21 April 2016

Makin sulit membaca buku

Satu minggu satu buku. Begitu tekad saya bulan lalu. Saya ingin mengembalikan kebiasaan membaca buku (sampai tamat) yang sudah lama hilang. Sejak ada laptop dan smartphone yang bisa dibawa ke mana2. Sejak lebih asyik mengikuti trending topic di media sosial.

Maka saya sengaja pilih dua buku bagus: Mao - Kisah-Kisah yang Tak Diketahui dan Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado. Penulis ini, Remy, idola saya. Dia ahli musik, bahasa, poliglot, hingga teoloh yang sangat menguasai sejarah gereja. Semua buku atau artikelnya selalu disusupi demo kepiawaiannya memelototi akar kata dan etimologi.

Minggu pertama baca novel Malaikat Lereng Tidar. Awalnya asyik tapi lama2 kelelahan. Kemudian harus ngantor. Sempat melanjutkan membaca kemudian ditinggal. Lalu lupa komitmen awal untuk membaca sampai halaman terakhir.

Saya pun geli sendiri. Kok begitu susahnya menyelesaikan buku bagus hari ini? Dulu, empat lima tahun lalu, novel2 Remy Sylado selalu tuntas dibaca paling lama tiga hari. Sekarang malah tidak selesai. Hanya kuat 20 persen!

Minggu berikut saya coba membaca Mao pemimpin besar Tiongkok. Tebal banget, 823 halaman. Belum termasuk daftar referensi yang tebalnya sama dengan buku karya penulis Indonesia. Tapi saya bertekad membaca sampai selesai karena sejak dulu saya tertarik dengan buku2 sejarah dan budaya Tiongkok.

Kisah Mao Zedong ini luar biasa menarik. Wow, tokoh komunis ini ternyata sangat doyan membaca. Kutu buku. Sejak remaja beliau kecanduan baca koran. "Mao kecanduan membaca koran yang berlangsung seumur hidup," tulis Jung Chan sang penulis.

Karena kecanduan koran dan buku, Mao akhirnya otomatis jadi rajin menulis. Mirip kita punya Bung Karno. Betapa bedanya dengan politisi sekarang yang malas membaca buku. Dan tidak berlangganan surat kabar. Politisi Indonesia sekarang lebih suka main game dan HP. Bahkan nonton film porno saat sidang hehe...

Belajar dong sama Mao Zedong dan Bung Karno! Jangan cuma maki2 Tiongkok sebagai komunis bin kafir!

Meskipun sangat tebal, syukurlah, saya sudah selesaikan lebih dari 50 persen. Minggu depan harus tamat. Yakin? Tidak juga. Tapi saya mencoba berusaha sekuat kemampuan.

Mengapa kemampuan membaca bukuku turun drastis? Internet. Media sosial. Dan itu semakin parah gara2 ada HP cerdas yang memungkinkan kita bisa mengakses internet dengan sangat mudah. Beda dengan internet di PC atau laptop.

Diam2 saya perhatikan karyawan perusahaan media cetak. Koran2 menumpuk di kantor. Majalah juga tersedia. Buku2 pun buanyak di pojok taman baca. Berapakah orang yang membaca buku dan media cetak itu?

Kebetulan saat survei amatiran itu tidak ada. Mereka justru sibuk dengan HP masing2. Pun tak ada diskusi atau obrolan yang serius. Inikah senjakala buku dan media cetak? Semoga tidak. Kasihan para wartawan dan keluarganya yang masih menggantungkan hidup pada printed media.

Tapi setidaknya apa yang saya alami ini memberi pesan kuat akan peradaban baru yang sedang kita rayakan. Saya yang penggemar buku, media cetak, saja sangat sulit membaca buku sampai selesai. Apalagi generasi Z yang begitu lahir sudah main smartphone dan tidak dibiasakan membaca buku, koran, atau majalah.

1 comment:

  1. Profesimu sbg redaktur media cetak terancam punah. Harus pandai bermain dan mempublikasikan di medsos juga

    ReplyDelete