14 May 2016

Mampir di Kelenteng Bangkalan

Sudah setengah tahun lebih saya tidak mampir ke Kelenteng Eng An Bio Bangkalan Madura. Kangen juga sama Tante Yuyun Kho biokong asal Salatiga. Tante ini sudah kayak keluarga sendiri. Beliau sering menghubungi saya untuk menyampaikan informasi tentang kegiatan kelenteng-kelenteng di Jawa Timur.

Maka siang tadi saya pun meluncur ke Bangkalan. Lewat Suramadu. Kondisi sekitar Jembatan Suramadu wilayah Madura sepertinya makin tidak terurus. Tidak lagi ramai. Banyak warung yang tutup. Termasuk dua warung milik ibu langganan saya.

"Susah sekarang. Pembeli sedikit," kata mbak penjual es degan di dekat jembatan.

Impian agar Pulau Madura, khususnya Bangkalan, makin bersinar berkat Suramadu sepertinya masih meleset. Padahal pemerintah pusat sudah menggratiskan sepeda motor. Tarif kendaraan roda empat ke atas pun diturunkan banyak. Mestinya wilayah kaki Suramadu makin ramai. Tapi nyatanya tidak.

Akhirnya tibalah saya di Eng An Bio, Jalan Panglima Sudirman. Wilayah pecinan Bangkalan. Bangunannya makin mengkilat habis dicat. Juga makin luas. Rupanya bangunan rumah di sebelahnya sudah dibeli yayasan. Untuk perluasan kelenteng.

Tante Yuyun nonton televisi setelah mengurusi tempat ibadah Tridarma itu. Ibu ini selalu bikin hiasan kertas untuk keperluan sembahyang. "Ndak ada acara khusus Waisak," ujar tante Yuyun seakan tahu pertanyaan yang belum keluar dari mulut saya.

Ada sembahyangan tapi rutin saja. Sebab Hari Waisak selalu jatuh pada bulan purnama. Nah, orang Tionghoa pun selalu mengadakan sembahyang pada tanggal 15 (purnama) dan tanggal 1 (bulan mati). "Di sini ndak ada persiapan khusus," katanya.

Tante Yuyun ditemani seorang ibu Tionghoa Bangkalan. Obrolan pun mengalir lancar. "Pak Mis sudah ndak ada (meninggal dunia)," ujar tante Yuyun.

Oh... Tuhan. Bapak asli Madura ini sudah bertahun-tahun kerja di kelenteng ini. Orangnya ramah, suka humor. Teman ngobrol saya untuk memperlancar bahasa Madura yang masih sepotong-sepotong. Semoga Allah memberikan tempat yang layak buat Pak Mis!

Tak ada isu serius yang kami bicarakan. Obrolan santai sembari mencicipi srikaya khas Madura. "Mahal sekarang. Sepuluh ribu cuma dapat tiga," kata bu Yuyun yang juga biasa membuat lukisan khas Tionghoa untuk kelenteng.

Bagaimana dengan kegiatan karaoke Mandarin? Senam aerobik mingguan? Kursus bahasa Mandarin? Tenis meja? Bu Yuyun cuma menggeleng dan tersenyum.

"Semua kegiatan itu mandeg. Sesekali sih ada tapi tidak rutin," katanya perlahan.

Selain kesibukan pengurus, menurut dia, warga Tionghoa Bangkalan (Madura umumnya) lebih suka mencari hiburan di Surabaya. Karaoke plus makan di restoran sekalian rekreasi. "Bangkalan ini makin menyatu dengan Surabaya sejak ada Suramadu. Itu juga yang membuat banyak kegiatan di sini ndak jalan," katanya.

Saya kemudian merebahkan badan di dekat meja pingpong. Tidur lumayan enak karena angin di aula tengah berembus kencang. Sampai sore. "Kalau ada acara kelenteng kamu pasti saya undang," ujar tante Yuyun.

No comments:

Post a Comment