02 May 2016

Gereja Ortodoks Baru Rayakan Paskah

Pekan ini, Kamis 5 Mei 2016, umat Katolik (kristiani umumnya) merayakan hari kenaikan Yesus Kristus. Hari libur nasional yang jatuh setiap Kamis, 40 hari setelah Paskah.

Yang menarik, saudara-saudara kita yang tergabung dalam Gereja Ortodoks Indonesia baru saja merayakan Paskah kemarin. Jumat Agung tanggal 29 April 2016, Sabtu malam Paskah 30 April 2016. Begitulah informasi yang saya terima dari Gereja Ortodoks Indonesia dalam siaran persnya.

Kok perayaan pekan suci "terlambat" satu bulan? Atau, gereja-gereja lain di Indonesia "kecepatan" satu bulan? Padahal semua sama-sama mengimani Yesus Kristus yang wafat dan bangkit pada hari ketiga? Sama-sama mengucapkan Credo in Unum Deum?

Fr Boris Setiawan, imam Gereja Ortodoks Indonesia, mengatakan perbedaan ini tak hanya untuk pekan suci Paskah, tapi hari-hari besar lain seperti Natal dan Pentakosta. Ya otomatislah.. Pentakosta itu kan 50 hari setelah Paskah. Kalau hari Paskahnya beda, Pentakosta dan kenaikan pun jelas beda.

"Kami menggunakan kalender kuno Julian, 47 BC. Sedangkan sebagian umat Kristen lain mengikuti sistem kalender baru Gregorian tahun 1582," demikian pernyataan resmi Ortodoks Indonesia.

Gereja Ortodoks baru masuk ke Indonesia pada 1988 lewat Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro. Perlahan-lahan gereja yang berpusat di Rusia itu mendapat pengikut di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi Utara, Papua. Saat ini jemaatnya sekitar 3000 jiwa. Masih sedikit.

"Kristen Ortodoks merupakan salah satu kekristenan purba yang tumbuh di timur. Sehingga dikenal dengan sebutan Gereja Timur. Kami sangat teguh memegang tradisi kekristenan purba hingga masa kini," demikian pernyataan Gereja Ortodoks Indonesia dalam siaran pers Paskah 2016.

Di Indonesia, gereja ini justru berada di bawah naungan Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia. Padahal, tata ibadah (liturgi), dogmatika, dan berbagai elemen lain lebih dekat dengan Katolik.

Selamat Paskah untuk jemaat Gereja Ortodoks di Indonesia!

4 comments:

  1. Secara liturgi memang dekat dengan Katolik Roma. Secara tradisi juga dekat. Tetapi semangat pembaharuan jauh lebih maju di Gereja Katolik Roma. Contohnya Kalender Gregorian itu kan untuk menyesuaikan dengan akurasi hitungan menurut ilmu alam yang mutakhir. Mereka ngotot mempertahankan, jadinya ya kleru, hehehe.

    ReplyDelete
  2. Wow suwun atas pencerahannya.. Memang buanyak orang suka yg kuno klasik biar lebih asli dan autentik. Di semua agama seperti itu. Selalu ada pro kontra yg baru vs lama...

    Yang menarik buat saya adalah Rusia yg komunis justru jadi vatikannya gereja ortodoks.

    ReplyDelete
  3. Sebenarnya salah persepsi aja krn di Orthodoks tidak ada paus, karena justru inilah sumber utama perpecahan antara gereja Barat dan Timur sampai sekarang. Setiap Uskup di dalam Gereja Orthodoks punya wewenang yang sama. Patriarkh Rusia dianggap penting oleh media, karena Rusia negara yang paling besar di antara bangsa-bangsa penganut Orthodoks. Tetapi oleh jemaat Orthodoks dari etnis yang lain, hanya dianggap seiman saja. (Btw, Rusia bukan komunis lagi lho, sistemnya persis seperti Indonesia jaman Suharto).

    Misal di Amerika, gereja-gereja Orthodoks jalan sendiri-sendiri menurut etnisitas. Jemaat mereka tidak melebur; yang Armenia, Rusia, Yunani, Serbia, Ethiopia, dll. hanya mengakui patriarkh yang di negara asal, dan tidak peduli dengan patriarkh yang dari negara lain.

    Sedangkan Katolik melebur (seperti di Indonesia (Tionghoa, Flores, Jawa, Batak, Ambon, semua kumpul jadi satu), kebanyakan keturunan Irlandia, Italia, Polandia, Kroasia, dan Amerika Selatan terutama Mexico; yang dari Asia kebanyakan turunan Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan.

    ReplyDelete
  4. Yang kuno, klasik, asli, autentik, dll. itu belum tentu lebih baik. Gereja pun harus terbuka untuk semangat pembaharuan. Bukankah Kristus mati demi perjuangannya membaharui ajaran Yahudi yang pada saat itu terlalu menekankan syariat dan ritual, dan mengajak pengikutnya untuk lebih menekankan kepada ahlak dan cinta kasih? Itulah tema kehidupan Kristus yang dicatat oleh Injil-Injil. Jadi kita ga usah berlomba-lomba mengklaim diri sendiri paling murni, paling kuno, paling harafiah, misa harus Latin, dll.... mblenger. Marilah berlomba-lomba menyayangi sesama. Itu baru ajaran Kristus.

    ReplyDelete