menemukan hal menarik. Angle yang pas. Kemudian cara bercerita. How to tell the story. Cerita sama, bahan sama, di tangan tukang cerita alias dalang yang berbeda akan jadi lain.

Itulah sebabnya Ki Anom dan Ki Mantheb sangat digandrungi di Jawa. Padahal ada ribuan dalang lain yang sepi tanggapan. Padahal ada buanyaaak dalang sekolahan bergelar sarjana seni atau doktor seni.

Dahlan Iskan memang rajanya jurnalisme bertutur. Ki dalang maestro sekelas Ki Narto Sabdo. Tulisan gaya staccato dengan kalimat-kalimat pendek sudah banyak ditiru wartawan muda dan tua di seluruh Indonesia. Tapi sebagus-bagusnya peniru ya tetap kalah sama aslinya. Lukisan repro, meski lebih bagus daripada lukisan asli, tetap saja lukisan palsu. Ndak ada harganya.

Tulisan-tulisan DI yang nabati, khas, diselipi humor menggelitik... inilah yang membuat koran tetap dibaca orang. Matur nuwun Pak DI! Selalu memberi inspirasi dan contoh nyata. Bukan cuma kasih teori-teori yang sudah banyak dibahas di buku-buku dan internet.

No comments:

Post a Comment