29 April 2016

Gununganyar dan Tambakoso yang berubah

Pagi ini saya nggowes ke Gununganyar Surabaya. Kemudian nyambung ke Tambakoso Waru Sidoarjo. Wilayah timur Surabaya-Surabaya-Sidoarjo. Sangat dekat Bandara Internasional Juanda.

Suasana di kampung Gununganyar masih khas perdesaan. Tak beda jauh dengan luar Jawa, khususnya Flores dan Lembata di NTT. Banyak sekali pohon bidara. Orang Flores Timur biasa sebuah kaha (bahasa Lamaholot). Bidara alias kaha boleh dikata identik dengan NTT pesisir yang payau atau asin.

Bidara juga pertanda tanah itu sulit diolah untuk tanaman padi, jagung, atau ubi-ubi-ubian. Tapi di Surabaya ini ada tanaman jagung yang subur. Pohon-pohon penghijauan pun mulai besar. Ini berkat kegigihan Bu Risma mengerahkan pasukan pemkot untuk merawat dan menyiram tanaman peneduh setiap hari.

Cukup luas tanah kosong ala desa di Kota Surabaya. Tapi sampai kapan bisa bertahan? Saya pastikan tak sampai lima tahun bakal berubah total. Sebab tanah-tanah itu sudah dikapling pengembang. GMS paling banyak tanahnya. Mendekati perbatasan Surabaya-Sidoarjo, ratusan hektare tanah tambak sudah jadi milik Sipoa.

Luar biasa cepat pembangunan apartemen dan belasan perumahan di Surabaya selatan-timur alias Sidoarjo utara-timur itu. Suasananya benar-benar beda dengan satu tahun lalu. Jalan desa yang dulu banyak lubangnya, paling jelek di Sidoarjo, kini halus mulus. Khas jalan di daerah perumahan kelas menengah atas.

"Mungkin akhir tahun ini sudah mulai ditempati," kata Anwar asli Tambakoso.

Jika apartemen rampung, perumahan-perumahan elite jadi, kampung Tambakoso bakal berubah total 180 derajat. Tambakoso jadi kota apartemen yang bergandengan langsung dengan Surabaya. Penduduk asli sudah pasti jadi minoritas di kampung asalnya sendiri.

Geliat apartemen membuat harga tanah naik gila-gilaan. Bu Ana pemilik warung lidah di Tambakoso bisa senyam senyum karena harga tanahnya naik lima kali lipat. Disandingkan saat dia beli enam tahun lalu. "Alhamdulillah," katanya lalu tersenyum.

Bu Ana yang bukan asli Tambakoso sangat sadar tidak mungkin bisa bertahan lama di dekat apartemen. Cepat atau lambat mereka akan tergusur. Maka dia pun sudah membeli tanah dan rumah di daerah Sedati. Masih banyak sisa buat modal usahanya.

Warga pendatang macam bu Ana bisa minggat sewaktu-sewaktu kalah mau. Bagaimana dengan penduduk asli? Pindah juga ke tempat lain? Saat ini sih belum. Tapi bukan tidak mungkin penduduk desa yang terkenal dengan tokoh Sarip Tambakoso itu bakal hijrah juga kalau struktur ekonomi dan populasinya berubah.

Mudah-mudahan perumahan-perumahan yang baru dibangun di kampung tambak ini tidak kebanjiran di musim hujan. Semoga Pemkot Surabaya dan Pemkab Sidoarjo sudah melakukan analisis dampak lingkungan dengan benar.

No comments:

Post a Comment