14 May 2016

Maria Yohana Anastasia Veronica yang bukan Katolik

Nomen est omen!
Nama itu pertanda.

Pepatah lama ini cocok untuk warga NTT. Sebagian besar orang NTT (Flores Sumba Timor Alor Sabu Rote) memang menamai anaknya sesuai pakem penamaan turun temurun.

Nama orang NTT, khususnya Flores Timur, ada rumusnya. Tiap kabupaten atau unit suku punya pola sendiri. Sudah lama saya bahas ini di blog aku (eh blog saya). Tidak asal comot nama tokoh terkenal macam pemain bola Ronaldo atau Maradona. Di Flores Timur harus ada nama permandian (contoh Lambertus), nama kakek/nenek (Lusi), dan fam atau marga (Hurek).

Karena itu, nama orang Flores pasti beda dengan orang Sumba Timor Alor Sabu Rote dsb. Jika anda bilang punya kenalan bernama Lambertus Lusi Hurek kepada orang NTT, maka dia akan bilang pasti dari Flores.

Flores mana? "Flores Timur atau Lembata," kata teman anda yang asli Flores.

Kecamatan mana? Pasti Ileape. Sebab tidak mungkin ada orang Adonara punya fam Hurek. Begitu seterusnya sampai ke desa.

"Bapak Jeremia Pandango itu dari mana?" tanya seorang teman di Sidoarjo.

"Pasti dari Sumba. Dan pasti bukan Katolik. Beliau Protestan. Kecuali kalau pindah agama di Jawa," jawab saya.

Kok tahu agamanya?

"Pandango marga dari Sumba Timur. Tidak ada sejarahnya ada di antara marga itu yang Katolik. Mereka banyak yang jadi pejabat dan tokoh Gereja Kristen Protestan di NTT," saya menjelaskan.

Begitulah. Nama itu memberi identitas kepada pemiliknya. Ahmad Zaini jelas Islam. Muhammad Sholeh pengacara terkenal itu muslim santri yang saleh. I Wayan Sidharta asli Bali, Hindu, kecuali pindah agama.

Dua minggu terakhir ini saya bertemu lima wanita yang namanya dianggap orang Flores sebagai nama permandian Katolik. Santa alias orang kudus dalam tradisi kekatolikan. Ada yang namanya Maria Novita, Veronica Putri, Yohana Sari.

Begitu bertemu muka alias kopi darat... wah, semua wanita itu pakai hijab. Muslimah sejati. Bukan nasrani yang pindah agama. Orang NTT pasti terkejut atau tertawa dalam hati jika mengetahui Maria, Veronica dan Yohana yang bukan Katolik. Malah ada yang tidak mau berjabatan tangan dengan laki-laki. Hehehe...

Mengapa teman-teman muslimah itu menggunakan nama yang berbau nasrani? Mengapa tidak mencari nama yang khas islami? Saya cuma membatin. Juga tidak perlu mengorek hal-hal yang sifatnya SARA.

Apalah arti sebuah nama, kata pepatah lama. Bunga mawar dinamakan apa pun tetaplah menyebarkan aroma yang harum. Ribuan penghuni penjara di Porong, Medaeng, dan Sidoarjo pun menggunakan nama-nama suci. Bandar narkoba kelas kakap itu kerap menyampaikan kesaksian dan khotbah di gereja dalam penjara.

Pepatah lama NOMEN EST OMEN rupanya semakin tidak relevan di era globalisasi ini.

8 comments:

  1. Salam kenal bung Hurek.
    Huahahaha....,apa yg ditulis bung Hurek ini faktual sekali. Hal yg ditulis bung Hurek ini sdh lama menjadi perhatian saya soalnya saya sendiri bbrp kali bertemu dgn wanita2 muslimah berjilbab yg namanya berbau Nasrani spt cerita di atas. Entah gejala apa ini, kok ortu mereka yg nota bene muslim/muslimah memberi nama anak2 mereka dgn nama2 kristiani semacam Kristina, Kristiani, Maria, Angel, Lidya dll. Bahkan saya pernah ketemu dgn wanita berjilbab penjaga loket jln tol yg bernama Esther, nama pahlawan bangsa Israel di Alkitab, wkwkwk...Padahal setau saya muslim paling benci dgn kaum Yahudi. Ironis..


    ReplyDelete
  2. om hurek, kalo di kampung kami hampir gak bisa membedakan agama hanya dari namanya saja... mungkin karena saking membaurnya umat2 beragama di kampung kami sehingga tidak ada eksklusifitas...

    ada orang2 yg namanya Rapidin, Iskandar, Kasim, Idris, dll ternyata agamanya Kristen... bupati Samosir saat ini namanya RAPIDIN Simbolon... Islam? bukan, dia orang Katolik... mertua dari adiknya ibu saya namanya IDRIS, tapi dia orang Kristen, bahkan menjadi penatua gereja HKBP...

    begitu juga orang Batak Islam (tidak termasuk Mandailing yg sampai saat ini masih pro-kontra apakah termasuk Batak atau bukan) yg memang mereka tidak memakai nama berbau Eropa tapi mereka memakai nama asli Batak seperti Poltak, Dohar, Martua, Tunggul, Jarar, dll...

    apalagi membedakan orang Katolik dan Protestan hanya dari namanya saja, hampir mustahil... orang2 yg mengaku dari HKBP ternyata banyak yg namanya dari nama para orang kudus Katolik seperti Fransiskus, Robertus, Agustinus, Martinus, dll (mungkin ini pengaruh tradisi Lutheran dari Jerman), apalagi nama2 para Rasul yg ada di Alkitab tentu dipakai juga... saudara2 kakek saya namanya Bonifacius, Hermanus, Yuliana, tapi dari lahir mereka di HKBP...

    sedangkan orang Katolik di kampung saya pun banyak yg tidak menunjukkan nama baptis dan identitas mereka... kalo saya tidak melihat CV mereka, saya tidak tahu kalau Pande Raja Silalahi (RIP), Cornel Simbolon, Parlindungan Purba (anggota DPR), Mangadar Situmorang (rektor Unpar Bandung, adik kandung Uskup Padang Mgr Martinus Situmorang), Rosiana Silalahi, dll ternyata mereka orang Katolik...

    satu2nya cara membedakan adalah ketika berdoa, mereka mengawali dan mengakhirinya dgn tanda salib... om hurek rasanya juga pernah menulis seperti ini di postingan dahulu, hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdr Nababan, bisa menceritakan, mengapa Orang Batak berjaya di Tanah Jawa? Selain itu, apakah ada beda budaya yang besar antara Batak Islam dan Batak Kristen (baik Protestan maupun Katolik)? Terima kasih.

      Delete
    2. yg namanya berjaya itu susah diukur, kita kan gak tau parameternya apa...

      tapi menurut saya ada 2 kuncinya:

      1) PENDIDIKAN
      orang Batak sangat mengutamakan pendidikan, bapak ibu akan bekerja apapun dgn sungguh2 asal anak2 bisa sekolah...

      2) RELASI
      nah, di sini juga salah satu kekuatan orang Batak, bahwa mereka akan mudah menjalin relasi di perantauan... ketika merantau, yg pertama kali mereka cari adalah gereja HKBP... kemudian di situ mereka akan cari siapa yg masih punya hubungan keluarga atau marga... dan biasanya pasti akan ada yg menampung mereka selama di rantau... orang Batak merasa punya kewajiban untuk membantu saudara semarga atau yg masih ada hubungan saudara...

      mengenai beda antara Batak Islam (sekali lagi tidak termasuk Mandailing yg mayoritas Islam tapi masih jadi pro-kontra apakah termasuk Batak atau bukan) dgn yg Kristen atau lainnya, pasti ada perbedaaan tapi tidak terlalu jauh...

      pesta adat orang Islam, Parmalim (agama Sisingamangaraja XII), dan umat gereja Advent, pasti tidak menyertakan daging babi, karena itu haram bagi mereka... sementara pesta adat orang Protestan & Katolik selalu ada babi...

      kemudian ketika acara kematian, karena jenazah orang Islam harus langsung dikubur, maka pelaksanaan adat seperti pemberian kain ulos dan daging sembelihan dilaksanakan setelah jenazah dimakamkan... sementara jika yg meninggal itu orang Kristen, adat dilaksanakan sebelum dikubur...

      tapi secara umum, hampir tidak ada sekat antara Batak Kristen dan Batak yg beragama lain... jumlah Muslim Batak sangat kecil, tidak sampai 5%... saudara saya yg Muslim pun kebanyakan mualaf, baru masuk Islam setelah menikah... nah, seringkali yg mualaf ini jadi bahan gunjingan oleh orang2 Kristen lainnya... tapi seiring waktu hubungan persaudaraan kami pasti menjadi lebih baik...

      contoh orang Batak Islam (bukan Mandailing)
      - Letjen (Pur) Sudi Silalahi
      - Hasanuddin Sinaga (imam Masjid Istiqlal, Jakarta)
      - Maratua Simanjuntak (ustad & politisi di Medan)
      - Amri Tambunan (bupati Deli Serdang)
      - Taufan Gama Simatupang (bupati Asahan)
      - Jelly Tobing (musisi)

      ada juga yg mualaf seperti Lulu Tobing & Bella Saphira Simanjuntak..

      Delete
    3. Terima kasih atas penjelasannya yang sangat bagus dan menarik. Kriteria "berjaya" saya ialah dalam sejarah NKRI sampai sekarang, jumlah Orang Batak yang menjadi pemimpin seperti jenderal dan menteri itu secara disproporsional lebih tinggi dibandingkan jumlah warga negara keturunan Batak.

      Soal relasi, ini hampir sama dengan Tionghoa miskin dari daratan Cina yang datang ke Nusantara, lalu mencari relasi atau saudara yang satu kampung atau satu marga.

      Delete
  3. Terima kasih atas pengembangan topik ke Batak. Sangat menarik membaca uraian Nababan yg sedikit banyak kita sudah tahu sedikit2.

    Orang Batak protestan memang paling unik di Indonesia karena mereka punya HKBP. Sebuah gereja suku yg sangat mapan. Dulu waktu saya di Jember pun orang Batak yg kurang dari 100 orang buka HKBP sendiri. Caranya nebeng di GKJW. Padahal HKBP dan GKJW itu protestan yg identik. Awalnya saya heran bukan main kok bisa begitu? Ini bukan lagi soal teologi tapi masalah kebatakan yg sangat ketat.

    Di Surabaya juga ada gereja protestan khusus suku Toraja yg sangat khas bangunannya. Tapi tidak semasif HKBP. Guyonan kami orang NTT: di mana dua tiga orang batak berkumpul di situ ada HKBP.

    Itu sangat berbeda dengan orang Flores yg total hanya 5 jutaan tapi terpecah dalam banyak suku kecil meski sama2 katolik. Orang flores cepat sekali melebur dengan umat katolik atau masyarakat setempat. Biasanya generasi kedua dan ketiga sudah lupa bahwa dia punya darah NTT atau flores. Malah banyak orang flores di Jawa yg gak ngaku kalau orang tua atau kakek neneknya berasal dari flores.

    Kita perlu belajar dari Batak soal kebanggaan dan nasionalisme kebatakan ini. Oh ya... orang2 protestan di NTT yg juga satu aliran dengan HKBP tidak membuat gereja sendiri di Jawa Bali Sumatera Kalimantan dsb tanah rantau. Mereka biasanya melebur ke GPIB GKJW GKI dan gereja2 protestan lain yg punya piagam saling mengakui dan menerima. Karena itu, gereja GPIB di Jawa penuh dengan orang NTT. Begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menarik sekali, Pak Lambertus. Lama-lama GPIB ganti nama menjadi GPIT (T=Timur, bukan lagi Barat), hehehe.

      Delete
    2. komunalisme adalah ciri khas etnis Batak yg mungkin jarang dijumpai pada etnis lain...
      itulah makanya orang Batak suka sekali membuat perkumpulan, mulai dari perkumpulan marga hingga perkumpulan satu kampung... kemudian di perantauan mereka membentuk "parsahutaon", yaitu perkumpulan orang Batak di wilayah kompleks perumahan atau tingkat RT/RW... setiap bulan pasti ada arisan, dan mereka punya kewajiban untuk hadir setiap acara adat... karena adat Batak sangat kompleks, yg terlibat bukan hanya pengantin dan orangtuanya, tapi sampe ke perkumpulan marga mereka...

      kenapa bisa begitu??? yg saya tau, sebelum abad 19, bangsa Batak adalah bangsa yg terisolasi... hampir tidak ada kontak dgn dunia luar... makanya dulu ada isu jika orang Batak adalah bangsa kanibal, pemakan manusia...

      penginjil Protestan mulai masuk pada tahun 1850-an, penginjil Katolik kemudian masuk 70 tahun setelah itu... bandingkan dgn daerah2 lain seperti Flores misalnya, sejarah gereja di sana sudah lama...

      maka komunalisme di mana interaksi orang Batak hanya dgn sesama orang Batak di kampung halaman, masih tetap terbawa di perantauan...

      orang Batak Katolik yg ada di perantauan pun membentuk perkumpulan yg bernama "Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara" (IKKSU)... setiap tahun mereka merayakan misa inkulturasi yg dipimpin Uskup Agung Medan dan Uskup Sibolga... kemudian anak2 muda Batak Katolik juga membentuk perkumpulan "Naposobulung Batak Katolik" (NBK)...



      tapi mengenai GMIT om, setau saya, GMIT berada di bawah Gereja Protestan Indonesia (GPI), gereja peninggalan "Indische Kerk" yg dibentuk oleh koloni Belanda... GPI ini kemudian dibagi ke beberapa sinode berdasarkan wilayahnya, di Minahasa menjadi GMIM, di NTT menjadi GMIT, di Maluku menjadi GPM (Gereja Protestan Maluku), dan sebagainya... sesuai kesepakatan GPI, setiap sinode hanya boleh mendirikan gereja di wilayahnya masing2... itulah makanya GMIT hanya ada di NTT, GMIM hanya ada di Minahasa, dan GPM hanya ada di Maluku... jika orang NTT, Minahasa, dan Maluku ini merantau ke Surabaya, maka mereka akan bergabung ke GPIB, yg wilayahnya meliputi Sumatera, Jawa, Bali, NTB, dan Kalimantan...

      itulah makanya GPIB didominasi oleh orang2 Indonesia Timur, karena mereka berasal dari gereja2 yg berada di bawah GPI, sehingga ketika mereka merantau ke Pulau Jawa ya mereka bergabung dgn GPIB...

      Delete