15 May 2016

Spirit lingkungan Boomerang 2016

Boomerang pernah sangat terkenal pada tahun 2000an awal. Saya masih ingat band jebolan festival rock ala Log Zhelebour ini pernah jadi buruan promotor musik di tanah air. Tiada hari tanpa show.

Personel Boomerang pun jadi super star. Khususnya Ivan gitaris dan Roy vokalis. Setiap melintas di ruang publik, mall, kampus, sekolah... Roy dan John Paul Ivan yang super gondrong itu jadi buruan anak-anak muda. Minta tanda tangan, foto bareng, atau cuma sekadar salaman.

Tapi itu dulu.... Popularitas band di Indonesia sangat cepat berlalu. Beda dengan band-band di barat yang tetap ngetop meski musisinya terus menua. Pemusik di barat kayak Jagger tetap saja diuber meski sudah 60 atau 70 tahun.

Boomerang masih ada? Begitu pertanyaan beberapa peminum kopi di warkop kawasan Sedari Sidoarjo.

Masih ada tapi tanpa Roy dan Ivan. Dua musisi yang selama ini jadi ikon Boomerang. Minggu lalu baru perkenalkan album baru di Sidoarjo. "Kok ndak muncul di TV ya?" kejar mas yang asli Sidoarjo ini.

Mungkin belum. Mungkin juga tidak. Wong TV sekarang ndak kasih tempat untuk band hard rock lawas kayak Boomerang. Siapa tahu nanti beberapa lagu Boomerang bisa muncul di TV nasional.

Begitulah. Boomerang baru saja bikin jumpa fans di Sidoarjo. Formasi Mei 2016: Andi Babas (vokal), Hubert Henry Limahelu (bass), Farid Martin (drum), dan Tommy Maranua (gitar). Album baru itu 3 to Rock. Boomerang kolaborasi dengan Grassrock dan D'Bandhits.

Boomerang menyumbang empat lagu. Rakyat Hutan. Berhala Modernisasi. Perahu Kertas. Cinta Pertama. Lagu terakhir ini daur ulang komposisi ciptaan almarhum Idris Sari.

Tiga band ini kolaborasi di lagu Kebebasan. Mudah-mudahan album ini memuaskan penggemar musik rock di Indonesia, kata Henry anggota senior yang memperkuat grup ini sejak awal.

Di usia yang senior, jam terbang panjang, Boomerang tak lagi bicara tentang cinta, pacaran, atau selingkuh. Henry dkk ingin lebih banyak menyampaikan kritik sosial lewat lagu. Salah satunya soal hutan yang selalu dibakar untuk kepentingan investor.

"Kami sempat mengadakan kegiatan bersama Greenpeace di Kalimantan Tengah saat kebakaran hutan tahun lalu. Dari situ muncul inspirasi untuk membuat lagu tentang konservasi hutan," ujar arek Surabaya keturunan Maluku ini.

Basis ini berharap album ini mampu memberikan kesadaran bagi rakyat Indonesia untuk menjaga lingkungan hidup. Syukur-syukuri laku di pasar.

No comments:

Post a Comment