06 April 2016

Rizki tunanetra lulus S1 Unesa

"Anak berkebutuhan khusus bukanlah produk Tuhan yang gagal, karena Tuhan tidak pernah gagal."

Begitu kutipan favorit Riski Nurilawati. Gadis yang akrab disapa Kiki ini memang mengalami gangguan penglihatan sejak kecil. Namun kekurangan fisik ini tidak lantas menjadi penghalang untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

"Alhamdulillah, akhirnya kuliah saya selesai juga. IPK saya 3,09," ujar Riski Nurilawati kepada saya. Gadis buta ini kuliah di pendidikan luar biasa Unesa kampus Gedangan Sidoarjo.

Masa kuliah Riski juga normal, sekitar empat tahun. Anak ke-4 dari 4 bersaudara ini mengatakan seharusnya kuliahnya di Unesa bisa lebih cepat selesai jika dirinya tidak sibuk melakukan konser ke mana mana.

Asal tahu saja, Kiki merupakan penyanyi tunanetra yang hafal sekitar 500 lagu pop Mandarin. Karena itulah, sejak sekolah dasar dia selalu diajak untuk mengisi pertunjukan musik di berbagai kota di tanah air.

"Setiap dua minggu selalu ada job manggung. Belum job job dadakan yang sulit ditebak waktunya. Makanya, saya harus bisa membagi waktu agar kuliahku tidak terganggu," ucap vokalis Generasi Band itu.

Hebatnya lagi, Riski kuliah bersama mahasiswa normal di kelas. Model pendidikan inklusi ini justru membuat dia lebih berkembang karena harus bisa bersaing dengan teman temannya yang bisa membaca sendiri.

"Alhamdulillah, ada beberapa teman yang ikhlas membacakan materi kuliah," tutur gadis yang pernah mengadakan konser di Hongkong itu.

Kemajuan teknologi informasi terbukti sangat membantu orang orang berkebutuhan khusus seperti Riski. Ada software khusus yang membuat komputer bisa berbicara. Telepon genggamnya pun bisa berbicara. Ini yang membuat dia bisa berkomunikasi lewat ponsel, entah SMS, chatting, hingga eksis di media sosial.

Nah, Rizki ini dikaruniai memori yang luar biasa untuk mengingat apa saja yang sudah ia dengarkan. Bakat inilah yang membuat dia bisa menghafal ratusan lagu Mandarin dan lebih banyak lagu lagu-lagu Indonesia, Barat, dangdut, campursari, dan sebagainya.

Suatu ketika Rizki menulis di status medsosnya:

"Aku bisa membaca karena komputerku bisa bicara.... terus bisa SMS-an, karena HP juga bisa ngomong... Bisa ngomong di sini karena ada aplikasi khusus yang di-install sehingga HP dan komputer/laptop bisa digunakan oleh tunanetra seperti aku. Terus kalau menulis, aku bisa ketik 10 jari, karena aku di sekolah dulu diajarin mengetik pake mesin ketik... gitu ceritanya."

Meski tunanetra, Riski tidak minder atau rendah diri. Dia justru merasa lebih termotivasi untuk menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus pun bisa berhasil dalam pendidikan dan karir kalau diberi kesempatan.

4 comments:

  1. Tuhan tidak pernah gagal? Tergantung bgmn pemahaman seseorang tentang Tuhan. Memang dalam agama2 Ibrahimi Tuhan tidak pernah gagal. Dia maha kuasa dan absolut harus dituruti, kalau tidak, mampuslah manusia yang berani2 menyimpang dikit aja. Kelainan fisik dan penyakit pada zaman dulu kala dianggap aib karena akibat dosa. Dalam agama polytheis seperti Hindu atau Agama Romawi kuno atau Yunani kuno, dewa-dewa, bahkan yang tertinggi pun bisa gagal. Bagi kita yang paham bgmn alam bekerja menurut hukum statistika dan probabilitas, "kegagalan" itu biasa, sudah menurut aturan mainnya. Dari yang makro seperti bencana alam, sampai yang mikro seperti mutasi DNA, ya itulah sifatnya alam semesta. Kegagalan itu selalu terjadi ... Suatu kekuatan kreatif (Tuhan kah?) telah menjadikan dunia ini melalui proses bermiliar-milyar tahun, penuh dengan aturan-aturan yang baru duaratus tahun terakhir kita pahami sedikit demi sedikit. Manusia ialah bagian integral dari proses penciptaan dan penghancuran yang tak henti hentinya, entah hingga kapan. Ternyata penjelasan Hinduistik lebih cocok dengan ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... iki pemikiran teologi tingkat tinggi dari orang yg rajin baca dan suka berpikir di alam demokrasi. Sangat menarik.

      Di Indonesia sangat sempit, hampir tidak ruang, untuk olah pikir macam ini. Matur nuwun atas komentar wong Amrik.

      Delete
    2. Teologi opo telo-logi, cak :)? Hanya buku-buku yang ditulis untuk umum saja. Untuk agama, saya dulu membaca karya-karya alm. Marcus Borg, bekas pastor John Dominic Crossan, dan jurnalis Garry Wills. Mereka ini orang-orang yang sangat kritis akan institusi keagamaan.

      Sedangkan untuk ilmu sains, krn dulu jurusannya teknik, kan harus belajar fisika modern. Juga di dalam ilmu kimia diajarkan tentang entropy. Saya juga baca sedikit tentang teori evolusi dan mekanisme mutasi melalui DNA. Semuanya tersedia di internet yang mahaluas ini.

      Tentunya juga dengan bertukar pikiran dengan teman-teman dari bangsa dan tradisi keagamaan yang lain.

      Sedia atau tidak untuk membuka pikiran, yang terkadang dibatasi oleh sekat-sekat semu ideologi atau agama?

      Delete
  2. Itulah bedanya pemikir bebas di negara bebas. Di indonesia bisa diangggap meragukan kesempurnaan Tuhan. Mahasempurna. Dan maha2 lain. Bisa dianggap menyebarkan paham komunis atheis.
    Orang2 teknik.. eksakta.. di USA dan di indonesia sangat beda Cak. Di sini sains murni pun sering diagamakan dengan dalil2 teologi.. dogmatis dsb. Maka ada kecenderungan mahasiswa2 teknik atau sains di indonesia jauh lebih fanatik ketimbang teman2 IAIN atau santri2 NU...

    Dulu teman kuliahku yg paling akrab itu justru santri2. Salah satunya cak Sarip hampir tiap hari shalat dan tidur di kamarku. Sebaliknya saya pun sering diajak mampir ke pondok pesantren.. ngobrol sama santri2 yg jumlahnya sangat banyak. Begitu.

    ReplyDelete