19 May 2016

Selamat jalan Deddy Dores

Minggu lalu saya iseng-iseng mencari lagu-lagu Deddy Dores di Youtube. Buanyaaak banget. Jauh lebih banyak yang saya ketahui. Paling disuka warga internet tentulah lagu yang melejitkan nama Nike Ardila: Bintang Kehidupan.. Seberkas Cahaya Terang.

Ada lagu melankolis kang Deddy yang mengingatkan saya pada Larantuka, kota kecil di Flores Timur NTT. Album terbitan JK Records yang dulu diputar hampir setiap hari di rumah Pak Simon. Deddy Dores berduet dengan bintang JK macam Ria Angelina dan Lydia Natalia. Lagu sedih yang sangat digandrungi orang NTT.

"Aku masih milikmu
Di sini tertulis indah namamu...
Sebelum tidur pun
Kupanggil namamu...."

Ada lagi lagu melankolis tentang kepasrahan wanita yang ditinggal kekasih setelah dihamili. Lagu yang sering dinyanyikan Kanis temanku dengan penuh penghayatan. Seakan-akan dia wanita yang disia-siakan kekasihnya.

Ah... rupanya ini isyarat dari Deddy Dores. Mau pamitan ke dunia lain. Menemui sang Pencipta di usia 65 pada Selasa tengah malam.

Ketika TV masih satu biji, TVRI, kita tahu betapa dominannya kang Deddy Dores. Jago bikin lagu, menyanyi, main gitar dan kibor, hingga menemukan bibit-bibit artis. Lagu-lagunya cenderung mirip karena tren musik pop saat itu memang begitu.

"Kalau lagi musim mangga, masa kita jual rambutan," kata Obbie Messakh pencipta lagu yang juga hits maker era 80an dan 90an. Kebetulan Deddy Dores dan Obbie Messakh sama-sama dikontrak sebagai tukang bikin lagu di JK Records, label paling top saat itu.

Tiga kali saya sempat bertemu Deddy Dores. Orangnya asyik, halus, tidak mengeraskan suara. Beda dengan tampang gondrong ala rocker (aslinya Deddy Dores seniman rock) yang sangar. Bicaranya hemat, tidak meledak-ledak.

Saya bilang kagum dengan produktivitasnya menciptakan lagu. Deddy Dores sudah bikin ribuan lagu. Mungkin 3000 sampai 5000. Tidak semuanya ngetop tentu saja. Tapi jejaknya di industri rekaman bisa dilacak dengan mudah. Jelly Tobing drummer teman Deddy Dores di Superkids Band memperkirakan kang Deddy sudah bikin 150 album. Bisa masuk buku rekor dunia.

Menjawab pertanyaan saya di Tambaksari Surabaya, Deddy Dores mengatakan dia bisa menulis lagu kapan saja dan di mana saja. Juga genre apa saja. Begitu berada di studio, sering ia ditodong produser untuk bikin lagu.

Oke... Deddy Dores pun ambil gitar atau memijat kibor dan jadilah lagu pop. Tinggal disempurnakan syairnya. Sebuah calon lagu hit siap direkam. Biasanya dia menyesuaikan nada lagunya dengan suara calon artis. Kalau artis JK yang sulit menyanyikan nada-nada tinggi, dia bikinkan lagu yang demikian. Sebaliknya, penyanyi sekelas Nicky Astria akan dibuat lagu yang ambitus nadanya seluas mungkin.

Sebagai rocker, Deddy Dores terbiasa membawakan lagu-lagu bernada tinggi. Maka dia terpaksa membuat modulasi atau pindah nada ketika duet dengan penyanyi cewek. Semua lagu melankolis yang berduet dengan cewek cakep pasti ada overtone-nya. Dan ini yang memberi warna khas pada perjalanan Deddy Dores di industri musik pop kita.

"Bikin lagu-lagu pop dan menyanyi itu untuk cari uang. Kalau mau idealis ya kasetnya nggak laku," kata Deddy suatu ketika.

Karena prinsip ini, Deddy bolak balik diserang kritik pedas. Dianggap bunglon, penulis lagu cengeng, tidak punya prinsip dsb. Deddy sih tenang saja. Dia tetap larut di industri musik yang berputar keras sebelum 2000.

Hingga akhirnya tren musik berubah total. Band dan penyanyi baru tak lagi membutuhkan pencipta lagu hit ala Deddy Dores atau Obbie Messakh atau Ian Antono. Band-band remaja bikin lagu sendiri. Deddy Dores pun kelimpungan. Mengalami krisis ekonomi.

Tapi di dapur rekaman kang Deddy beroleh istri baru, Dagmar Clara penyanyi Twin Sister, yang kemudian digerakkan. Cari lagi istri baru dst. Usia jugalah yang akhirnya menghentikan petualangan sang maestro slow rock itu.

Deddy Dores meninggal akibat serangan jantung. "Kang Deddy tidak bisa berhenti merokok," kata Dagmar mantan istri.

Selamat jalan Deddy Dores!

No comments:

Post a Comment