13 May 2016

HP aku di dalam tas aku dibelikan teman aku

Kata AKU dan SAYA itu sinonim. Sama artinya. Tapi tidak (selalu) bisa ditukar-tukar begitu saja. Demikian penjelasan Pak Aldo, guru bahasa Indonesia saya di SMP Katolik San Dominggo Larantuka, NTT, dulu.

Pak Aldo ini hafal teori linguistik dan tata bahasa Indonesia versi Prof Dr Gorys Keraf. Buku tata bahasa, komposisi, sintaksis... karya Gorys Keraf yang asli Lembata itu selalu dibawa Pak Aldo, orang Adonara, ke sekolah.

"AKU hanya cocok untuk bicara dengan teman. Bicara dengan guru atau orang yang lebih tua pakailah SAYA," pesan guru yang dulu merangkap penyiar radio satu-satunya di Larantuka, RKPD Flotim (Flores Timur).

Masih soal AKU dan SAYA, menurut Pak Aldo alias Aloysius (orang yang nama permandiannya Aloysius di NTT sering disapa Aldo atau Alo atau Luis atau Luwi), ketika menjadi kata ganti empunya (posesif), SAYA tidak bisa diganti AKU. Kata AKU harus dijadikan -KU dan ditempel diakhir kata dasar atau bentukan.

Contoh: Rumah saya luas.
Salah: Rumah aku luas.
Benar: Rumahku luas.

Bukankah AKU sama dengan -KU dan SAYA? Mengapa tidak bisa ditukar untuk ajektiva posesif?

Pak Aldo kemudian menjelaskan panjang lebar konsep enklitis dan proklitis. Konsep yang terlalu rumit untuk kami pelajar SMP di Larantuka yang sebagian besar belum lancar berbahasa Indonesia. Kami lebih sering berbahasa Lamaholot, bahasa daerah yang dipakai di Adonara, Lembata, Solor, dan Flores Timur daratan. Kecuali Larantuka yang pakai bahasa Nagi alias Melayu Larantuka.

Pelajaran bahasa Indonesia tingkat SMP ini terngiang-ngiang di benakku (bukan benak aku) sampai sekarang. Selain karena Pak Aldo guru yang hebat, eks seminari yang pasti pintar, saya juga menemukan pelajaran serupa di buku karangan JS Badudu, empu bahasa Indonesia.

Karena itu, saya selalu merasa janggal ketika menonton televisi-televisi Jakarta. Khususnya program infotainment alias berita-berita pesohor. Boleh dikata, hampir semua artis atau selebritas (atau selebriti?) itu "melanggar" ajaran ajektiva posesif, enklitis proklitis.. yang dulu ditanamkan bapak guru kami di Flores Timur.

"Pemirsa, ini tas aku, nggak mahal kok. Di dalamnya ada HP aku, buku tabungan aku, bedak aku, dompet aku..," kata seorang penyanyi muda di Indosiar. "Oh ya, kalau di depan itu teman aku.."

Yang menarik, penggunaan AKU untuk ajektiva posesif itu juga dilakukan orang-orang yang usianya di atas 30 tahun. Bukan cuma di bawah 20 tahun yang tidak mengenal Gorys Keraf, JS Badudu, Anton Moeliono, Hasan Alwi, Harimurti Kridalaksana, atau Dendy Sugono... nama-nama besar yang berjasa menyebarluaskan tata bahasa baku bahasa Indonesia.

Ya, bahasa menunjukkan bangsa! Bahasa selalu berkembang sesuai dengan selera dan kebiasaan berbahasa masyarakatnya. Bisa saja ajaran lama tentang AKU dan saya versi 1980an dan 1990an sudah tidak cocok dengan era media sosial 2016 atau 2020. Kesalahan yang kaprah bisa menjadi kebenaran baru kalau mayoritas masyarakat menginginkan demikian?

Syukurlah, pekan lalu saya membaca tulisan Wisnubroto Bawono Kuntjoro, Karanganyar, Jawa Tengah di Kompas 10 Mei 2016. Judulnya TENTANG KATA AKU. Rupanya Pak Wisnubroto ini memiliki kegundahan yang sama dengan saya. Khususnya penggunaan AKU untuk ajektiva posesif.

Wisnubroto menulis: "Sekarang ada kecenderungan kuat anak muda menggunakan AKU untuk ajektiva posesif sepadan dengan MY dalam bahasa Inggris. My book menjadi buku aku. My house menjadi rumah aku. Menurut hemat saya, yang seperti ini tidak lazim. Bentuk yang berterima adalah bukuku dan rumahku. Dulu yang saya pelajari seperti itu."

Lain dulu, lain sekarang...

Terima kasih kepada teman-teman aku yang sudah membaca tulisan aku di blog aku ini!

4 comments:

  1. Itu bahasa gaul, bung.

    Dalam bahasa Inggris ada juga contoh-contoh salah, seperti penggunaan ain't untuk pengganti isn't, aren't, tanpa mengindahkan bentuk subject. Atau penggunaan double negative seperti dalam kalimat "I ain't got nothing", yang seharusnya cukup "I have nothing" atau "I got nothing".

    Atau menggunakan third party pronoun untuk menyebut diri sendiri, misalnya seorang bersama Kelly bilang "Kelly doesn't like to do that." untuk menunjukkan betapa spesialnya dia sampai harus menyebut namanya sendiri daripada bilang "I don't want to do that." Kasus ini mirip dengan contoh yang anda tulis, krn pembicara yg anda kutip tsb ingin menunjukkan betapa spesialnya dia dengan menggunakan "aku" secara penuh sebagai kata posessive pronoun.

    Makanya bung, yang gaul dikit napa?!

    ReplyDelete
  2. Hehehe matur nuwun atas komentar sampean. Begitulah kelemahan kami orang Flores. Orang kampung yang hanya bisa berbahasa daerah.. kemudian diajari guru SD dan SMP untuk berbahasa Indonesia baik dan benar tanpa menikmati bahasa gaul yang santai itu.

    Saya kira kasusnya sama dengan orang Indonesia yang bukan english speaking nation diajari bahasa Inggris oleh sesama orang Indonesia yang tidak pernah tinggal di USA Kanada Australia Inggris... Tahunya ya cuma rumus 16 tenses .. grammar .. tidak tahu bahasa gaul english. Makanya seorang eks TKI yang pernah jadi istri simpanan bule amrik bahasa inggrisnya jauh lebih lancar casciscus ketimbang guru2 bahasa inggris di sekolah formal.

    Umur aku (maaf.. umur saya) lebih banyak dihabiskan di Jawa. Tapi tata bahasa baku yang sudah diformat di otak saya sejak SD dan SMP di Flores tidak bisa hilang. Begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gua hanya becanda ama lu, Bernie. By the way, nama panggilan lu keren banget, persis kayak calon presiden yang berhaluan sosialis dari Partai Demokratik di Amrik, Bernie Sanders. Bernie for President ... Feel the Bern!

      Delete
  3. Mungkin dibenarkan, kalau berasumsi bahwa bahasa yang dipakai oleh si artis termasuk ragam bahasa gaul.

    Bagaimanapun, rasanya tidak ada alasan untuk mencurigai bahwa orang-orang seperti Pak Hurek ini, yang memiliki kegundahan mengenai penggunaan bahasa di era dewasa ini, adalah termasuk kelompok yang tak tahu perihal bahasa gaul.

    Di satu sisi saya sependapat dengan Bapak, namun, bukankah bahasa itu sendiri berintikan pada ketersampaian makna, di sisi lain? Ditambah pula bahwa bahasa itu tertumpu pada konsensus?

    Salam hangat, Pak.
    Sukses terus lahir dan batin. :)

    ReplyDelete