30 April 2016

Roy Mukhlis Sangat Mengecewaan

Sudah lama tidak ada pertandingan tinju di Sidoarjo (dan Surabaya). Maka, ketika diumumkan akan diadakan kejuaraan tinju kelas ringan WPBF di Sidoarjo, teman-teman penggemar adu jotos sangat antusias. Laga Roy Mukhlis vs Allan Tanada dari Filipina diharapkan bisa menghidupkan kembali gairah pertinjuan di Sidoarjo yang mati suri.

Persiapan Roy Mukhlis pun selalu diikuti. Sparring dengan petinju-petinju Sasana Arhanud Gedangan dan Sasana Amphibi Marinir Gedangan. Latihan lari jauh di Kenjeran dan Trawas. Petinju berjuluk The Sniper Sumba itu pun sangat antusias. Optimisme besar selalu terucap.. dan selalu masuk koran. Headline besar-besar.

Saya pun mendalami lagi rekaman pertandingan Roy dan Tanada di Youtube. Tidak banyak tapi lumayan untuk mengetahui gaya kedua petinju yang sama-sama ortodoks. Siang hari menjelang pertandingan pun Roy dan teman-teman di Sidoarjo masih mengunggulkan Roy. "Insya Allah KO," kata seorang mantan petinju serius.

Yakin Roy menang? Allan Tanada itu mainnya cepat dan selalu menyerang, kata saya. "Roy menang jangkauan dan pengalaman. Dia sudah punya strategi untuk meredam si Filipina," begitu analisis bekas juara tinju nasional yang sekarang jadi debt collector.

Okelah, kita lihat saja di atas ring. Tiket pertandingan di GOR Sidoarjo itu paling murah Rp 100 ribu, tertinggi Rp 1 juta. Tiket kelas tengah Rp 500 ribu. Meskipun mahal (ukuran Sidoarjo), penonton cukup antusias datang ke gedung olahraga itu.

Ada juga pengerahan tentara untuk mendukung Hanif Brawijaya yang memperebutkan juara nasional KTI. Hanif dari Batalyon Arhanudse Gedangan memang sukses. Untung saja Rasmanudin dari Semarang tidak sampai KO meskipun berkali-kali diserang pukulan straight dan hook bertubi-tubi dari Hanif Brawijaya.

Laga puncak segera dimulai. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan penyanyi wanita gemuk dalam tempo lambat. Aneh, penyanyi profesional tidak tahu tempo Indonesia Raya yang mestinya ala marcia. Baru kali ini saya mendengar lagu Indonesia Raya dibawakan selambat itu di event internasional.

Suasana terasa kurang semangat. Roy Mukhlis pun terlihat kurang trengginas. Aktif menyerang tapi double cover-nya payah. Bukannya menjaga jarak renggang, hit and run.. Roy justru selalu main rapat. Jelas saja si Tanada bisa dengan mudah melancarkan pukulan-pukulan keras dan telak.

"Bisa tahan lima ronde saja sudah bagus," kata saya dalam hati.

Maklum, pelipis kiri Roy sudah robek sejak ronde 3 (kalau tidak salah ingat) sehingga wasit beberapa kali menghentikan pertarungan. Sebaliknya, Tanada terus menari dan tersenyum mencium aroma kemenangan dari Sidoarjo.

Ronde 7: Allan Tanada makin ganas. Sementara Roy kehilangan fokus. Ambruk! Tapi masih bangun untuk melanjutkan laga.

Ronde 8: Roy Mukhlis tamat. Serangan cepat dan beruntun Tanada membuat Roy jadi sansak hidup. Ambruk lagi. Kemudian bangkit tapi menyerah.

Sama sekali tidak terlihat aura petarung di wajah Roy Mukhlis. Apa nggak salah promotor mengangkat Roy ke WPBF? "Roy terlalu emosi. Dia mengikuti iramanya lawan," kata Tjutjuk Nurendah pelatih Roy Mukhlis.

Lha, kalau sudah tahu kelemahan Roy, mengapa sang pelatih tidak kasih instruksi? Ubah strategi, main renggang, pukul lari?

Nggak enak juga menanyakan hal-hal begini kepada pelatih yang petinjunya sedang terpuruk. Paling enak memang bicara dengan atlet atau pelatih yang menang. Orang kalah jangan dihajar lagi di media.

Di usia 29 tahun, rasanya sulit mengharapkan Roy Mukhlis bisa berjaya di tingkat dunia. Kalau teknik bertinjunya masih seperti saat melawan Allan Tanada di Sidoarjo pekan lalu.

1 comment:

  1. harusnya 29 bisa lah om, Mauricio Herrera udah lewat 35 masih bagus

    ReplyDelete