18 April 2016

Ikhlas melepaskan buku koleksi

Buku-buku lama itu harus dibongkar. Harus keluar. Sebab rumah tua eks galeri lukisan itu sudah resmi berganti pemilik.

Sang pemilik, Ibu Yati, telah kembali ke pangkuan sang Pencipta pada 30 Agustus 2013. Sehari setelah coblosan pilgub yang dimenangi Pakde Karwo. Sang pelukis senior 80an tahun itu berpesan agar rumahnya yang artistik, luas, ada kebunnya diserahkan ke yayasan muslim. Untuk dijadikan rumah yatim piatu, pengajian, dakwah dsb.

"Rek... tolong ikut ngurusin wakafnya," pesan Eyang berkali-kali. "Biar saya tenang di sana..."

Dua hari sebelum tutup usia pun Eyang masih menitipkan pesan yang sama. Belakangan saya tahu pesan yang sama disampaikan kepada orang lain seperti mas Yanto pelukis dan bung Riyaman pelukis. Juga kepada para ahli waris, khususnya keponakan-keponakan-keponakan.

Mengurus wakaf itu ternyata tidak gampang. Apalagi almarhumah tidak punya anak kandung. Pihak masjid sangat hati-hati meskipun bakal dapat tanah dan bangunan gratis. Nilainya saya taksir Rp 1,5 miliar hingga 2 miliar. Lokasi sangat strategis di tengah Kota Surabaya.
"Bukan apa-apa, kita khawatir ada masalah di kemudian hari," kata cak Kolis dari masjid terkenal.

Alhamdulillah, urusan wakaf akhirnya tuntas. Setelah dua tahun lebih.... Rumah harus segera dikosongkan. Pihak masjid segera menempati, renovasi dsb.

Yang jadi beban di pikiranku cuma buku buku buku dan buku... Begitu banyak buku di perpustakaan mini itu. Di ruang atas, kamar bawah, garasi, ruang tamu eyang di belakang. Pelajaran moral: Jangan jadi kolektor buku jika tak punya rumah sebesar punya eyang: 30 x 15 meter.

Sebetulnya sudah ada beberapa tawaran dari pengepul alias tukang rombeng. Semua buku mau dibeli. Tapi dengan harga super murah. Saya pun menolak keras. Mana ada buku Di Bawah Bendera Revolusi Rp 5000? Surabaya City of Work Rp 5000? Gila! Tau kucing!

Tapi saya sadar bahwa para pengepul itu tidak paham isi buku. Mereka hanya melihat buku sebagai kumpulan kertas yang dijilid. Sama dengan koran-koran bekas yang dijadikan bungkus kacang.

Setelah bergumul pikir cukup lama, sebulan lebih, akhirnya saya memutuskan untuk wakaf buku. Mengapa eyang mau mewakafkan rumahnya, sementara saya kok nggandholi buku-bukuku. Padahal sebagian besar buku itu sudah tidak dibaca. Sebagian besar waktuku untuk bekerja dan membaca di internet.

Singkat cerita, saya memilih 4 perpustakaan yang saya nilai amanah dan sangat getol menggalakkan budaya baca di Surabaya dan Sidoarjo. Agar buku-buku koleksiku itu ada manfaatnya. Tidak jadi penganan tukang rombeng.

Pertama C2O Library milik Kathleen di Jl Cokroaminoto Surabaya. Perpustakaan ini saya nilai luar biasa kreatif. Pengunjung dan anggota C2O bisa dipastikan maniak buku... meski di era digital.

Kedua perpustakaan milik mas Astika di Waru Sidoarjo. Perpustakaan baru yang segmennya santri-santri, madrasah milik NU dan sejenisnya. Asoka sangat rajin membawa buku-buku koleksinya ke sekolah-sekolah di Sidoarjo, khususnya Kecamatan Waru dan Sedati.

Ketiga perpustakaan milik mas Yanto di Buduran Sidoarjo. Mas Yanto ini tukang kunci tapi sangat aktif dalam gerakan literasi di Sidoarjo.

Keempat, paling banyak, perpustakaan milik PMKRI Surabaya di samping Hotel Garden Palace. Bukan apa-apa. Saya alumnus PMKRI sehingga banyak buku-buku saya, khususnya yang lama-lama, sedikit banyak bernuansa PMKRI. Ada 4 pilar PMKRI alias mahasiswa Katolik, yakni katolisitas, intelektualitas, persaudaraan sejati, humaniora.

Maka buku-buku yang berbau Katolik atau kristiani jadi santapan PMKRI Surabaya. Bung Yeri, ketua PMKRI yang asli Manggarai Flores itu, memimpin acara boyong buku ke margasiswa PMKRI di dekat Garden Palace. Saya baru tahu kalau pengurus-pengurus-pengurus PMKRI Surabaya sekarang sebagian besar orang Manggarai. Kok tidak ada Flores Timur dan Lembata?

Melihat antusiasme adik-adik PMKRI yang lapar buku, saya merasa sangat senang. Buku-Buku-buku Freire, Gramsci, teologi pembebasan, kisruh teologi sukses, dogmatika, sejarah gereja, hingga buku-buku Romo Mangun dan Romo Sindhunata pun jadi rebutan intelektual muda katolik ini. "Jangan dipinjam dulu. Tunggu diinventarisasi dan distempel dulu," kata seorang nona PMKRI yang juga asli Manggarai Flores.

Begitulah. Tidak mudah melepaskan buku-buku yang dulu kita beli dengan harga mahal. Belum tentu masih ada di toko buku sekarang. Tapi menyimpan buku-buku terlalu banyak juga bisa dianggap kelainan jiwa alias hoarding. Seperti penyakit orang-orang tua yang suka menyimpan barang-barang lama yang sebetulnya tidak pernah dipakai lagi.

Saya pun belajar banyak dari beberapa profesor hebat yang pernah saya ajak ngobrol. Mereka punya koleksi puluhan ribu buku. Jauh lebih banyak ketimbang koleksi saya. Setelah sang profesor tutup usia, buku-buku itu jadi berantakan. Rusak. Sebab anak cucunya bukan kutu buku.

Akhirnya, saya sering menemukan buku-buku bagus milik profesor terkenal bergelimpangan di lapak-lapak buku bekas. Korban para tukang rombeng tadi.

3 comments:

  1. Setiap beberapa tahun sekali, buku buku yang sudah lama tidak saya baca lagi saya sumbangkan ke perpustakaan lokal. Oleh perpus lokal, tiap 6 bulan sekali dilakukan pasar murah buku agar penduduk kota bisa membeli buku bekas dengan harga murah ($1-5 saja per buku). Lebih baik jika kita bisa melepas buku-buku lama dengan ikhlas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas... saya agak terlambat sadar bahwa tidak bagus menyimpan terlalu buanyak buku yg tidak dibaca lagi. Setelah ada mbah Google dkk, kebutuhan untuk memenuhi kamar dengan buku semakin tidak ada lagi. Sebab internet sejatinya perpustakaan raksasa yg punya miliaran buku..

      Delete
  2. Sebaiknya memang dihibahkan ke perpustakaan atau mahasiswa buat bahan kuliah..

    ReplyDelete