29 April 2016

Perpustakaan untuk main internet

Capek nggowes, mampirlah aku di warkop sederhana di Desa Tambakoso paling ujung. Dekat Desa Segorotambak Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Syukurlah ada koran Jawa Pos di warkop milik mbak Siti asal Bungurasih.

"Saya baru satu tahun di sini. Kampung baru," katanya ramah. Orang seperti ini bagus diajak ngobrol untuk dapat informasi menarik dari kawasan Sidoarjo utara-timur itu.

Secara umum berita-berita hari ini tidak menarik. Cuma running atau lanjutan berita kemarin. Yang menarik justru surat pembaca. Indra warga Genteng komplain karena koneksi internet di perpustakaan Balai Pemuda Surabaya sangat buruk. Ndak nyambung-nyambung.

Kelihatannya Indra marah. Sebab setiap hari dia mampir ke perpustakaan yang dulu bioskop terkenal langgananku itu. Dia pun mendesak pemkot agar memperbaiki jaringan internet di perpustakaan.

Hehehe.... Aku tertawa sendiri. Mbak yang dari Bungurasih itu kaget. Kok ada pembeli kopi pahit ketawa sendiri kayak pasien Menur.

Ya.. buatku si Indra itu lucu buanget. Rajin ke perpustakaan bukan untuk membaca atau pinjam buku tapi internetan. Kalau memang niat membaca buku, ndak usah ribut soal koneksi internet yang lemot. Toh di Surabaya ini banyak sekali warnet.

PWarkop-warkop yang punya fasilitas wi-fi pun buanyaaak. Kalau mau main internet gratis 24 jam pun bisa di taman-taman yang sudah dibuat bu Risma. Mengapa harus di perpustakaan? Memang ada e-book tapi sejatinya perpustakaan umum di Indonesia itu masih fokus di buku cetakan biasa.

Saya kira Indra tidak sendiri. Di beberapa perpustakaan umum di Sidoarjo pun aku sering melihat pengunjung yang lebih asyik main laptop atau HP ketimbang membaca buku. Dan ini makin memperlihatkan betapa selera membaca buku cetak semakin tergerus di era internet ini.

1 comment:

  1. Pada jaman modern ini, belajar atau riset pustaka perlu koneksi internet yang bagus. Kalau di negara maju, di perpus ada akses untuk database riset macam Lexis Nexis, dan lain-lain search engine yang khusus untuk ekonomi, jurnal keilmuan, dll. Jadi perpus itu tidak lagi berfungsi sebagai tempat baca buku, tetapi juga akses umum untuk database-database mahal yang tidak terjangkau kocek orang biasa. Untuk Surabaya yang merupakan kota terbesar ke-6 (setelah JakPus, JakSel, JakTim, JakUt dan JakBar), harus punya itu.

    ReplyDelete